Hari ke-13 sejak kejadian itu. Maya tidak pernah lagi berbicara dengan Min, sahabatnya. Konflik yang terjadi antara dua makhluk hawa ini sulit dimengerti, hanya masalah sepele. Min membahas hal tentang laporan kelompok di facebook, hanya itu. Tapi Maya luar biasa marah gara-gara itu, mungkin dia tersinggung dengan kata-kata Min. Tak ada yang berani bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Karena sikap diam Maya sangat menyeramkan daripada ketika ia berteriak marah-marah. Min? Jangan tanya, dia tidak akan bicara.
"Maya...." Min mencoba menyamai langkah Maya di koridor ruangan.
Langkah Maya terhenti, menoleh, menatap penuh kebencian, dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Sejak saat itu, Min tidak pernah lagi mencoba untuk mendekati Maya. Semua usahanya untuk berbaikan tidak direspon. Kampus terasa sepi dengan sikap diam mereka. Karena biasanya merekalah yang membuat kelas ramai oleh teriakan dan canda tawa. Kini semua hilang, bagai jejak yang terhapus hujan. Lenyap tak berbekas. Situasi kelas seperti sedang berduka.
Antara takut, penasaran, dan jengkel, seorang teman mereka berani mengambil resiko apapun demi informasi 'apa yang sebenarnya membuat Maya marah?'
"Hei gadis..." Bayu mencoba gombalannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Maya dingin.
"Jutek banget sih Neng.... Aku mau tau, kenapa sih kamu sama Min diam-diaman? Kelas jadi punya aura horror tau! Biasanya kan kalian...."
"Stop Bayu. Ini bukan urusan kamu."
"Fine," Bayu mundur tanpa disuruh, angkat tangan meninggalkan Maya yang kembali sibuk menatap buku didepannya.
Bayu mendapat seruan Huuuu..... dari teman-temannya di kejauhan. Gagal total!
Hujan di Desember ini kembali menyapa. Langit gelap membuat sebagian besar mahasiswa betah di kampus, menunggu hujan reda. Tidak terkecuali Maya. Dia menatap kosong hujan yang sangat berisik di luar sana. Di pojok ruangan ada Min yang menatapnya prihatin, sedih, putus asa. Dia mengumpulkan keberanian dan maju duduk di bangku sebelah Maya.
"Melamunkan apa Maya?" Tanya Min lenbut.
Maya tersentak sadar dan hendak berdiri, tapi Min memegang tangannya.
"Dengar aku dulu Maya, please..." Min memohon.
Tapi Maya tetap keras kepala, ia mengibaskan tangannya menyebabkan pegangan Min terlepas, lalu ia beranjak keluar. Tapi Min belum menyerah, ia mengikuti Maya kemanapun ia pergi. Min heran karena langkah Maya menuju lantai paling atas, puncak gedung!
"Jangan-jangan Maya ingin bunuh diri," pikir Min dalam hati. Maka ia menghubungi Bayu yang otomatis langsung menyebar kesemua teman yang ada dikelas. Mereka beramai-ramai ke atap gedung kampus mereka.
Maya tidak sadar kalau Min ikut dibelakangnya. Ia mendorong pintu dengan paksa. Begitu pintu terbuka, tampias air langsung menyerbu tubuhnya, angin bertiup buas ditengah hujan yang tidak kunjung reda. Maya berjalan dibawah hujan, kini seluruh tubuhnya basah. Ia bergerak menuju pinggiran atap, tempat ia bisa melihat semua pemandangan di bawah sana.
"Tuhaaaannn!!!!!" Tiba-tiba Maya berteriak.
Min yang masih di pintu tertegun.
"Kenapa Kau memberiku ini? Belum cukup Kau mengambil kakakku?"
Min semakin heran, sementara Bayu dan yang lainnya sudah berdiri di sebelahnya. Min menahan mereka, "Maya akan bicara lebih banyak."
"Kenapa ayah dan ibu harus bercerai? Kenapa mereka tega? Kenapa aku harus dititipkan pada Paman? Kenapa aku harus pindah kuliah? Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku disini...." Maya berlutut memeluk tubuhnya yang kuyub. Menangis.
Sekarang Min dan teman-temannya mengerti kenapa Maya marah. Ini bukan tentang pembahasan di facebook, ini jelas masalah pribadi Maya. Ia tidak pernah menceritakan masalah keluarganya kepada siapapun, termasuk Min. Karena Min tidak pernah ia biarkan datang ke rumah. Min menerobos hujan mendekati sahabatnya itu.
"Kenapa kamu tidak cerita Maya? Itu sudah tugasku untuk mendengar keluh kesahmu."
Maya menoleh. "Sejak kapan kamu disini?"
"Tidak penting. Yang jelas aku mendengar semua yang baru kamu katakan." Min ikut berlutut di samping Maya.
"Maaf Min. Aku tidak bisa cerita. Aku hanya marah, pada ayah, ibu, Tuhan, dan nasibku! Dunia tidak adil."
"Maya, kau menganggap kami apa?" Bayu menyahut, ikut bermandi hujan.
"Jika kami bukan temanmu, kenapa kamu harus takut kehilangan kami?"
"Kenapa tidak cerita pada kami?"
"Bukankah itu gunanya teman?"
Satu persatu temannya maju. Maya tidak menyangka apa yang dilihatnya. Teman-temannya yang dia hindari, dia jauhi, semua ada di sana, basah oleh hujan, menyunggingkan senyum tulus mereka.
"Kami disini untuk kamu, kamu tidak sendiri Maya," Min memeluk sahabatnya.
Air mata Maya tumpah, tangisnya semakin keras, sesenggukan, yang disela-selanya ada ucapan "Terimakasih teman-teman." Semua temannya menghampiri, pelukan massal ditengah hujan deras.
Langit ibukota masih gelap, tapi hujan telah berhenti. Jejak horror didalam kampus telah terbawa pergi bersama hujan. Maya memberanikan diri menyampaikan pendapat pada orang tuanya, ia tak akan pindah, ia akan mencari kontrakan, ia akan bekerja, ia sudah dewasa!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar