Pages

12/31/2014

#16. Kau

Lembab. Langit baru saja selesai menumpahkan airnya. Aku menarik nafas berat, ini benar-benar berat. Hujan selalu berhasil mengingatkanku padamu. Kau yang selalu menyukai hujan dan aku yang sangat membencinya. Tapi berkatmu, aku bisa melalui setengah tahun musim hujan dengan senyum dan tawa setiap hari. Karena kau selalu bersamaku, menemani kemanapun dan apapun kekacauan yang kulakukan. Kepergianmu tahun lalu sungguh sebuah kejutan menakjubkan, tepat di hari ulang tahunku. Kupikir telepon pertama yang kuterima pagi itu adalah darimu, memang disana tertulis namamu "Vitamin Kebahagiaan" yang kau tulis sendiri di ponselku. Tapi yang berbicara bukan kau, tapi orang yang membawamu ke rumah sakit. Aku shock ketika mendengar kabar kecelakaan itu. Lututku gemetar, tubuhku lemas. Orang itu berkata lenganmu luka, kakimu patah, dan darah terus mengalir dari kepalamu. Dan kau pergi sebelum aku melihatmu dalam keadaan bernyawa untuk terakhir kalinya. Tega sekali kau meninggalkanku.

Hujan yang turun tadi mengingatkanku saat pertama kita bertemu. Waktu itu aku sedang berjualan terompet, memanfaatkan momen tahun baru untuk menambah uang saku. Penjual terompet lainnya memaksaku pergi dari tempatku berjualan, karena dianggap mengambil rejeki mereka. Aku bersiap pergi dan kau muncul tiba-tiba menghentikan mereka. Tanpa pikir panjang memborong jualan mereka, semua laku, habis. Saat aku bertanya kenapa kau melakukannya, kau berkata, "Itu rejeki mereka, dan kau membutuhkan bantuan," tersenyum menepuk pundakku.
"Lalu akan kau apakan terompet sebanyak ini?" tanyaku.
Lagi-lagi kau tersenyum, menelepon sebentar lalu mengangkut semua terompetku ke dalam bagasi mobil tanpa persetujuanku.
"Jangan cemas, aku tidak akan melukaimu," katamu ketika melihat wajah tegangku selama perjalanan.

Tak berapa lama kita tiba disebuah tempat yang tidak pernah terlintas dibenakku akan dikunjungi orang sepertimu, panti asuhan. Begitu mobil memasuki pagar, belasan anak-anak keluar dari rumah mungil itu, menghampiri dan mencium tangan kita berdua. Kau mengeluarkan terompet itu dan membuat mereka semua bersorak. Kau memperkenalkan aku sebagai temanmu yang pandai membuat terompet, padahal kau belum tahu namaku.

Aku heran, sekaligus senang dengan hal spontan yang kau lakukan saat itu. Kita mengajari anak-anak panti cara membuat terompet, mereka hormat dan menghargai kita, mereka lucu, dan rasanya seperti kita sudah kenal bertahun-tahun. Setelah semua anak-anak tidur, kau menjelaskan tanpa kutanya. Kau berasal dari panti itu, yatim piatu. Setelah jatuh bangun berkali-kali akhirnya usahamu sukses, kau satu-satunya penyumbang panti yang perhatian dan selalu memastikan anak-anak tak kekurangan apapun.

Saat aku mengamatimu bercerita, aku baru sadar kau memancarkan aura kebijakan, kedewasaan, yang jarang kulihat pada orang-orang seumuran kita. Kau santun, tampan, dan kaya. Mengapa memilih berteman denganku yang kurus, hitam, dan pendiam? Kau selalu tertawa jika aku menanyakan itu dan mengatakan ketampananku hilang jika aku mengatakannya. Kau benar-benar aneh.

Setelah malam itu, kita rutin bertemu dan kita menjadi akrab. Kita menjalani hidup kita masing-masing tanpa ada perselisihan yang membuat pertemanan ini canggung. Kau selalu mengalah. Bahkan ketika kau menyukai seseorang. Demi menemaniku bermain bola, kau mengabaikan janji nonton bersamanya. Kau memang bodoh kawan. Kau tahu, dia memarahiku hari itu, rencananya gagal karena aku. Tapi lagi-lagi kau berkata tidak apa-apa. Bisakah kau marah sekali saja?

Sekarang hingga akhir hayatmu, kau belum pernah memarahiku. Kau tidak pernah mengeluh, membentak, atau menyalahkanku. Apa yang bisa kukenang sekarang? Ketika kita bermain hujan? Ya, waktu itu kita terjebak macet, hujan terus tumpah, dan air semakin meninggi, banjir. Kita bertaruh siapa yang bisa berlari hingga lampu merah dan kembali ke mobil dalam keadaan basah. Kau benar-benar gila karena membuat aku melakukannya!

Setahun sudah kepergianmu, aku tidak dapat berkata apa-apa. Semoga kau bahagia di sana. Jangan khawatirkan anak-anak, mereka sehat dan sudah besar sekarang. Kemarin mereka tidak hanya membuat terompet, tapi juga bunga kertas yang mereka jual dan hasilnya untuk membelikan bunga besar ini. Wangi semerbak yang kau cium berasal dari bunga-bunga ini, dari cinta tulus anak-anak untukmu, dari teman payah sepertiku. Iya, aku minta maaf. Aku telah mengatakan pada anak-anak dan ibu di panti bahwa kau telah pergi ke tempat yang lebih baik. Aku tidak bisa menahannya lagi, mereka terus bertanya dan kupikir ini saat yang tepat agar mereka mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Mereka sudah besar kawan, cepat atau lambat mereka akan tahu. Tapi yang bisa kupastikan mereka akan menjadi orang-orang yang sehebat bahkan lebih hebat darimu.

Akhir tahun ini masih hujan. Tentu saja sering macet, banjir, melelahkan. Tapi kau tahu, kini aku menikmatinya..

12/16/2014

#15. Sebuah Cerita

Ini tentang sebuah pilihan. Bukan, bukan sebuah. Pilihan selalu lebih dari satu, jika tidak kita tidak perlu memilih. Ada yang pernah berkata kalau hidup itu adalah sebuah pilihan. Hidup atau mati, jika kamu pilih untuk hidup maka jalanilah dengan hati mantap.

Terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, sungguh itu benar-benar berat untuk dilakukan. Tapi hukum alam selalu berlaku, pilih satu atau kau akan kehilangan keduanya. Seperti halnya kisahku, 'cukup mudah' tapi ada yang harus dikorbankan.

Aku menyukai seseorang, yang kehidupannya jauh berbeda denganku. Dia dari kelurga terpandang dan aku dari keluarga sederhana. Dia selalu populer di sekolah dan aku makhluk 'tak terlihat' di sekolah. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjadi bagian dari gadis-gadis yang meneriaki namanya. Aku tidak pernah menyebut namanya sekalipun. Bahkan aku tidak pernah mempedulikannya atau apapun tentangnya. Karena bagiku, pria suka pamer seperti itu adalah anak manja dan sombong. Tak ada gunanya ngefans dengan orang seperti itu.

Tapi ketika kuliah semester tiga, tak sengaja kami bertemu di halte bus. Aku sempat terkejut karena dia menyapaku, dan tahu namaku. Pertemuan itu sangat singkat tapi berkesan. Malam itu aku terus memikirkannya hingga tertidur. Beberapa hari kemudian di tempat yang sama, kami bertemu lagi. Dia membantu seorang nenek naik ke bus dan memanggul barang bawaannya yang kurasa cukup berat. Aku tidak percaya dengan yang kulihat, tapi itulah kenyataan, dia sudah berubah.

Aku terkesan, tapi beberapa hari selanjutnya aku tidak pernah melihatnya lagi dan aku melupakannya begitu saja. Sebuah sedan hitam menyilaukan berhenti tepat di depanku, menyenangkan melihat warna gotic favoritku seindah itu. Kaca depannya terbuka, aku melihat pengemudinya. Seorang pria tampan dengan kaca mata hitam tersenyum ke arahku. Itu dia!

"Ayo masuk. Mau ke kampus kan?"
"Iya. Tapi terima kasih, aku naik bus saja. Sebentar lagi juga datang."
"Ayolah. Tidak setiap hari kan kita bisa bertemu seperti ini."
"Mmm....baiklah."

Aku menyerah, menerima ajakannya. Dan itu adalah pilihan pertamaku. Aku memilih ikut dengannya. Selama perjalanan tidak banyak percakapan. Aku sempat bertanya kenapa dia bisa tahu namaku. Memalukan mendengar jawabannya.

"Papan pengumuman sekolah, selalu nama pertama yang remedial ulangan fisika."

Mukaku memerah. Ingin rasanya melompat seketika keluar dari mobil. Tapi niatku urung ketika mendengarnya tertawa. Hei, tawa itu menyenangkan, tawa lepas yang menyenangkan. Aku tersenyum kecut karena malu tapi tak mampu menahan tawa saat dia mengatakan namanya juga selalu ada di lembar yang sama denganku. Ternyata dia pria yang menyenangkan. Aku menarik semua ucapanku dulu. Benar, jangan memandang orang hanya dari luar saja. Mungkin sejak itu aku mulai menyukainya.

Berbeda dengan pertemuan kami pada awalnya yang diatur oleh Tuhan, selanjutnya kami sering bertemu lagi setelah 'janjian'. Entah itu untuk jogging, makan siang, makan malam, nonton, atau sekedar jalan-jalan mengusir suntuk. Ada juga kejadian dompetnya kecopetan, ban mobil meletus, dan mobil mogok hingga aku harus mendorongnya.

Semua kesenangan itu berubah menjadi kaku saat sesuatu terjadi. Siang hari yang terik di halte bus, aku menunggu dengan tidak sabar karena sudah terlambat. Tiba-tiba sedan itu berhenti lagi-lagi tepat di depanku. Kaca mobil tidak terbuka melainkan dia yang keluar dari mobil membawa sebuah map atau semacam buku tebal, menyerahkannya kepadaku.

Aku lupa kalau sudah terlambat, kubuka buku itu. Hei, ini album foto. Semua fotoku, yang diambil tanpa kusadari. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidiki. Matanya menunjuk buku itu, buka lagi. Aku melanjutkan dan menganga setiap lembar selanjutnya dibuka. Sebodoh itukah wajahku, sejelek itu, seimut itu, seberharga itu sampai dia melakukan ini? Pertanyaan itu terjawab di lembar terakhir, ada beberapa kalimat di sana.

Aku tahu kita 'berbeda' tapi kita cocok dalam banyak hal. Aku tahu kamu bodoh, aku lebih bodoh lagi. Foto itu buktinya. Tahukah kamu kalau untuk mengambil foto tanpa sepengetahuanmu itu tidak mudah? Tapi kenapa aku melakukannya? Kurasa karena aku menyukaimu. Would you be mine?

Senyumku hilang. Apakah pria tampan dan kaya ini cocok dengan wanita sepertiku? Jujur aku senang, tapi melihat kenyataan kalau otakku yang tumpul, wajah standar, berkacamata, rambut keriting sebahu, apa yang ia harapkan dariku? Melihat perubahan wajahku, dia menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Ia menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke mobil. Aku menurut dan meminta agar ia mengantarku pulang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Dari sekian banyak gadis cantik diluar sana, dia memilihku. Lalu kenapa aku juga tak memilihnya? Bukankah aku menyukainya? Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah satu minggu, aku memutuskan untuk menerimanya. Ya, kami menjadi pasangan kekasih. Aku memilih bersamanya. Tamat.

Tidak. Hubungan kami setelah itu tetap sama seperti biasanya. Tapi semua berubah ketika pilihan itu kembali datang. Ayahnya sakit parah dan harus dibawa ke Korea Utara, karena dokter yang menangani ayahnya memiliki kenalan di sana. Katanya dokter itu adalah dokter bedah jantung terhebat. Singkatnya, semua keluarganya pindah ke sana, begitu juga dengannya. Dia membuat pilihan yang tepat, karena jika itu aku maka akan kulakukan hal yang sama.

Saat pergi dia tidak menyuruhku untuk menunggunya, atau melupakannya. Aku tahu, itu artinya dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin ini akan merubah seluruh hidupnya. Perusahaan ayahnya terancam bangkrut. Sulit bernafas ketika menatap punggungnya, berjalan menjauh, seakan aku tidak akan melihatnya lagi. Sungguh, ini sangat berat.

Enam tahun setelah kepergiannya, aku tidak mendapat kabar. Tapi seminggu yang lalu, aku menerima emailnya. Ia merindukanku, dan ia akan pulang besok! Waktu terasa berhenti. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya ketika tahu aku sudah bertunangan sebulan yang lalu dan kami akan menikah awal tahun depan. Pilihan ini sulit, tapi keputusan itu sudah diambil. Maaf....

12/13/2014

#13. Dunia Maya

Hari ke-13 sejak kejadian itu. Maya tidak pernah lagi berbicara dengan Min, sahabatnya. Konflik yang terjadi antara dua makhluk hawa ini sulit dimengerti, hanya masalah sepele. Min membahas hal tentang laporan kelompok di facebook, hanya itu. Tapi Maya luar biasa marah gara-gara itu, mungkin dia tersinggung dengan kata-kata Min. Tak ada yang berani bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Karena sikap diam Maya sangat menyeramkan daripada ketika ia berteriak marah-marah. Min? Jangan tanya, dia tidak akan bicara.

"Maya...." Min mencoba menyamai langkah Maya di koridor ruangan.
Langkah Maya terhenti, menoleh, menatap penuh kebencian, dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Sejak saat itu, Min tidak pernah lagi mencoba untuk mendekati Maya. Semua usahanya untuk berbaikan tidak direspon. Kampus terasa sepi dengan sikap diam mereka. Karena biasanya merekalah yang membuat kelas ramai oleh teriakan dan canda tawa. Kini semua hilang, bagai jejak yang terhapus hujan. Lenyap tak berbekas. Situasi kelas seperti sedang berduka.

Antara takut, penasaran, dan jengkel, seorang teman mereka berani mengambil resiko apapun demi informasi 'apa yang sebenarnya membuat Maya marah?'

"Hei gadis..." Bayu mencoba gombalannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Maya dingin.
"Jutek banget sih Neng.... Aku mau tau, kenapa sih kamu sama Min diam-diaman? Kelas jadi punya aura horror tau! Biasanya kan kalian...."
"Stop Bayu. Ini bukan urusan kamu."
"Fine," Bayu mundur tanpa disuruh, angkat tangan meninggalkan Maya yang kembali sibuk menatap buku didepannya.
Bayu mendapat seruan Huuuu..... dari teman-temannya di kejauhan. Gagal total!

Hujan di Desember ini kembali menyapa. Langit gelap membuat sebagian besar mahasiswa betah di kampus, menunggu hujan reda. Tidak terkecuali Maya. Dia menatap kosong hujan yang sangat berisik di luar sana. Di pojok ruangan ada Min yang menatapnya prihatin, sedih, putus asa. Dia mengumpulkan keberanian dan maju duduk di bangku sebelah Maya.

"Melamunkan apa Maya?" Tanya Min lenbut.
Maya tersentak sadar dan hendak berdiri, tapi Min memegang tangannya.
"Dengar aku dulu Maya, please..." Min memohon.
Tapi Maya tetap keras kepala, ia mengibaskan tangannya menyebabkan pegangan Min terlepas, lalu ia beranjak keluar. Tapi Min belum menyerah, ia mengikuti Maya kemanapun ia pergi. Min heran karena langkah Maya menuju lantai paling atas, puncak gedung!

"Jangan-jangan Maya ingin bunuh diri," pikir Min dalam hati. Maka ia menghubungi Bayu yang otomatis langsung menyebar kesemua teman yang ada dikelas. Mereka beramai-ramai ke atap gedung kampus mereka.

Maya tidak sadar kalau Min ikut dibelakangnya. Ia mendorong pintu dengan paksa. Begitu pintu terbuka, tampias air langsung menyerbu tubuhnya, angin bertiup buas ditengah hujan yang tidak kunjung reda. Maya berjalan dibawah hujan, kini seluruh tubuhnya basah. Ia bergerak menuju pinggiran atap, tempat ia bisa melihat semua pemandangan di bawah sana.

"Tuhaaaannn!!!!!" Tiba-tiba Maya berteriak.
Min yang masih di pintu tertegun.
"Kenapa Kau memberiku ini? Belum cukup Kau mengambil kakakku?"
Min semakin heran, sementara Bayu dan yang lainnya sudah berdiri di sebelahnya. Min menahan mereka, "Maya akan bicara lebih banyak."

"Kenapa ayah dan ibu harus bercerai? Kenapa mereka tega? Kenapa aku harus dititipkan pada Paman? Kenapa aku harus pindah kuliah? Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku disini...." Maya berlutut memeluk tubuhnya yang kuyub. Menangis.

Sekarang Min dan teman-temannya mengerti kenapa Maya marah. Ini bukan tentang pembahasan di facebook, ini jelas masalah pribadi Maya. Ia tidak pernah menceritakan masalah keluarganya kepada siapapun, termasuk Min. Karena Min tidak pernah ia biarkan datang ke rumah. Min menerobos hujan mendekati sahabatnya itu.

"Kenapa kamu tidak cerita Maya? Itu sudah tugasku untuk mendengar keluh kesahmu."
Maya menoleh. "Sejak kapan kamu disini?"
"Tidak penting. Yang jelas aku mendengar semua yang baru kamu katakan." Min ikut berlutut di samping Maya.
"Maaf Min. Aku tidak bisa cerita. Aku hanya marah, pada ayah, ibu, Tuhan, dan nasibku! Dunia tidak adil."
"Maya, kau menganggap kami apa?" Bayu menyahut, ikut bermandi hujan.
"Jika kami bukan temanmu, kenapa kamu harus takut kehilangan kami?"
"Kenapa tidak cerita pada kami?"
"Bukankah itu gunanya teman?"
Satu persatu temannya maju. Maya tidak menyangka apa yang dilihatnya. Teman-temannya yang dia hindari, dia jauhi, semua ada di sana, basah oleh hujan, menyunggingkan senyum tulus mereka.
"Kami disini untuk kamu, kamu tidak sendiri Maya," Min memeluk sahabatnya.
Air mata Maya tumpah, tangisnya semakin keras, sesenggukan, yang disela-selanya ada ucapan "Terimakasih teman-teman." Semua temannya menghampiri, pelukan massal ditengah hujan deras.

Langit ibukota masih gelap, tapi hujan telah berhenti. Jejak horror didalam kampus telah terbawa pergi bersama hujan. Maya memberanikan diri menyampaikan pendapat pada orang tuanya, ia tak akan pindah, ia akan mencari kontrakan, ia akan bekerja, ia sudah dewasa!!

10/28/2014

#12. Salah Satu Keluhan Dunia

Jauh di sudut kota, saat yang tepat untuk menyaksikan matahari terbit dari bukit kecil di belakang rumah. Seorang gadis duduk memeluk lutut di atas sana, menatap matahari terbit yang menyilaukan mata, tanpa berkedip sedikitpun. Mengkhayal? Mungkin. Seorang pria berjalan mendekatinya. Dia meletakkan sebongkah kayu yang baru dipungutnya.
"Ternyata benar, keindahan kota bisa terlihat jelas dari sini."
Gadis itu menoleh, tak menyangka ada orang lain disana.
"Iya Paman, ini tempat yang tepat untuk menyendiri," kata gadis itu.
"Keponakan Paman ini punya masalah ya?"
Gadis itu mengerutkan kening, kenapa Pamannya tahu apa yang dipikirkannya.
"Dari sekian banyak kata yang tepat untuk menjelaskan tempat ini, kamu memilih kata menyendiri, bagaimana mungkin Paman tidak menyadarinya?" jelas pria itu.
Gadis itu tersenyum, menepuk tanah disampingnya agar Paman mendekat. Pamannya menurut.
"Paman, aku punya cerita," kata gadis itu setelah menyandarkan kepalanya di bahu Paman tercintanya.
"Anything for you baby, tell me. Whats up?"
Gadis itu menghembuskan nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku bingung Paman. Apakah ada orang yang tulus ingin berteman denganku?"
"Lho, kenapa kamu bertanya begitu?" Bukankah teman kamu banyak?"
Sekali lagi Jen menarik nafas. Dia mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya. Sepertinya ceritanya akan panjang.
"Aku pikir teman-temanku tidak ada yang benar-benar tulus, dan aku rasa aku tidak pernah menjadi bagian dari mereka.
"Aku pikir, aku rasa..." Paman mengulangi kata-kata Jen.
"Dua kalimat itu berasal darimu Jen. Dari sudut pandangmu saja. Bisa saja itu hanya karena ada hal lain yang kamu pikirkan sehingga merasa begitu terhadap mereka."
Jen menggeleng.
"Mereka biasanya mengajakku jalan karena kebetulan aku di sana, jika tidak tak ada yang akan menghubungiku. Dihubungi pun itu jika ada maunya, saat mereka butuh saja. Bukankah itu berarti mereka memanfaatkanku?"
"Jen, jangan mengambil kesimpulan dulu. Sekarang paman tanya, apakah kamu tidak pernah menghubungi temanmu jika butuh? Pernah kan?"
Jen berpikir, benar juga. Ia mengangguk lemah.
"Nah, kalau begitu jangan berpikir kalau temanmu juga begitu. Jangan hanya melihat dari sudut pandangmu, lihat dari sudut pandang mereka dulu baru kembalikan pada dirimu. Sesedih itu karena kau dimanfaatkan?"
Jen tersenyum kecut.
"Kau tahu? Saat seseorang menghubungimu hanya ketika ia butuh, itu artinya kau sangat penting baginya. Kenapa? Karena hanya kamu yang bisa melakukan apa yang ia butuhkan. Dimanfaatkan? Bukankah itu memang gunanya memiliki teman? Tapi dalam pengertian yang baik." Paman terkekeh.
"Teman-teman, mereka mungkin hanya ada saat mereka membutuhkanmu. Tapi kamu tidak pernah menghitung seberapa sering mereka bersamamu saat kamu punya masalah, entah mereka tahu atau tidak. Setidaknya mereka ada untuk membuatmu marah, jengkel, hingga tertawa. Mereka anugerah Tuhan yang paling besar. Ada jutaan manusia di bumi ini, kasihan sekali mereka yang tidak memiliki teman," lanjut Paman.
Jen terkagum lantas tertawa melihat Pamannya menjelaskan dengan tangan bergerak-gerak seolah sedang menyampaikan puisi kepada matahari pagi. Pamannya ikut tertawa, menghentikan tingkah konyolnya. Matahari sudah terbit, sempurna. Mereka memandangnya penuh takjub. Menutup mata merasakan hangatnya mentari dan semilir lembut angin pagi membelai wajah. Namun tak lama, senyum di wajah Jen musnah. Ia kembali tertunduk memeluk lutut. Satu tetes, dua tetes, terisak, Paman menoleh.
"Jen tiba-tiba rindu Ayah dan ibu, Paman...."
Paman menghapus air mata di wajah Jen kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Matanya juga kabur oleh air mata.
"Kenapa Tuhan tega mengambil mereka di saat yang bersamaan. Kenapa aku tidak diambil juga?" Jen masih terisak.
"Husss....kamu tidak boleh berkata begitu."
"Maafkan Jen, Paman," Jen melepaskan diri dari pelukan Pamannya.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu hanya harus tahu, pahami dengan baik. Segala yang Tuhan lakukan itu adalah hak-Nya, kita tidak boleh mengeluh, mempertanyakan setiap kejadian. Karena pasti ada hikmah dibalik itu semua."
Jen terdiam, ia menatap wajah pamannya sungguh-sungguh.
"Kepergian kedua orang tuamu menyebabkan kamu harus dititipkan padaku, dirawat oleh Paman. Kamu adalah sebab untuk kebahagiaan Paman dan Bibi yang sudah putus asa tidak bisa memiliki anak. Sama halnya dengan teman-temanmu. Kamu merasa dimanfaatkan oleh mereka, tapi kamu menjadi sebab mereka merasa lega atas bantuanmu."
"Tapi tidak adil kan? Aku menjadi sebab kebahagiaan orang lain tapi aku harus kehilangan orang tuaku dan mengalami perasaan tidak enak lainnya."
Paman tersenyum, menggeleng. Anak ini belum mengerti.
"Dunia ini adil, Tuhan Maha Adil, dan tidak ada yang bisa menyangkal itu. Hanya saja kau belum menemukan keadilan itu."
"Bagaimana cara menemukannya?"
"Jalani hidupmu sebaik mungkin dan jangan banyak bertanya. Pelajari segala yang terjadi. Kau pasti akan mengerti. Paman beri satu contoh kecil, libur semester kemarin kamu tidak bisa ikut bersama teman-temanmu karena sakit. Dunia adil, Tuhan Maha Adil, kamu disuruh beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan kita bulan depan."
"Kemana? Paman serius?"
"Iyyap. Mahameru," ucap Pamannya bangga.
Mulut Jen membulat. Ia berdiri, berteriak sekencang mungkin. Ia sangat bahagia, sejak kepergian orang tuanya ia tidak pernah mendaki lagi, takut menerima kabar buruk lagi sepulang dari sana. Tapi Paman berusaha menghilangkan trauma itu, ia harus menjalaninya lagi.
"Contoh kecil kedua," Jen berhenti berjingkrakan.
"Kamu pasti lelah sudah menyikat kamar mandi setelah subuh tadi. Sekarang kita turun dari bukit ini, kembali ke rumah, bibi sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng kesukaan kamu."
Jen benar-benar menjerit kali ini.
"Paman pikir, segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada balasannya. Jika buruk akan buruk juga. Jika baik pasti akan lebih baik. Semoga Paman tidak salah."
"Amin."
Mereka berjalan menuruni bukit. Matahari mulai meninggi, menemani Jen dan Pamannya pulang ke rumah.

10/26/2014

#11. Kisah Seorang Anak Laki-Laki

Ada seorang anak laki-laki yang cerdas, energik, dan sangat sopan perangainya. Dia adalah anak pertama dari keluarga Durin yang sangat terpandang. Dia memiliki seorang adik perempuan, umur mereka terpaut jauh tapi anak laki-laki ini sangat menyayangi adiknya. Tak ada yang kurang dari keluarga itu, bila dilihat dari jauh. Tapi dari dekat.....keluarga itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Kedua orang tua mereka sibuk hingga anak-anak mereka tidak diperhatikan.
"Ma, minggu ini ada kegiatan yang harus Dafi..."
"Iya, silakan," mama memotong ucapan Dafi.
Tidak sepenuhnya mendengar, tak ada pertanyaan dengan siapa, dalam rangka apa, kapan pulang, atau semacam itu. Mama Dafi terburu-buru, memasang anting dan beranjak tanpa menoleh pada buah hatinya. Sementara papa, Dafi tidak berani berbicara dengannya karena papanya terlalu ringan tangan, memukul, menampar. Jadi lebih baik ia tidak memberitahu papanya. Setelah mencium pipi chubby adiknya, ia pamit pada baby sitter kepercayaannya, berpesan agar menjaga adiknya selama ia pergi.
Dafi sangat benci keadaan di rumahnya, sejak dulu. Ia tidak pernah suka dengan tindakan kedua orang tuanya. Namun ia selalu menghargai mereka, menghormati mereka, berharap suatu hari nanti orang tuanya sadar kalau selama ini ia diacuhkan. Pernah ia berniat kabur tapi tidak jadi karena adiknya lahir, Ela. Ela menjadi semangat baru bagi Dafi. Nilai-nilainya cantik, prestasinya sebagai pianis tidak diragukan lagi, tapi apa gunanya jika kedua orang tuanya tidak pernah memuji. Makan bersama, bahkan sekedar menanyakan kondisi, kampus, tidak pernah.
Dafi sebenarnya merasa sedih, ia menginginkan pelukan mama, tepukan bangga papa di pundaknya atau sekedar mengacak rambutnya, tapi ia selalu mengerti. Orang tuanya sibuk, ia tidak boleh mengganggu. Hatinya benar-benar lapang untuk seorang anak laki-laki pada umumnya. Ia selalu mencoba untuk menerima segala keadaan dan memahaminya dengan baik. Tapi ada satu hal yang semua orang tidak tahu, ia menyimpannya sendiri. Marah adalah sifat yang selalu bisa ia kendalikan. Saat marah ia akan butuh waktu sendiri, dan saat itulah ia bisa mengamuk mengeluarkan semua amarahnya, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Luka yang ia terima tidak ada apa-apanya bila dibandingkan luka di hatinya. Anak mana yang akan baik-baik saja bila bertahun-tahun diabaikan oleh orang tuanya? Ia juga ingin seperti anak lain yang dimarahi bila nilainya jelek, telat pulang, atau bercerita tentang masalah yang dialaminya. Bahkan orang tuanya tidak tahu, ada seorang gadis yang menarik perhatian Dafi, tapi tentu saja Dafi tidak pernah cerita.
Suatu hari Dafi bangun, masih dengan iler di pipinya hendak mencuci muka. Dalam kamar mandi terdengar suara sepatu mama bergemeletuk di lantai, tak lama terdengar suara papa. Hanya sapaan biasa yang dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai pekerjaan dan tibalah pada pembicaraan yang membuat jantung Dafi berdegup kencang.
"Tidak usah dilanjutkan Ma, Pa, Dafi tidak setuju. Dafi tidak mau," kedua orang tuanya menoleh.
"Oh kamu sudah berani melawan perintah Papa? Lihat Ma, anakmu ini."
"Dia juga anakmu, Papa yang tidak pernah mengajaknya bicara."
"Kenapa menyalahkan Papa? Mama yang terlalu sibuk sampai tidak pernah mengurus anak dengan baik."
"Kok jadi mama yang disalahkan?"
"Papa, Mama, please..... jangan diteruskan," Dafi memohon.
"Tidak, jika kamu menolak perjodohan itu."
Mendengar itu Dafi membeku, otaknya perpikir keras harus mengatakan apa. Ia tidak ingin dijodohkan.
"Pa, ini hidup Dafi. Tidak masalah selama ini kalian mengabaikan Dafi dan Ela, tapi tidak untuk yang satu ini."
"Kamu, benar-benar anak...."
"Tidak tau malu? Durhaka? Maaf Pa, selama ini Dafi selalu bersabar dengan sikap Papa dan Mama, menerima semua yang ada tanpa ini itu. Tapi sekali lagi ini hidup Dafi. Apakah Papa dan Mama tahu, Ela sudah empat tahun, tapi ia masih belum bisa bicara. Apa kalian tahu besok aku akan ke London untuk konser musik pertamaku? Ya, kalian tidak tahu. Tidak pernah."
Kedua orang tuanya terdiam. Mama sudah mengeluarkan air mata seraya menutup mulutnya tak percaya dengan yang barusan Dafi katakan.
Ela belum bisa bicara?
"Dan sekarang kalian ingin menjodohkan Dafi? Itu tidak akan terjadi. Kalian juga tidak tahu kan kalau ada seseorang yang  Dafi suka? Dafi takut mendekatinya karena malu jika ia tahu orang tua Dafi seperti ini," suara Dafi mulai serak.
"Besok, Dafi akan membawa Ela pergi. Entah kapan kami akan pulang. Karena kalian juga tidak tahu kan, London adalah kota impian Dafi sejak kecil. Sejak Papa memberikan miniatur BigBen."
Dafi meninggalkan ruang tengah, Mama dan Papa tidak punya kalimat untuk menangkis kata-kata Dafi. Benar, mereka tahu apa jika yang mereka lakukan selama ini hanya bekerja?

[Sebanyak apapun materi yang dimiliki, anak tetap membutuhkan kasih sayang orang tua, dan itu tidak butuh uang. Bisa saja hanya dengan memeluknya saat ia cemas dan ketakutan, atau mendengarkan jika ia bercerita apa saja. Mudah.]

10/25/2014

#10. Kakak

Bukan hal baru lagi jika aku di kantor polisi. Menjemput kakakku satu-satunya yang telah melakukan serangkaian aksi nakal. Melanggar lampu merah, balapan liar, membuat kekacauan di tempat umum, beruntung dia tidak pernah membunuh atau mencuri, karena bila ia melakukan itu aku sendiri yang akan memancungnya.
"Kak Rio, kenapa sih selalu membuat ulah? Tidak selamanya kakak akan begini kan?"
"Ahhh... adikku sayang, sekali sebulan tidak masalah kan?" katanya merangkul pundakku.
Aku menepuk jidat dan menyeretnya ke mobil. Selalu saja begini. Seburuk apapun kelakuannya aku tidak bisa marah padanya, membentak pun aku tidak berani. Demikian juga dia, meskipun dia sangat kesal karena aku sering memperingatkan, menceramahi ini itu, dia tidak pernah marah. Justru menanggapinya dengan senyum. Aku selalu mengalah bukan hanya karena aku yang paling muda, tapi karena hanya dia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia dan kakak terbaik yang pernah kumiliki. Orang tua kami sudah meninggal dan mewariskan kekayaan yang tidak bisa kuhitung. Sekitar dua tahun yang lalu, perampok itu berhasil melepaskan peluru yang menembus jantung ayah dan paru-paru ibu. Mereka sempat dirawat di rumah sakit, kritis, namun tak tertolong. Kak Rio yang sedang mempersiapkan sidang skripsinya tak bisa bertahan. Berita itu benar-benar menghancurkan mentalnya. Baru setelah beberapa bulan sidang skripsinya itu bisa terlaksana dan wisuda sebulan kemudian, yang dihadiri ogah-ogahan. Perampok itu masih buron, sangat mengecewakan kinerja polisi sekarang.
2014, tahun ketiga aku di kampus. Aku ingin menjadi polisi tapi selalu gagal. Kak Rio selalu mengejekku.
"Mana ada polisi cengeng. Lagi pula, kamu kurang tampan. Hahaha"
Tapi aku tidak marah atau kesal, selalu menyenangkan mendengarnya tertawa. Apalagi setelah kejadian dua tahun lalu, mendengar suaranya saja sudah cukup, apalagi tertawa.
Kejadian hari ini, lagi-lagi kantor polisi. Tapi kasus kali ini berbeda. Kak Rio menemukan jejak perampok itu dan ia menyusulnya. Bagai petir yang menyambar kepalaku. Rasa cemas, takut, khawatir langsung memenuhi pikiranku. Perampok itu terdiri dari beberapa orang, begitu yang kudengar dari polisi. Dan satu diantaranya adalah sniper, itu yang membuatku gemetar. Kak Rio selalu terburu-buru, pikirku mungkin karena itu dia selalu membuat ulah agar kelakuannya terdengar oleh komplotan perampok itu. Ini sebuah pancingan. Tapi bagaimanapun aku tidak tenang mengetahui dia dalam masalah serius. Bagaimana jika ini hanya trik perampok itu untuk menculiknya, dan meminta tebusan. Ahhh pemikiranku sudah seperti adegan di film-film. Gawat.
Tiga puluh menit aku bergelut dengan segala kemungkinan buruk, telepon itu datang. Polisi mendapat informasi dimana mereka. Segera mobil melaju dengan sirine yang memekakkan telinga. Aku diperbolehkan ikut bersama seorang detektif yang bertugas menyelesaikan kasus perampokan dan kematian kedua orang tuaku. Tak begitu lama, kami tiba di lokasi yang dimaksud. Ini adalah daerah kumuh dipinggiran kota. Sudah pukul 12 malam, tempat itu sepi. Bagai orang kesetanan, aku berlari mencari disetiap sudut hingga akhirnya aku menemukan motor kakakku, tergeletak, lecet, dan sebelah sepatunya tertinggal di sana. Beberapa polisi dan detektif yang mengikuti hendak menghentikanku, tapi perhatian mereka teralih setelah motor itu ditemukan. Mengendap-endap, mereka mendekati sebuah bangunan mirip gudang dengan pintu besar. Di depannya terparkir beberapa mobil, yah mobil curian yang platnya telah diganti. Polisi  berpencar mencari jalan masuk, aku mencoba mengintip setelah mereka semua pergi. Hey, ada celah di sini. Aku masuk dengan susah payah, berhasil!
"Apa kabar anak manis?" suara berat itu membuatku mematung.
"Sekarang apa mau kamu, pembunuh!!!" suara Kak Rio.
Aku bergerak perlahan, mengintip dari kardus-kardus yang tersusun rapi. Dari jauh aku dapat melihat mereka, 9 orang. Kak Rio digantung di dinding dengan posisi terbalik, kedua tangannya diikat, peluhnya terlihat dari rambutnya yang basah, beberapa luka berdarah di bagian perut dan dadanya membuatku hendak berteriak. Apa yang bajingan itu lakukan pada kakakku?
"Hahaha....tenang jagoan. Aku hanya ingin menyapamu sebelum aku membunuhmu," tanganku terkepal.
"Kau tahu, kedua orang tuamu telah membuatku kehilangan pekerjaan. Karena itu, istriku meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki lain," pemilik suara berat itu menghisap rokok dan membuang asapnya ke wajah kakakku.
"Hei, hentikan!!!" Teriakku tanpa sadar. Aku tidak tahan melihat asap rokok itu mengepul di wajah kak Rio, ia alergi, asap itu bisa membunuhnya.
Semua menoleh padaku.
"Bastian! Cepat pergi!!!! Jangan kesini anak bodoh!!!" Teriak kak Rio sekuat tenaga.
Aku mundur selangkah mendengar bentakan itu. Kak Rio membentakku. Ini pertama kalinya.
"Hai....si bungsu. Mau bergabung bersama kakakmu? Ini akan jadi malam yang indah di saat dua kakak adik meninggal bersamaan, sangat mengharukan."
"Dia bukan adikku. Biarkan dia pegi." Kalimat kak Rio yang membuat aku memandangnya tidak percaya. Apakah dia tahu itu? Aku tidak pernah berencana memberitahunya. Dia bukan anak kandung ayah dan ibu. Aku juga mengetahuinya beberapa bulan yang lalu. Tapi itu tidak akan merubah apa-apa. Dia tetap kakakku.
"Bukan? Itu tidak mungkin Rio, kalian sudah tumbuh bersama sejak aku bekerja di perusahaan orang tua kalian."
"Aku diadopsi sebelum Bastian lahir. Hah...apa gunanya aku menjelaskan."
"Benar sekali, karena saudara kandung atau bukan, itu bukan masalahku. Karena dia sudah di sini cepat ikat dia dan gantung seperti kakaknya!"
Aku tersudut, tidak bisa lari. Lima orang bertubuh besar itu mengepungku. Kini aku sudah tergantung persis di sebelah kak Rio, menyakitkan melihat luka di tubuhnya, pelipisnya yang berdarah. Entah seberapa kuat ia melawan para penjahat ini.
Tepat di saat pemilik suara berat itu mengacungkan pistolnya...
"Jangan bergerak!" Polisi memperingatkan, mereka akhirnya menemukan kami.
Beku sejenak, tak ada yang bergerak. Kemudian dengan sigap, pemilik suara berat itu memotong tali yang mengikat kami berdua dan meraihku sebagai sandera.
"Satu gerakan, otak anak ini berserakan," ancamnya menodongkan pistol ke kepalaku.
Polisi menjatuhkan pistolnya.
Hey, ini benar-benar seperti dalam film. Aku berharap menemukan kamera.
Kak Rio meringkuk lemah di lantai, mungkin seluruh tubuhnya sakit setelah mendapat puluhan pukulan.
Pemilik suara berat itu tersenyum lebar, menyeringai bagai orang kesetanan. Tiba-tiba kak Rio bangun dan terjadilah perkelahian yang.....hebat. Sembilan lawan dua puluh, tidak termasuk aku. Aku tidak pandai berkelahi, karena itu kak Rio mengatakan aku cengeng, anak laki-laki yang lemah. Baiklah, mungkin sudah saatnya aku membuktikan kalau aku tidak lemah. Aku menggambil balok kayu tak jauh dari tempatku berdiri, menunggu saat yang tepat memukul pria bertubuh besar yang menyerang kak Rio. Sebelum itu terjadi, suara letupan terdengar. Kak Rio tertembak. Pemilik suara berat itu memegang pistol di sudut ruangan. Suara letupan itu ternyata mengagetkan semuanya, butuh beberapa saat untuk pria bertubuh besar menyadari kalau semua polisi sudah mengarahkan pistol pada mereka.
Entah bagaimana caranya, polisi meringkus mereka semua, aku tidak peduli lagi. Aku mendekati tubuh kakakku yang terbaring tidak sadarkan diri. Gemetar tanganku merengkuh tubuhnya yang berlumuran darah. Aku memeluknya, menahan tangis. Aku teringat pesannya padaku.
"Anak laki-laki tidak boleh menangis."
"Aku bukan kakak kandungmu bodoh, jadi jangan membahayakan dirimu lagi hanya untuk menyelamatkanku," katanya sebelum tak sadarkan diri. Aku panik, aku tidak tahu mana lukanya, apanya yang tertembak, aku hanya melihat darah, darah, ahh.... aku baru ingat kalau aku phobia darah, sekarang tidak lagi.
Aku melihat tim medis mendekat, bergegas membawa tubuh kakakku ke ambulance. Salah seorang dari mereka memberi kabar baik, kak Rio hanya pingsan. Luka tembaknya tidak mengenai organ vitalnya, jadi tidak akan seserius yang kubayangkan.
Rio Teraga, memang bukan kakak kandungku. Tapi dia melindungiku sejak kecil. Menerima setiap kemarahan ibu dari masalah yang kusebabkan. Tertidur di kursi saat menugguiku di rumah sakit. Pokoknya dia adalah kakakku, titik.

10/16/2014

#9. Mereka Teman-Temanku

Namaku Dewa. Mereka katakan usiaku 17 tahun dua hari lagi. Tapi aku tidak tahu, lebih tepatnya aku tidak ingat. Potongan memoriku hilang atau daya ingatku yang tumpul setelah kecelakaan itu, entahlah. Aku juga harus kehilangan sebelah kakiku. Ruangan rumah sakit penuh sesak oleh mereka yang datang menjenguk, aneh tak seorangpun yang ku kenal. Satu-satunya orang yang kuingat hanya ibuku. Dan namaku Dewa, hanya itu.
Dokter yang menanganiku berkata bahwa amnesia yang kualami hanya sementara, bila terus dicoba aku akan mengingat semuanya kembali. Mereka yang mengaku teman-temanku berkumpul menceritakan pengalaman hebat kami. Aku tidak menyangka pernah menjadi ketua perjalanan saat mendaki beberapa bulan lalu. Aku suka mendaki? Hei...ayolah, aku tidak mengingat apapun. Aku merasa bersalah menampakkan wajah tak bersemangat saat mendengar cerita teman-temanku. Mereka sangat cerewet. Tidak, bukan mereka, hanya satu orang, gadis berkuncir ini. Dari tadi dialah yang paling semangat bercerita. Aku memandangnya, lekat, dan semua terdiam. Dia juga menatapku, mendekatkan wajahnya, menyelidiki apakah aku bisa mengingat sesuatu. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya di keningku.
"Auww....kamu mau mati ya?" kataku mengusap keningku yang sakit.
Semua diam, lebih diam dari sebelumnya.
"Dewaaa.....kamu kembali!" semua tiba-tiba memelukku. Terutama gadis berkuncir di depanku.
Aku berusaha melepaskan diri, tak tahu apa yang terjadi. Mungkin karena heran dengan ekspresiku, gadis berkuncir itu menjelaskan.
"Kamu selalu bilang itu kalau kepalamu di jitak seperti tadi."
No respon. Aku masih belum ingat. Sepanjang jam besuk mereka berusaha mengingatkanku pada banyak hal, tapi tak satupun berhasil. Waktu besuk habis, mereka pamit dengan tampang lesu terutama gadis berkuncir tadi. Sebenarnya dia satu-satunya perempuan, temanku yang lain laki-laki. Baru setelah mereka pulang, ibu menjelaskan kalau gadis berkuncir itu adalah sahabatku, Ana. Aku tersenyum, pantas saja dia berani menganiaya keningku. Dia sahabatku.
Keesokan harinya, Ana kembali datang, sendiri. Kali ini dia membawa apel, katanya itu buah kesukaanku. Dan benar, sambil bercerita aku menghabiskan semua apel yang ia bawa. Menyenangkan mendengarnya berkelakar, tertawa riang, memasang wajah marah, aku terhibur. Pantas jika kami bersahabat, aku suka semua tingkah lakunya yang lucu dan ceroboh.
Malam itu aku tidak bisa tidur, ibu sudah terbaring lelah, lelap di karpet samping ranjangku. Aku tidak tega membangunkannya karena terus berganti posisi tidur. Jadi aku bangun dan berjalan ke dekat jendela. Membuka tirainya, tampak diluar sedang purnama, benderang, indah. Mungkin karena asyik memandang wajah purnama aku tidak sadar sudah ada orang yang berdiri di belakangku.
"Surprise!!!!" teriak teman-temanku. Ana ada diantara mereka. Ibu juga ternyata sudah bangun. Entah bagaimana mereka meminta izin masuk tengah malam begini.
"Teriakkan satu keinginan kamu sebelum tiup lilin," Ana berseru.
Keningku berkerut, tapi aku melakukan yang ia katakan, tentu saja aku tidak berteriak. Meskipun aku amnesia, aku tahu ini rumah sakit. Sangat tidak sopan berteriak apalagi tengah malam seperti ini.
"Aku ingin ingatanku pulih, dan kalian tetap jadi teman-temanku. Hufff!!" Belasan lilin kecil diatas tart itu padam.
Tepuk tangan pelan terdengar, mereka juga tahu ini rumah sakit. Ada banyak kado, kecil hingga besar, terbungkus rapi sampai paling berantakan. Hahaha....aku sangat bahagia. Ini benar-benar ulang tahun yang menyenangkan. Kami berpesta kecil hingga semua lelah dan tertidur.
Pagi yang cantik di hari pertama usiaku yang ke-17, aku terbangun diantara teman-temanku yang tidur bagai ikan terdampar. Aku menoleh ke ranjangku, di sana tertidur pulas sahabatku yang cantik. Tiba-tiba keajaiban besar itu datang. Aku mengingatnya, ingatanku pulih. Jantungku berdegup kencang. Aku bangun mendekati ibu yang masih terlelap, mencium pipinya, punggung tangannya. Lalu menoleh pada Ana yang baru bangun. Belum sempat ia mengusap wajahnya, aku mendekat memeluknya, mengatakan ingatanku pulih. Ia menjerit dan membangunkan seisi kamar.
"Ingatanku pulih," aku memandangi mereka satu persatu.
Mereka berhamburan memelukku. Terima kasih Tuhan, ini kado terindahku.
Oh iya, aku lupa. Teman-temanku ini penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Berbeda dengan Ana, dia tuna netra.

10/15/2014

#8. Sekuat Intan

Intan marah. Baru saja dia menamparku. Ini adalah pertama kali sejak 5 tahun perkenalan kami. Aku tidak menyangka mencium pipinya akan membuatnya sekalap itu. Iya, aku salah. Setelah menamparku, dia berlari menjauh hingga hilang ditikungan. Mungkin karena aku terlalu senang proposal kerjaku disetujui atasan. Aku spontan memeluknya yang ada disebelahku dan mencium pipinya. Ini memang pertama kali aku melakukannya. Seminggu kedepan, Intan mendiamiku. Lucu ketika kami berbaikan. Kami berpapasan di kantor, aku ke kiri dia juga ke kiri, aku ke kanan dia juga demikian. Sampai akhirnya dia mengalah.
"Fine....kita baikan."
"Nah, begitu dong. Aku kan sudah minta maaf. Janji tidak mengulanginya lagi," telunjuk dan jari tengahku di depan wajahnya.
Dia tersenyum dan aku mempersilakannya jalan lebih dulu. Dia berlalu disertai tepuk tangan dan teriakan iseng teman kantor kami. Masalah kecil itu selesai.
Keluarga Intan bisa dikatakan berkecukupan. Ayahnya seorang pengacara, ibunya seorang ibu rumah tangga, dan Intan seorang sekretaris di sebuah perusahaan swasta tempatku bekerja. Meski begitu, perjuangannya untuk sampai pada titik ini tidak mudah. 5 tahun yang lalu ketika aku mengenalnya, dia bekerja sebagai pelayan disebuah restoran. Seorang pelanggan memakinya, aku yang menyaksikan tidak tahan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut orang itu. Segera aku menghampiri pria itu dan memukul rahangnya, ia jatuh tersungkur. Intan dengan mata bulatnya saat itu kaget melihatku yang menggapai tangannya dan menyeretnya keluar. Aku membawanya pergi dari tempat itu tak peduli teriakan bos atau pelanggan lain yang memanggilnya. Ini sudah keterlaluan. Dari ceritanya kutahu kalau kejadian semacam itu sering terjadi padanya dan ia hanya diam karena membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kuliahnya, ia anak yatim piatu. Orang tua yang mengasuhnya adalah orang tua angkat yang sangat baik. Mereka senang melihat Intan yang pekerja keras. Intan juga bekerja sebagai pengantar koran di pagi hari. Saat itulah pasangan suami istri yang tidak memiliki anak ini menawarkan untuk mengangkatnya sebagai anak. Intan senang bukan main. Dia berlari memberitahuku kabar baik ini. Saat itu aku masih bekerja sebagai tukang fotokopi di ruko pinggir jalan. Ketika Intan datang, aku mendapat telepon, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta tempatku meniti karir sampai sekarang. Dua kabar gembira dalam satu hari, kami merayakannya dengan makan makanan kesukaannya, bakso. Jadilah ia tinggal di keluarga itu tapi tetap bekerja untuk kuliahnya. Ayahnya bangga dan ibunya sangat bersyukur bisa bertemu gadis seperti Intan. Setahun kemudian, Intan menamatkan kuliahnya, memberi kedua orangtuanya hadiah berupa nilai sempurna. Dan hadiah yang sangat mengejutkan untukku, dia telah diterima bekerja di perusahaan tempatku bekerja sebagai sekretaris. Ini benar-benar kuasa Tuhan.
Beberapa bulan setelah kejadian itu ibunya meninggal karena sakit. Rumah megah itu harus kehilangan Nyonya-nya. Intan diam, menatap dengan mata kosong. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu. Tapi satu hal yang baru kusadari, ia tidak menangis. Matanya tidak sembab, tidak bengkak seperti anak gadis kebanyakan saat ibunya meninggal. Hingga pemakaman selesai dan aku hendak pamit pulang, air matanya tak juga tumpah. Sesakit itukah hingga ia tak sanggup menangis? Mengeluh sekalipun tidak. Bahkan ketika memeluk ayahnya, ia masih bisa mengajak bercanda agar ayahnya tersenyum. Dia benar-benar kuat, sama seperti namanya, Intan, yang kuat, kokoh dan tidak bisa hancur.
Setahun berlalu. Aku melihatnya menangis, kemarin, di pelukan ayahnya. Sesenggukan ia mengucapkan terima kasih, mencium tangan ayahnya. Bagiku menangis saat seperti itu wajar, ketika seorang gadis menikah, ia akan ikut bersama suami dan meninggalkan rumahnya. Ya, kemarin Intan menikah, bersama seorang pria biasa yang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, orang yang pernah ia tampar dengan sangat keras.....aku. Keinginanku untuk selalu melindunginya terwujud dalam sebuah pernikahan. Bukan ia yang menerimaku, tapi ayahnya yang langsung setuju ketika aku membawa rombongan keluarga kecilku ke rumahnya. Tidak masalah, sebelum akad dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku.
Dan tangisannya itu karena ia sangat bahagia dan tidak sanggup lagi menahannya di dada. Baginya memiliki keluarga, ayah dan ibu, adalah hadiah terbesar Tuhan untuknya. Ditambah lagi dengan seorang yang sangat ia sayangi menjadi suaminya. Itu sudah berlebihan baginya. Tapi aku meyakinkannya, ini hadiah Tuhan untuknya karena bersabar selama ini, tulus dan baik pada semua orang. Juga hadiah untukku karena telah memberiku Intan yang sangat bersinar, menyilaukan.
Aku mendekapnya agar ia merasa nyaman, tak lama ia tertidur, cantik sekali melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Aku menghabiskan malam itu dengan memandangi wajahnya hingga aku tertidur. Pagi hari rumah kembali ramai. Intan pergi untuk selamanya. Kejutan kesekian yang ia berikan. Aku tidak menangis meski baru tahu kalau sudah dua tahun terakhir dia sakit parah. Dokter yang memberitahuku mengaku kalau Intan merahasiakannya dari siapapun. Aku mengamuk, membanting apapun yang dapat kujangkau. Hingga aku menemukan beling yang akan kupakai memotong urat nadi di pergelanganku, wajah Intan muncul dibenakku, sedih. Aku terduduk lemas, "Intan, maafkan aku. Aku tidak sekuat dirimu."
Beling itu terlepas, semua keluarga terutama ayah Intan mendekat ke arahku, memeluk. Maafkan aku Intan, maaf.

[Sesedih apapun, jangan pernah berpikiran bodoh untuk bunuh diri. Nyawa itu milik Tuhan, bukan hak mu untuk  mengakhirinya.]

9/06/2014

#7. Ranting Kering



Kuliah hari ini disibukkan dengan praktikum Biologi. Mata kuliah yang selalu berhasil membuat Moza menangis. Membedah katak (jenis hewan peliharaannya), menggambar struktur tubuh cumi (bukan cumi-nya, Moza tidak bisa menggambar), adalah bagian dari pelajaran biologi yang tidak ia sukai. Beruntung dia memiliki Gilang dan Fauzan. Mereka berdua adalah sahabat Moza, mereka tetangga sejak mereka kecil. Gilang yang dewasa dan pendiam, Fauzan yang lincah dan paling tampan, Moza yang paling cerdas tapi kekanakan. 

“Kalian tidak bosan bertiga terus? Ketemu tiap hari dari TK sampai kuliah? Ajak cewek kek ke rumah sekali-kali,” sindir ibu Gilang suatu hari ketika mereka berkumpul.

“Semua cewek sama tante, sama nyebelinnya!” jawab Moza.

Ibu Gilang hanya tersenyum kecut dan mengacak rambut Moza kemudian berlalu meninggalkan mereka.

“Serius kamu belum jatuh cinta?” selidik Fauzan pada Moza.

Yang ditanya malah cengengesan dan membalas tatapan Fauzan. Gilang tertawa di sudut kursi melihat tingkah kedua sahabatnya.

“Kamu kan yang paling ganteng diantara kita, sudah punya pacar?”
“Ganteng bukan berarti harus punya pacar kan?”
“Tapi mustahil orang ganteng tidak punya pacar!”
“Berarti kamu jelek karena tidak punya pacar.”

Serta banyak pertanyaan lainnya yang meluncur dari bibir keduanya. Gilang menjadi sebal dan melerai.

“Sudah…Sekarang coba jawab pertanyaanku,” keduanya menoleh dengan wajah heran lalu berubah serius.
Gilang memperbaiki posisi duduknya kemudian dengan tenang bertanya.

“Seandainya kita bertiga jatuh cinta pada orang yang sama, apa yang akan kalian lakukan?”

Entah dari mana pertanyaan itu berasal, Gilang juga tidak tahu. Tadinya ini hanya cara agar Fauzan dan Moza berhenti berdebat mengenai kata ganteng dan kata pacar. Tapi pertanyaan ini telah dianggap serius oleh mereka berdua.

Maka Moza dengan yakin menjawab, “Aku akan menghabiskan waktuku bersamanya, agar dia tidak punya waktu bersama kalian.” Benar-benar egois.

Fauzan berpikir sejenak dan menjawab setelah melempar senyum sinisnya pada Moza. “Kita harus bersaing secara sehat, dan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada si gadis ini."

Gilang tersenyum puas, matanya berbicara. Dari sana Moza dan Fauzan mengerti, mereka tidak perlu penjelasan, jawaban Gilang sama dengan Fauzan.

Setahun setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Gilang, seorang gadis memasuki kehidupan mereka. Popi, sepupu Moza yang beda setahun dari mereka. Popi pindah ke rumah Moza karena akan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Moza. Mau tidak mau mereka kenal dan akrab dalam waktu singkat. Kini mereka ber-empat. Kemana-mana selalu berempat. Popi sangat mengagumi Fauzan yang tampan tapi selalu menempel pada Gilang yang sangat ramah dan dewasa. Sementara sepupunya sendiri tak ia hiraukan.

Suatu hari yang cerah dibawah pohon tanpa daun sehelai pun, Gilang duduk sendiri tanpa kedua sahabatnya, bahkan Popi. Ia sendiri, tak ada yang tahu ia di sana. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Gilang menemukan catatan Fauzan. Banyak tulisan di sana, puisi, sajak, cerita, tentang betapa cantik, pintar, dan polosnya seorang Popi, tentang perasaan Fauzan padanya, tentang betapa besar rasa yang kini ia sembunyikan. Rasa yang disembunyikan. Ini yang membuat jantung Gilang bagai ditabuh.

“Mengapa ia harus menyembunyikan perasaannya? Kenapa ia tak langsung saja memberitahu Popi?” tanyanya dalam hati.

Jantung Gilang bagai ditabuh semakin keras saat membaca halaman selanjutnya. Fauzan tahu betapa Gilang sangat menyayangi Popi, bahkan mungkin sebaliknya. Gilang mencintai Popi lebih dari yang Fauzan rasakan. Ini yang membuat Gilang seolah kehabisan tenaga, duduk terkulai, lemas. Apa yang harus ia lakukan?

Di bawah pohon ini Gilang terduduk memikirkan semua, perasaannya, cintanya, persahabatannya. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepalanya. Sebuah ranting yang patah dari pohon itu, rapuh, mati. Gilang menggenggamnya dan tersenyum. Kini ia mengerti apa yang harus ia lakukan.

Senja baru saja berlalu. 47 detik yang indah Gilang lewatkan dengan membereskan barang-barangnya. Ia memutuskan untuk menerima beasiswa yang ditawarkan sebuah universitas di luar negeri. Tentu saja dengan sejuta alasan, agar tak ada yang curiga. Ibunya heran, “Mengapa tiba-tiba?” tapi Gilang hanya menjawabnya dengan pelukan erat. Ibunya mengerti, Gilang tidak perlu menjelaskannya. Ibu tahu apa yang terjadi selama ini, ibu tahu bagaimana sifat Gilang.

Penerbangan malam, pesawat mengangkasa dengan tenang. Gilang melihat keindahan kota di malam hari dari jendela. Ia tersenyum. Pelukan hangat sahabatnya tadi membuatnya tenang. Setidaknya mereka tahu ia pergi untuk belajar, bukan menghindar.

Empat tahun berlalu. Di negeri orang Gilang berjalan sendirian, menikmati guyuran salju tipis yang sangat indah. Sebentar lagi ia pulang. Langkahnya terhenti ketika sesuatu terjatuh di depan kakinya. Ranting pohon. Sekarang ia berada di bawah sebuah pohon tanpa daun. Ia memungutnya, ranting itu mengingatkannya pada sahabatnya.

Fauzan, aku belum memberitahumu sesuatu. Kau ingat pertanyaanku? Seandainya kita bertiga jatuh cinta pada orang yang sama, apa yang akan kalian lakukan? Aku tidak menjawabnya waktu itu karena aku sependapat denganmu. Tapi ketika hal itu benar-benar terjadi, jawabanku berubah. Kalau kita mencintai orang yang sama, jika itu untuk sahabatku, aku akan mengalah.”

Gilang menggenggam ranting itu, memasukkan ke saku mantelnya. Udara dingin mulai berkurang, cahaya matahari menembus awan, musim semi segera tiba.

9/02/2014

#6. Her Life



(Foto ini hanya rekaan)


Namaku Windy, 27 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta di jantung ibukota Sulawesi Selatan. Sudah 10 tahun aku berdomisili di kota ini, sejak ayah dan ibu bertengkar. Mereka memikirkan diri mereka sendiri tanpa mempedulikan aku, satu-satunya putri mereka. Aku pergi dari rumah, meninggalkan mereka dengan sejuta pertengkaran yang mungkin tak pernah habis. Entahlah, sekarang jarakku ada ribuan kilometer dari mereka. Dan mereka tak pernah mencariku.

Lima tahun yang lalu aku sempat memutuskan untuk pulang, tapi gagal karena aku diterima bekerja. Jadilah aku menetap di sini hingga sekarang. Hidup sendiri selama bertahun-tahun membuatku mengerti perasaan anak-anak di panti asuhan. Aku memiliki banyak teman, tapi keluarga? Aku sudah lupa bagaimana rasanya punya keluarga. Punya ayah, punya ibu. Kadang aku merindukan mereka, tapi tertepis dengan kebencianku sebelumnya. Hingga suatu hari di sebuah Café di sudut kota, aku bertemu seseorang, Ryan. Dialah yang mengingatkanku kembali tentang arti sebuah keluarga, tentang betapa pentingnya menghormati kedua orang tua. Darinya aku mencoba untuk membuang kebencianku dan mulai mencari tahu kabar ayah dan ibu. Semua yang Ryan katakan benar, tapi andai saja dia mengetahui apa yang terjadi, apakah dia akan berkata seperti itu?

Prangggg!!! Suara pecahan terdengar dari dapur. Aku yang mendengarnya bergegas ke arah suara itu. Tapi belum sampai, aku sudah mendengar yang lain. Nada marah ayah dan teriakan histeris ibu. Aku tidak bermaksud menguping, tapi karena suara mereka sangat keras, tentu saja aku mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mencerna semua kata yang keluar dari mulut mereka. Aku anak angkat, ayah terpaksa menikahi ibu, ayah selingkuh dengan teman ibu, ibu sendiri hamil 3 minggu dan anak itu bukan keturunan ayah. Tahu yang amat keterlaluan dan tidak bisa kuterima? Pertengkaran mereka hanya karena harta. Uang!!!!

Rasanya seperti ada ribuan pisau yang berlomba-lomba menusuk jantungku, sakit sekali. Aku berjalan ke kamar mirip seperti zombie. Ku kunci pintu rapat-rapat, pertengkaran mereka masih terdengar dengan jelas. Aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak sekencang mungkin hingga akhirnya aku membuat keputusan. Ku kemasi semua barangku dan segera pergi meninggalkan rumah berlatar pertengkaran. Mereka tidak tahu itu.

Aku tidak menceritakan pada Ryan tentang alasanku membenci kedua orangtua ku, tapi ia selalu bisa memberi semacam ‘kuliah’ tentang bagaimana seharusnya kita menghormati mereka. Ryan selalu ada saat aku membutuhkannya, ia selalu menolongku tanpa kuminta. Kami sering bertemu karena ternyata kami di perusahaan yang sama. Sejak saat itu, aku mulai bisa melupakan sakit dan benci di dalam dadaku, apalagi saat bersamanya. Awal tahun ini aku mulai merasakan ada yang berbeda. Aku gemetar saat melihatnya, dan grogi setengah hidup saat ia tersenyum padaku. Aku jatuh cinta….

“Windi, makan bareng yuk,” ajak Ryan saat jam makan siang.

Aku yang menunggu momen itu tentu saja kegirangan membalas sms-nya, “Ayo, kita ketemu di kantin ya.”

Dengan ceria kubereskan mejaku dalam sekejap lalu meraih tas dan mengambil barang-barang di dalamnya. Menyisir rambut panjangku dan menatanya, merapikan bedak, memakai lip gloss, dan terakhir memastikan letak kacamataku memperlihatkan mataku yang berbinar.

“Sempurna!” pujiku dalam hati ketika melihat diriku dalam cermin mini itu.

Aku melangkahkan kaki menuju kantin dengan hati deg-deg-an.

“Pakai kemeja warna apa dia hari ini? Dasinya? Ah, dia kan malas menggunakannya apalagi sekarang waktu makan,” batinku tertawa lucu.

Tiba di kantin, aku memutar bola mata untuk mencarinya. Dan….Wowww!!!!! Dia sangat rapi. Ada apa ini? Di sudut kantin, dia melambaikan tangan padaku, disebelahnya ada seorang gadis yang tidak ku kenal, mungkin temannya. Aku menghampirinya dengan senyum dan menjabat tangan gadis di sebelahnya.

“Windi. Siapa Yan?” tanyaku menoleh pada Ryan.

“Eliana. Duduk dulu dong,” Ryan menarikkan kursi untukku. Aku hampir melayang karena bahagia.

“Wah, nama yang bagus. Seperti nama barbie ya.”

Kami tertawa bersama. Aku cepat akrab dengan Eliana, gadis itu mudah bergaul, cerdas, dan cantik. Dia sama denganku, makan dengan lahap tak peduli ada pria yang makan bersama kami. Lapar kenapa harus sok jaim?

“Win, aku mau bilang sesuatu. Tapi janji kamu tidak akan teriak!” Ryan mengganti topik pembicaraan.

Aku mulai curiga. “Ulang tahunku masih lama Yan, jangan kasih surprise sekarang,” candaku yang membuatk semua kembali tertawa.

“Bukan itu. Aku dan Eliana akan menikah, dan kami ingin kamu yang jadi host-nya,” wajahku berubah seketika.

“Loh, kok diam? Maaf ya, baru kasih tahu sekarang. Windi?? Win!!”

“Eh, iya. Aku cuma kaget, kamu kan tidak pernah cerita,” setengah mati aku menahan luapan kekecewaan dalam dadaku. Aku tersenyum pada mereka.

Tiga puluh menit selanjutnya akhirnya makan siang selesai, dan pembicaraan masalah pernikahan itu juga selesai. Setelah Ryan mengantar Eliana keluar kantin, aku berlari ke toilet. Menatap wajahku di cermin, pucat. Ada air mata di sana, namun tak ada suara. Hatiku kembali sakit. Pulang dari kantor aku sengaja tidak segera kembali ke rumah. Aku memilih jalan-jalan, menenangkan hati dan pikiran yang benar-benar berantakan. LAGI? Aku kembali sakit? Saat aku mulai mencintai seseorang, orang itu akan menikah dengan orang lain? Skenario apa ini!!!! Ingin rasanya aku berteriak.

Sepuluh tahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, hatiku tak sesakit ini. Entah apa yang Tuhan rencanakan untukku, kucoba menerima keadaan, meskipun itu berat. Toh, aku pernah melaluinya. Ayah, ibu, aku butuh kalian. Tolong peluk aku…

Langit mulai memerah, senja yang selalu kusuka mengobati sedihku dengan pesonanya yang megah di tepi pantai kota Makassar.