Pages

9/06/2014

#7. Ranting Kering



Kuliah hari ini disibukkan dengan praktikum Biologi. Mata kuliah yang selalu berhasil membuat Moza menangis. Membedah katak (jenis hewan peliharaannya), menggambar struktur tubuh cumi (bukan cumi-nya, Moza tidak bisa menggambar), adalah bagian dari pelajaran biologi yang tidak ia sukai. Beruntung dia memiliki Gilang dan Fauzan. Mereka berdua adalah sahabat Moza, mereka tetangga sejak mereka kecil. Gilang yang dewasa dan pendiam, Fauzan yang lincah dan paling tampan, Moza yang paling cerdas tapi kekanakan. 

“Kalian tidak bosan bertiga terus? Ketemu tiap hari dari TK sampai kuliah? Ajak cewek kek ke rumah sekali-kali,” sindir ibu Gilang suatu hari ketika mereka berkumpul.

“Semua cewek sama tante, sama nyebelinnya!” jawab Moza.

Ibu Gilang hanya tersenyum kecut dan mengacak rambut Moza kemudian berlalu meninggalkan mereka.

“Serius kamu belum jatuh cinta?” selidik Fauzan pada Moza.

Yang ditanya malah cengengesan dan membalas tatapan Fauzan. Gilang tertawa di sudut kursi melihat tingkah kedua sahabatnya.

“Kamu kan yang paling ganteng diantara kita, sudah punya pacar?”
“Ganteng bukan berarti harus punya pacar kan?”
“Tapi mustahil orang ganteng tidak punya pacar!”
“Berarti kamu jelek karena tidak punya pacar.”

Serta banyak pertanyaan lainnya yang meluncur dari bibir keduanya. Gilang menjadi sebal dan melerai.

“Sudah…Sekarang coba jawab pertanyaanku,” keduanya menoleh dengan wajah heran lalu berubah serius.
Gilang memperbaiki posisi duduknya kemudian dengan tenang bertanya.

“Seandainya kita bertiga jatuh cinta pada orang yang sama, apa yang akan kalian lakukan?”

Entah dari mana pertanyaan itu berasal, Gilang juga tidak tahu. Tadinya ini hanya cara agar Fauzan dan Moza berhenti berdebat mengenai kata ganteng dan kata pacar. Tapi pertanyaan ini telah dianggap serius oleh mereka berdua.

Maka Moza dengan yakin menjawab, “Aku akan menghabiskan waktuku bersamanya, agar dia tidak punya waktu bersama kalian.” Benar-benar egois.

Fauzan berpikir sejenak dan menjawab setelah melempar senyum sinisnya pada Moza. “Kita harus bersaing secara sehat, dan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada si gadis ini."

Gilang tersenyum puas, matanya berbicara. Dari sana Moza dan Fauzan mengerti, mereka tidak perlu penjelasan, jawaban Gilang sama dengan Fauzan.

Setahun setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Gilang, seorang gadis memasuki kehidupan mereka. Popi, sepupu Moza yang beda setahun dari mereka. Popi pindah ke rumah Moza karena akan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Moza. Mau tidak mau mereka kenal dan akrab dalam waktu singkat. Kini mereka ber-empat. Kemana-mana selalu berempat. Popi sangat mengagumi Fauzan yang tampan tapi selalu menempel pada Gilang yang sangat ramah dan dewasa. Sementara sepupunya sendiri tak ia hiraukan.

Suatu hari yang cerah dibawah pohon tanpa daun sehelai pun, Gilang duduk sendiri tanpa kedua sahabatnya, bahkan Popi. Ia sendiri, tak ada yang tahu ia di sana. Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Gilang menemukan catatan Fauzan. Banyak tulisan di sana, puisi, sajak, cerita, tentang betapa cantik, pintar, dan polosnya seorang Popi, tentang perasaan Fauzan padanya, tentang betapa besar rasa yang kini ia sembunyikan. Rasa yang disembunyikan. Ini yang membuat jantung Gilang bagai ditabuh.

“Mengapa ia harus menyembunyikan perasaannya? Kenapa ia tak langsung saja memberitahu Popi?” tanyanya dalam hati.

Jantung Gilang bagai ditabuh semakin keras saat membaca halaman selanjutnya. Fauzan tahu betapa Gilang sangat menyayangi Popi, bahkan mungkin sebaliknya. Gilang mencintai Popi lebih dari yang Fauzan rasakan. Ini yang membuat Gilang seolah kehabisan tenaga, duduk terkulai, lemas. Apa yang harus ia lakukan?

Di bawah pohon ini Gilang terduduk memikirkan semua, perasaannya, cintanya, persahabatannya. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepalanya. Sebuah ranting yang patah dari pohon itu, rapuh, mati. Gilang menggenggamnya dan tersenyum. Kini ia mengerti apa yang harus ia lakukan.

Senja baru saja berlalu. 47 detik yang indah Gilang lewatkan dengan membereskan barang-barangnya. Ia memutuskan untuk menerima beasiswa yang ditawarkan sebuah universitas di luar negeri. Tentu saja dengan sejuta alasan, agar tak ada yang curiga. Ibunya heran, “Mengapa tiba-tiba?” tapi Gilang hanya menjawabnya dengan pelukan erat. Ibunya mengerti, Gilang tidak perlu menjelaskannya. Ibu tahu apa yang terjadi selama ini, ibu tahu bagaimana sifat Gilang.

Penerbangan malam, pesawat mengangkasa dengan tenang. Gilang melihat keindahan kota di malam hari dari jendela. Ia tersenyum. Pelukan hangat sahabatnya tadi membuatnya tenang. Setidaknya mereka tahu ia pergi untuk belajar, bukan menghindar.

Empat tahun berlalu. Di negeri orang Gilang berjalan sendirian, menikmati guyuran salju tipis yang sangat indah. Sebentar lagi ia pulang. Langkahnya terhenti ketika sesuatu terjatuh di depan kakinya. Ranting pohon. Sekarang ia berada di bawah sebuah pohon tanpa daun. Ia memungutnya, ranting itu mengingatkannya pada sahabatnya.

Fauzan, aku belum memberitahumu sesuatu. Kau ingat pertanyaanku? Seandainya kita bertiga jatuh cinta pada orang yang sama, apa yang akan kalian lakukan? Aku tidak menjawabnya waktu itu karena aku sependapat denganmu. Tapi ketika hal itu benar-benar terjadi, jawabanku berubah. Kalau kita mencintai orang yang sama, jika itu untuk sahabatku, aku akan mengalah.”

Gilang menggenggam ranting itu, memasukkan ke saku mantelnya. Udara dingin mulai berkurang, cahaya matahari menembus awan, musim semi segera tiba.

9/02/2014

#6. Her Life



(Foto ini hanya rekaan)


Namaku Windy, 27 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta di jantung ibukota Sulawesi Selatan. Sudah 10 tahun aku berdomisili di kota ini, sejak ayah dan ibu bertengkar. Mereka memikirkan diri mereka sendiri tanpa mempedulikan aku, satu-satunya putri mereka. Aku pergi dari rumah, meninggalkan mereka dengan sejuta pertengkaran yang mungkin tak pernah habis. Entahlah, sekarang jarakku ada ribuan kilometer dari mereka. Dan mereka tak pernah mencariku.

Lima tahun yang lalu aku sempat memutuskan untuk pulang, tapi gagal karena aku diterima bekerja. Jadilah aku menetap di sini hingga sekarang. Hidup sendiri selama bertahun-tahun membuatku mengerti perasaan anak-anak di panti asuhan. Aku memiliki banyak teman, tapi keluarga? Aku sudah lupa bagaimana rasanya punya keluarga. Punya ayah, punya ibu. Kadang aku merindukan mereka, tapi tertepis dengan kebencianku sebelumnya. Hingga suatu hari di sebuah Café di sudut kota, aku bertemu seseorang, Ryan. Dialah yang mengingatkanku kembali tentang arti sebuah keluarga, tentang betapa pentingnya menghormati kedua orang tua. Darinya aku mencoba untuk membuang kebencianku dan mulai mencari tahu kabar ayah dan ibu. Semua yang Ryan katakan benar, tapi andai saja dia mengetahui apa yang terjadi, apakah dia akan berkata seperti itu?

Prangggg!!! Suara pecahan terdengar dari dapur. Aku yang mendengarnya bergegas ke arah suara itu. Tapi belum sampai, aku sudah mendengar yang lain. Nada marah ayah dan teriakan histeris ibu. Aku tidak bermaksud menguping, tapi karena suara mereka sangat keras, tentu saja aku mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mencerna semua kata yang keluar dari mulut mereka. Aku anak angkat, ayah terpaksa menikahi ibu, ayah selingkuh dengan teman ibu, ibu sendiri hamil 3 minggu dan anak itu bukan keturunan ayah. Tahu yang amat keterlaluan dan tidak bisa kuterima? Pertengkaran mereka hanya karena harta. Uang!!!!

Rasanya seperti ada ribuan pisau yang berlomba-lomba menusuk jantungku, sakit sekali. Aku berjalan ke kamar mirip seperti zombie. Ku kunci pintu rapat-rapat, pertengkaran mereka masih terdengar dengan jelas. Aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak sekencang mungkin hingga akhirnya aku membuat keputusan. Ku kemasi semua barangku dan segera pergi meninggalkan rumah berlatar pertengkaran. Mereka tidak tahu itu.

Aku tidak menceritakan pada Ryan tentang alasanku membenci kedua orangtua ku, tapi ia selalu bisa memberi semacam ‘kuliah’ tentang bagaimana seharusnya kita menghormati mereka. Ryan selalu ada saat aku membutuhkannya, ia selalu menolongku tanpa kuminta. Kami sering bertemu karena ternyata kami di perusahaan yang sama. Sejak saat itu, aku mulai bisa melupakan sakit dan benci di dalam dadaku, apalagi saat bersamanya. Awal tahun ini aku mulai merasakan ada yang berbeda. Aku gemetar saat melihatnya, dan grogi setengah hidup saat ia tersenyum padaku. Aku jatuh cinta….

“Windi, makan bareng yuk,” ajak Ryan saat jam makan siang.

Aku yang menunggu momen itu tentu saja kegirangan membalas sms-nya, “Ayo, kita ketemu di kantin ya.”

Dengan ceria kubereskan mejaku dalam sekejap lalu meraih tas dan mengambil barang-barang di dalamnya. Menyisir rambut panjangku dan menatanya, merapikan bedak, memakai lip gloss, dan terakhir memastikan letak kacamataku memperlihatkan mataku yang berbinar.

“Sempurna!” pujiku dalam hati ketika melihat diriku dalam cermin mini itu.

Aku melangkahkan kaki menuju kantin dengan hati deg-deg-an.

“Pakai kemeja warna apa dia hari ini? Dasinya? Ah, dia kan malas menggunakannya apalagi sekarang waktu makan,” batinku tertawa lucu.

Tiba di kantin, aku memutar bola mata untuk mencarinya. Dan….Wowww!!!!! Dia sangat rapi. Ada apa ini? Di sudut kantin, dia melambaikan tangan padaku, disebelahnya ada seorang gadis yang tidak ku kenal, mungkin temannya. Aku menghampirinya dengan senyum dan menjabat tangan gadis di sebelahnya.

“Windi. Siapa Yan?” tanyaku menoleh pada Ryan.

“Eliana. Duduk dulu dong,” Ryan menarikkan kursi untukku. Aku hampir melayang karena bahagia.

“Wah, nama yang bagus. Seperti nama barbie ya.”

Kami tertawa bersama. Aku cepat akrab dengan Eliana, gadis itu mudah bergaul, cerdas, dan cantik. Dia sama denganku, makan dengan lahap tak peduli ada pria yang makan bersama kami. Lapar kenapa harus sok jaim?

“Win, aku mau bilang sesuatu. Tapi janji kamu tidak akan teriak!” Ryan mengganti topik pembicaraan.

Aku mulai curiga. “Ulang tahunku masih lama Yan, jangan kasih surprise sekarang,” candaku yang membuatk semua kembali tertawa.

“Bukan itu. Aku dan Eliana akan menikah, dan kami ingin kamu yang jadi host-nya,” wajahku berubah seketika.

“Loh, kok diam? Maaf ya, baru kasih tahu sekarang. Windi?? Win!!”

“Eh, iya. Aku cuma kaget, kamu kan tidak pernah cerita,” setengah mati aku menahan luapan kekecewaan dalam dadaku. Aku tersenyum pada mereka.

Tiga puluh menit selanjutnya akhirnya makan siang selesai, dan pembicaraan masalah pernikahan itu juga selesai. Setelah Ryan mengantar Eliana keluar kantin, aku berlari ke toilet. Menatap wajahku di cermin, pucat. Ada air mata di sana, namun tak ada suara. Hatiku kembali sakit. Pulang dari kantor aku sengaja tidak segera kembali ke rumah. Aku memilih jalan-jalan, menenangkan hati dan pikiran yang benar-benar berantakan. LAGI? Aku kembali sakit? Saat aku mulai mencintai seseorang, orang itu akan menikah dengan orang lain? Skenario apa ini!!!! Ingin rasanya aku berteriak.

Sepuluh tahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, hatiku tak sesakit ini. Entah apa yang Tuhan rencanakan untukku, kucoba menerima keadaan, meskipun itu berat. Toh, aku pernah melaluinya. Ayah, ibu, aku butuh kalian. Tolong peluk aku…

Langit mulai memerah, senja yang selalu kusuka mengobati sedihku dengan pesonanya yang megah di tepi pantai kota Makassar.

9/01/2014

#5. Sebab Mimpi


“Amwaaaa…!!!” pekik Nio terbangun dari tidurnya. Ini adalah mimpi buruknya yang ke sekian. Sejak beberapa minggu yang lalu mimpi itu selalu datang. Mimpi yang sama dan orang yang sama. Pekikan itu terdengar di telinga ibunya yang langsung menuju kamarnya dengan segelas air. Setelah menghabiskan air dalam satu tegukan, dia mulai tenang, bernafas dengan teratur. Mencoba untuk mengingat kembali mimpinya agar jelas, siapa wanita yang bernama Amwa itu.

“Aku tidak kenal dia, sepertinya aku mengenalnya dari alam mimpi saja,” jawabnya ketika ditanya. Kesunyian rumah yang hanya di huni oleh dia dan ibunya membuat suasana lebih sunyi. Tidak ada penjelasan untuk peristiwa ini, untuk mimpi ini. Bunga tidur yang dikatakan sebagai mimpi buruk oleh Nio. Bagaimana tidak, dalam mimpinya dia bersama orang yang bernama Amwa itu berjalan kaki di sebuah lereng, atau mungkin di pinggir jurang. Bercerita lepas, tertawa, hingga tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang menariknya ke pinggir dan jatuh ke jurang. Disitulah dimana Nio terpekik, bangun dari tidurnya. Ia merasa bersalah melihat seseorang jatuh di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Awalnya Nio menganggap ini biasa saja. Tapi beberapa bulan kemudian mimpi itu datang hampir setiap dia memejamkan mata. Kini matanya sudah seperti panda, kantung matanya semakin hari semakin jelas, Nio tidak bisa tidur, sudah berhari-hari. Akhirnya dia berpikir bahwa pasti ada sesuatu dibalik mimpi itu, sesuatu hingga mimpi itu terus mendatanginya. Apakah benar dia mengenal Amwa itu? pertanyaan itu terus ia tanyakan pada dirinya sendiri. Nio berkpikir keras, tapi tetap tak menemukan jawabannya. Akhirnya dari saran beberapa teman dia mulai mencari tahu ada apa dengan mimpi ini. “Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu.” Siapa Amwa itu? Sepulang dari kampus, dia mengumpulkan semua album fotonya, kardus-kardus berisi buku, hingga laptop dan hardisk yang menyimpan jutaan memori di dalamnya. Ibunya tak ia izinkan ikut campur karena masalah ini belum jelas. Ia tidak ingin membebani pikiran ibunya. Biarlah mimpinya untuknya seorang diri.

Berjam-jam ia memperhatikan setiap foto dalam laptop dan hardisk, tidak ada. Selanjutnya ia membongkar isi kardus. Buku cetak semasa sekolah, catatan yang berantakan, hingga lembar-lembar ujian harian ia periksa, akankah ada sesuatu yang mengingatkannya pada sosok yang bernama Amwa. Dia belum menemukannya. Berpikir sejenak, dia melanjutkan ke album foto. Album yang menumpuk itu seperti perjalanan hidupnya. Foto sejak ia bayi hingga sebesar sekarang ada di sana. Hingga matanya tertumpu pada sebuah foto, ketika ia masih di sekolah dasar. Di dalam foto itu ada dia dan teman sekelasnya. Namun tidak terlalu jelas. Tapi ia masih bisa mengenal wajah teman-temannya. Kisah kecil yang menyenangkan. Tak ada orang yang bernama Amwa dalam foto itu. Dia membuka halaman selanjutnya, sampai selesai, dia belum menemukan apa-apa. Nihil.

Nio melanjutkan pencariannya pada album yang lain, satu demi satu tapi hingga selesai tak juga ia temukan jawaban di balik mimpinya. Ibunya yang berkali-kali menelepon lewat ponselnya ia abaikan. Dia sangat penasaran dan sangat bersemangat mengerjakan apa yang sedang ia lakukan. Tumpukan album selesai, ia jengkel dan berteriak lagi. Untung ibunya belum pulang. Karena lelah akhirnya dia menuju dapur, minum, kembali ke kamar mengambil ponsel, keluar menuju ruang tengah dimana ada sofa besar yang empuk di sana. Dengan malas ia menyalakan TV dan iseng mengecek ponselnya. 23 missed call dari ibunya yang membuatnya kaget dan langsung menelepon. Ibunya lega setelah ia menelepon dan mengingatkan untuk makan dan tidur.

Meski itu sulit akhirnya Nio mengiyakan permintaan ibunya. Ia membuat nasi goreng dan memakannya di depan televisi. Sehabis mencuci piring yang ia pakai, ia kembali ke depan televisi. Menyaksikan acara yang sejak dulu tidak pernah ia tonton. “Tidak mendidik” jawabnya selalu. Beberapa menit menonton, matanya lelah. Dan tak berapa lama Nio pun tertidur, lelap di karpet depan televisi, dengan ponsel didekat kepalanya. Beberapa saat setelah ia terlelap, ponselnya berbunyi lagi, ada telepon. Sebuah panggilan tertera di layar ponselnya, ada sebuah nama di sana. Amwa.