Lembab. Langit baru saja selesai menumpahkan airnya. Aku menarik nafas berat, ini benar-benar berat. Hujan selalu berhasil mengingatkanku padamu. Kau yang selalu menyukai hujan dan aku yang sangat membencinya. Tapi berkatmu, aku bisa melalui setengah tahun musim hujan dengan senyum dan tawa setiap hari. Karena kau selalu bersamaku, menemani kemanapun dan apapun kekacauan yang kulakukan. Kepergianmu tahun lalu sungguh sebuah kejutan menakjubkan, tepat di hari ulang tahunku. Kupikir telepon pertama yang kuterima pagi itu adalah darimu, memang disana tertulis namamu "Vitamin Kebahagiaan" yang kau tulis sendiri di ponselku. Tapi yang berbicara bukan kau, tapi orang yang membawamu ke rumah sakit. Aku shock ketika mendengar kabar kecelakaan itu. Lututku gemetar, tubuhku lemas. Orang itu berkata lenganmu luka, kakimu patah, dan darah terus mengalir dari kepalamu. Dan kau pergi sebelum aku melihatmu dalam keadaan bernyawa untuk terakhir kalinya. Tega sekali kau meninggalkanku.
Hujan yang turun tadi mengingatkanku saat pertama kita bertemu. Waktu itu aku sedang berjualan terompet, memanfaatkan momen tahun baru untuk menambah uang saku. Penjual terompet lainnya memaksaku pergi dari tempatku berjualan, karena dianggap mengambil rejeki mereka. Aku bersiap pergi dan kau muncul tiba-tiba menghentikan mereka. Tanpa pikir panjang memborong jualan mereka, semua laku, habis. Saat aku bertanya kenapa kau melakukannya, kau berkata, "Itu rejeki mereka, dan kau membutuhkan bantuan," tersenyum menepuk pundakku.
"Lalu akan kau apakan terompet sebanyak ini?" tanyaku.
Lagi-lagi kau tersenyum, menelepon sebentar lalu mengangkut semua terompetku ke dalam bagasi mobil tanpa persetujuanku.
"Jangan cemas, aku tidak akan melukaimu," katamu ketika melihat wajah tegangku selama perjalanan.
Tak berapa lama kita tiba disebuah tempat yang tidak pernah terlintas dibenakku akan dikunjungi orang sepertimu, panti asuhan. Begitu mobil memasuki pagar, belasan anak-anak keluar dari rumah mungil itu, menghampiri dan mencium tangan kita berdua. Kau mengeluarkan terompet itu dan membuat mereka semua bersorak. Kau memperkenalkan aku sebagai temanmu yang pandai membuat terompet, padahal kau belum tahu namaku.
Aku heran, sekaligus senang dengan hal spontan yang kau lakukan saat itu. Kita mengajari anak-anak panti cara membuat terompet, mereka hormat dan menghargai kita, mereka lucu, dan rasanya seperti kita sudah kenal bertahun-tahun. Setelah semua anak-anak tidur, kau menjelaskan tanpa kutanya. Kau berasal dari panti itu, yatim piatu. Setelah jatuh bangun berkali-kali akhirnya usahamu sukses, kau satu-satunya penyumbang panti yang perhatian dan selalu memastikan anak-anak tak kekurangan apapun.
Saat aku mengamatimu bercerita, aku baru sadar kau memancarkan aura kebijakan, kedewasaan, yang jarang kulihat pada orang-orang seumuran kita. Kau santun, tampan, dan kaya. Mengapa memilih berteman denganku yang kurus, hitam, dan pendiam? Kau selalu tertawa jika aku menanyakan itu dan mengatakan ketampananku hilang jika aku mengatakannya. Kau benar-benar aneh.
Setelah malam itu, kita rutin bertemu dan kita menjadi akrab. Kita menjalani hidup kita masing-masing tanpa ada perselisihan yang membuat pertemanan ini canggung. Kau selalu mengalah. Bahkan ketika kau menyukai seseorang. Demi menemaniku bermain bola, kau mengabaikan janji nonton bersamanya. Kau memang bodoh kawan. Kau tahu, dia memarahiku hari itu, rencananya gagal karena aku. Tapi lagi-lagi kau berkata tidak apa-apa. Bisakah kau marah sekali saja?
Sekarang hingga akhir hayatmu, kau belum pernah memarahiku. Kau tidak pernah mengeluh, membentak, atau menyalahkanku. Apa yang bisa kukenang sekarang? Ketika kita bermain hujan? Ya, waktu itu kita terjebak macet, hujan terus tumpah, dan air semakin meninggi, banjir. Kita bertaruh siapa yang bisa berlari hingga lampu merah dan kembali ke mobil dalam keadaan basah. Kau benar-benar gila karena membuat aku melakukannya!
Setahun sudah kepergianmu, aku tidak dapat berkata apa-apa. Semoga kau bahagia di sana. Jangan khawatirkan anak-anak, mereka sehat dan sudah besar sekarang. Kemarin mereka tidak hanya membuat terompet, tapi juga bunga kertas yang mereka jual dan hasilnya untuk membelikan bunga besar ini. Wangi semerbak yang kau cium berasal dari bunga-bunga ini, dari cinta tulus anak-anak untukmu, dari teman payah sepertiku. Iya, aku minta maaf. Aku telah mengatakan pada anak-anak dan ibu di panti bahwa kau telah pergi ke tempat yang lebih baik. Aku tidak bisa menahannya lagi, mereka terus bertanya dan kupikir ini saat yang tepat agar mereka mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Mereka sudah besar kawan, cepat atau lambat mereka akan tahu. Tapi yang bisa kupastikan mereka akan menjadi orang-orang yang sehebat bahkan lebih hebat darimu.
Akhir tahun ini masih hujan. Tentu saja sering macet, banjir, melelahkan. Tapi kau tahu, kini aku menikmatinya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar