Ini tentang sebuah pilihan. Bukan, bukan sebuah. Pilihan selalu lebih dari satu, jika tidak kita tidak perlu memilih. Ada yang pernah berkata kalau hidup itu adalah sebuah pilihan. Hidup atau mati, jika kamu pilih untuk hidup maka jalanilah dengan hati mantap.
Terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, sungguh itu benar-benar berat untuk dilakukan. Tapi hukum alam selalu berlaku, pilih satu atau kau akan kehilangan keduanya. Seperti halnya kisahku, 'cukup mudah' tapi ada yang harus dikorbankan.
Aku menyukai seseorang, yang kehidupannya jauh berbeda denganku. Dia dari kelurga terpandang dan aku dari keluarga sederhana. Dia selalu populer di sekolah dan aku makhluk 'tak terlihat' di sekolah. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjadi bagian dari gadis-gadis yang meneriaki namanya. Aku tidak pernah menyebut namanya sekalipun. Bahkan aku tidak pernah mempedulikannya atau apapun tentangnya. Karena bagiku, pria suka pamer seperti itu adalah anak manja dan sombong. Tak ada gunanya ngefans dengan orang seperti itu.
Tapi ketika kuliah semester tiga, tak sengaja kami bertemu di halte bus. Aku sempat terkejut karena dia menyapaku, dan tahu namaku. Pertemuan itu sangat singkat tapi berkesan. Malam itu aku terus memikirkannya hingga tertidur. Beberapa hari kemudian di tempat yang sama, kami bertemu lagi. Dia membantu seorang nenek naik ke bus dan memanggul barang bawaannya yang kurasa cukup berat. Aku tidak percaya dengan yang kulihat, tapi itulah kenyataan, dia sudah berubah.
Aku terkesan, tapi beberapa hari selanjutnya aku tidak pernah melihatnya lagi dan aku melupakannya begitu saja. Sebuah sedan hitam menyilaukan berhenti tepat di depanku, menyenangkan melihat warna gotic favoritku seindah itu. Kaca depannya terbuka, aku melihat pengemudinya. Seorang pria tampan dengan kaca mata hitam tersenyum ke arahku. Itu dia!
"Ayo masuk. Mau ke kampus kan?"
"Iya. Tapi terima kasih, aku naik bus saja. Sebentar lagi juga datang."
"Ayolah. Tidak setiap hari kan kita bisa bertemu seperti ini."
"Mmm....baiklah."
Aku menyerah, menerima ajakannya. Dan itu adalah pilihan pertamaku. Aku memilih ikut dengannya. Selama perjalanan tidak banyak percakapan. Aku sempat bertanya kenapa dia bisa tahu namaku. Memalukan mendengar jawabannya.
"Papan pengumuman sekolah, selalu nama pertama yang remedial ulangan fisika."
Mukaku memerah. Ingin rasanya melompat seketika keluar dari mobil. Tapi niatku urung ketika mendengarnya tertawa. Hei, tawa itu menyenangkan, tawa lepas yang menyenangkan. Aku tersenyum kecut karena malu tapi tak mampu menahan tawa saat dia mengatakan namanya juga selalu ada di lembar yang sama denganku. Ternyata dia pria yang menyenangkan. Aku menarik semua ucapanku dulu. Benar, jangan memandang orang hanya dari luar saja. Mungkin sejak itu aku mulai menyukainya.
Berbeda dengan pertemuan kami pada awalnya yang diatur oleh Tuhan, selanjutnya kami sering bertemu lagi setelah 'janjian'. Entah itu untuk jogging, makan siang, makan malam, nonton, atau sekedar jalan-jalan mengusir suntuk. Ada juga kejadian dompetnya kecopetan, ban mobil meletus, dan mobil mogok hingga aku harus mendorongnya.
Semua kesenangan itu berubah menjadi kaku saat sesuatu terjadi. Siang hari yang terik di halte bus, aku menunggu dengan tidak sabar karena sudah terlambat. Tiba-tiba sedan itu berhenti lagi-lagi tepat di depanku. Kaca mobil tidak terbuka melainkan dia yang keluar dari mobil membawa sebuah map atau semacam buku tebal, menyerahkannya kepadaku.
Aku lupa kalau sudah terlambat, kubuka buku itu. Hei, ini album foto. Semua fotoku, yang diambil tanpa kusadari. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidiki. Matanya menunjuk buku itu, buka lagi. Aku melanjutkan dan menganga setiap lembar selanjutnya dibuka. Sebodoh itukah wajahku, sejelek itu, seimut itu, seberharga itu sampai dia melakukan ini? Pertanyaan itu terjawab di lembar terakhir, ada beberapa kalimat di sana.
Aku tahu kita 'berbeda' tapi kita cocok dalam banyak hal. Aku tahu kamu bodoh, aku lebih bodoh lagi. Foto itu buktinya. Tahukah kamu kalau untuk mengambil foto tanpa sepengetahuanmu itu tidak mudah? Tapi kenapa aku melakukannya? Kurasa karena aku menyukaimu. Would you be mine?
Senyumku hilang. Apakah pria tampan dan kaya ini cocok dengan wanita sepertiku? Jujur aku senang, tapi melihat kenyataan kalau otakku yang tumpul, wajah standar, berkacamata, rambut keriting sebahu, apa yang ia harapkan dariku? Melihat perubahan wajahku, dia menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Ia menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke mobil. Aku menurut dan meminta agar ia mengantarku pulang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Dari sekian banyak gadis cantik diluar sana, dia memilihku. Lalu kenapa aku juga tak memilihnya? Bukankah aku menyukainya? Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah satu minggu, aku memutuskan untuk menerimanya. Ya, kami menjadi pasangan kekasih. Aku memilih bersamanya. Tamat.
Tidak. Hubungan kami setelah itu tetap sama seperti biasanya. Tapi semua berubah ketika pilihan itu kembali datang. Ayahnya sakit parah dan harus dibawa ke Korea Utara, karena dokter yang menangani ayahnya memiliki kenalan di sana. Katanya dokter itu adalah dokter bedah jantung terhebat. Singkatnya, semua keluarganya pindah ke sana, begitu juga dengannya. Dia membuat pilihan yang tepat, karena jika itu aku maka akan kulakukan hal yang sama.
Saat pergi dia tidak menyuruhku untuk menunggunya, atau melupakannya. Aku tahu, itu artinya dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin ini akan merubah seluruh hidupnya. Perusahaan ayahnya terancam bangkrut. Sulit bernafas ketika menatap punggungnya, berjalan menjauh, seakan aku tidak akan melihatnya lagi. Sungguh, ini sangat berat.
Enam tahun setelah kepergiannya, aku tidak mendapat kabar. Tapi seminggu yang lalu, aku menerima emailnya. Ia merindukanku, dan ia akan pulang besok! Waktu terasa berhenti. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya ketika tahu aku sudah bertunangan sebulan yang lalu dan kami akan menikah awal tahun depan. Pilihan ini sulit, tapi keputusan itu sudah diambil. Maaf....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar