Pages

3/20/2014

#4. Twins



"Aku ingin anak laki-laki, kembar.."

Mungkin itu yang diucapkan ibu ketika akan melahirkan kami. Aku dan saudara kembarku. Mungkin juga, karena kalimat itulah dokter memilih menyelamatkan kami daripada ibu, resiko persalinan. Dan pasti itulah sebabnya ayah sangat membenci kami. Dia sangat mencintai ibu, lebih dari siapapun dimuka bumi ini. Mungkin dia menyalahkan kami.

"Dia masih belum bisa menerima kepergian ibu kalian. Melihat kalian akan mengingatkannya kembali pada istrinya yang sama sekali tidak bisa ia lupakan. Tapi jauh dilubuk hatinya, dia sangat menyayangi kalian, Irgo, Argi," kata Om Ardi pada kami.

"Dua puluh tahun Om? Dan dia belum menerima itu?" kata adikku, bangkit dari kursi, emosi. Dia selalu begitu setiap kami membahas tentang ayah. Sementara aku? Hanya duduk diam mendengarkan, sebentar menatap Om Ardi, sebentar menatap Argi, yang saling melemparkan argumen. Sesekali aku harus menahan tangan Argi yang berusaha meraih sesuatu untuk ia hancurkan.

"Lihat Irgo, dia selalu bisa menerimaku dan menyayangiku sebagai kembarannya!" pekik Argi lagi. Kali ini aku tersenyum. Aku tahu dia sayang kepadaku melebihi siapapun di dunia ini.

"Tapi ayah?" tambahnya lagi.

Ayah adalah seorang pria yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Workholic mungkin istilah lebih tepatnya. Dia tidak pernah berada di rumah megah ini. Kalaupun iya, itu hanya beberapa jam dan sisanya dia habiskan di luar, entah di belahan bumi mana untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pertemuan dengannya di meja makan adalah saat yang selalu kami tunggu. Tapi, setiap kali makan bersama, hanya ada suara sendok dan garpu yang bergesekan. Kami bahkan kesulitan bernafas. Entah kenapa ayah sedingin itu, selalu. Dan ini adalah saat-saat dimana Argi menjadi pendiam. Ia segan, takut mungkin. Padahal selama ini ayah tidak pernah memarahi kami, menatap mata, ataupun membicarakan kekacauan-kekacauan yang dilakukan Argi. Selama ini, hanya Om Ardi yang menjaga dan mengasuh kami. Ayah tahu apa?

Tapi pagi ini berbeda, keajaiban itu datang.

"Bagaimana kuliah kalian?" tanya Ayah.

Aku dan Argi mengangkat pandangan dari piring, memberanikan diri menoleh menatap mata ayah. Ini pertama kalinya aku menatap mata itu, teduh sekali. Mungkin bagi Argi juga begitu.

"Baik," jawab kami bersamaan.

"Argi, jangan coba-coba buat masalah lagi di kampus," kalimat itu membuat Argi berhenti tersenyum.

Dan tentu saja kalimat selanjutnya untukku.

"Dan kamu, tegur adik kamu jika dia melakukan kesalahan. Jaga dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri. Buktikan kalau kalian anak ayah."

Hanya itu, dan pria yang mulai beruban itu menyelesaikan sarapannya kemudian beranjak pergi, dari Om Ardi kami tahu hari itu dia akan ke Panama.

Begitu mobil yang dikendarai ayah meninggalkan rumah, aku dan Argi berteriak bagai orang kesurupan. Kami berpelukan, berlarian naik turun tangga, mengitari setiap sudut rumah, berkejaran layaknya anak kucing. Ini keajaiban, ayah peduli pada kami! Om Ardi hanya menggeleng melihat tingkah kami.

Setelah lelah berlarian, kami mendaratkan tubuh kami di karpet depan televisi. Menarik nafas yang terengah kupandangi wajah Argi yang berpeluh. Persis sama denganku. Bola matanya bening dengan iris cokelat, alis, hidung, bibir, aku seperti bercermin. Kami benar-benar mirip. Tiba-tiba terselip sebuah rasa yang membuatku sangat merindukan ibu. Perlahan tawa Argi mereda. Dia menatap mataku, dia tahu apa yang kupikrkan. Kontak batin...

Aku bersyukur ribuan kali dan mengagung-agungkan nama-NYA. Aku senang memiliki saudara kembar. Memang Argi nakal dan sangat mudah marah, tapi denganku dia tidak pernah begitu. Usia kami yang hanya berselang dua menit tidak membuat dia harus menjadi kakak maupun adikku. Aku memberinya keleluasaan ingin menganggap aku kakak atau adiknya. Tapi dia selalu mengatakan "Kita kembar, kakak atau adik bukan masalah. Maaf saja karena aku sedikit lebih gagah."

Sebulan setelah kejadian ajaib pagi itu, Argi pergi untuk selamanya. Kecelakaan. Sepeda motornya menabrak pembatas jalan karena harus menghindari mobil dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang.

Aku berlarian dengan panik di koridor rumah sakit, menghampiri Ayah yang sudah ada di sana bersama Om Ardi yang menangis tanpa suara. Lututku lemas, tak sanggup berdiri, kembaranku ada di dalam sana, kritis. Kulihat lebam biru di rahangnya. Dahinya berdarah. Ayah mendekat, menatapku, ia tidak menangis, tapi aku tahu ada kekalutan dimatanya. Dia mengusap wajahku yang basah, sebelum memelukku. Tangisku pecah, meraung dalam pelukan ayah. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang operasi dan menyatakan mereka tidak berhasil menyelamatkan adikku.

Aku menghambur masuk diikuti ayah dan Om Ardi. Kulihat kain putih menutupi seluruh tubuh Argi. Dengan gemetar, ayah menyingkap kain itu. Barulah saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat ayah menangis, sesenggukan, hatiku sakit melihatnya seperti itu. Hati sedingin itu juga bisa menangis. Tidak, ayahku tidak dingin, pelukannya hangat. Kuhapus air mata dengan lengan kemejaku, kemudian menatap wajah kaku Argi di depanku.

Ia terlihat sedang tertidur tenang, wajahnya bercahaya meskipun dengan lebam dan sedikit darah di wajahnya. Aku menjadi tenang seketika, isakanku berangsur berhenti. Kutarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan dada bergetar.

Kuraih tangan Argi, ada tulisan di telapak tangannya. Tulisan itu sudah kabur namun masih bisa terbaca.

Ujian psikologi dengan nilai 100 untuk ayah
10 permintaan gratis untuk Irgo
=Argi & Irgo's birthday

Itu sebabnya beberapa minggu ini Argi belajar hingga tengah malam, kencan bersama buku, dan melupakan game online-nya yang sebelumnya belum pernah ia tinggalkan. Aku juga lupa kalau keesokan harinya adalah ulang tahun kami. Aku hanya sibuk mengerjakan tugas kuliah dan lupa menanyakan keberadaan Argi yang belum pulang, hingga akhirnya seseorang menelepon dengan menggunakan ponselnya dan memberitahukan kabar buruk itu.

Bertahun-tahun berlalu, ini hari ulang tahun kami. Di sampingku ada ayah dan Om Ardi, menjenguk Argi di peristirahatan terakhirnya. Di sana banyak bunga, mungkin teman-teman Argi. Tepat di depan batu nisannya, kuletakkan hal yang sangat ia inginkan. Panghargaan akan kemampuanku. Hanya dia, Argi, saudara kembar yang sangat kusayangi, yang tahu kalau aku berbakat menggambar, meskipun berkali-kali aku menyangkalnya. Sebuah perusahaan di Jepang menyukai gambarku dan menjadikannya icon untuk perusahaan mereka. Benda berkilau di depan nisan Argi ini adalah ucapan terimakasih mereka.

Sejak kepergian Argi, ayah lebih sering di rumah. Kalaupun ingin keluar negeri, lagi, ia akan mengajakku. Kini kami melewatkan banyak waktu bersama. Sesekali, aku mempelajari pekerjaan ayah yang katanya akan diteruskan padaku. Ayah tidak memaksa, tapi jika ia menginginkannya, aku akan melakukannya. 

Di ruang tamu kami di rumah, tergantung dua foto yang sangat besar, ibu dan Argi yang tersenyum. Tapi beberapa hari lagi, foto itu akan dipindahkan, karena yang akan dipasang disana adalah gambarku, dimana ada wajah ayah, ibu dan kedua anak kembarnya sebagai hadiah ulang tahun ayah. 

Dalam hati aku berharap Argi ada di sini. Menggangguku dengan suara cemprengnya. Tapi untuk yang kesekian kalinya aku bersyukur memilikinya, saudara kembarku yang gagah. Ya sedikit lebih gagah daripada aku.


3/14/2014

#3. I just....



Leukemia yang ku derita sudah stadium akhir. Aku bukan orang medis, jadi tidak bisa menjelaskan detailnya. Yang jelas penyakit keren ini sudah menggerogoti tubuhku, tinggal menunggu Israil untuk menjemputku kapan saja. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin kulakukan. Mandi hujan.

Sudah tiga belas hari aku terbaring di rumah sakit. Sudah belasan, mungkin puluhan teman yang sudah menjenguk. Tapi tak satupun dari mereka tahu tentang penyakitku, hanya orang tua, adik, dan seorang tukang ojek. Tentu saja aku tidak ingin membuat teman-temanku khawatir dan memungkinkan adanya tangisan-tangisan yang memicu pengendoran semangat hidupku seperti yang kulihat di sinetron.
 
Tukang ojek yang kumaksud adalah temanku, panggil saja dia Ben. Dia adalah orang yang paling setia padaku, melebihi kesetiaan Hachi pada tuannya. Ben selalu mengabulkan semuaaaa permintaanku, dari yang berbahaya sampai yang tidak masuk akal. Dia sering kena marah karena membelaku, padahal akulah otak dari segala keributan yang terjadi, sejak kecil sampai sekarang. Pokoknya susah senangku pasti selalu bersamanya.

“Hufftt.. Mau ngapain lagi Nyah?” keluh Ben ketika ia baru sampai dan melihat wajahku berseri. Begitulah wajahku ketika meminta sesuatu yang ‘aneh’ padanya. 
“Diluar mendung."
"Terus?"
“Kita ke atap rumah sakit, tapi jangan sampai ada yang tahu."
“Kamu gila ya? Kamu sakit!”
“Please...”  
“Nggak!”

Aku menunduk, menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Tidak ada suara. Perlahan terdengar suara hujan turun, semakin lama semakin deras. Aku belum mendengar suara Ben, dia pasti tahu aku marah. Aku merasa ada pergerakan di sisi tempat tidurku. 

“Tapi sebentar saja ya?” kalimat yang membuatku bangun seketika dan memeluk Ben. Setelah mengendap-endap sekitar sepuluh menit, akhirnya kami tiba di atap. Belum sempat Ben membuka payung, aku melepas pegangannya dan beranjak ke bawah hujan. Ribuan tetes air menyerbuku, rasanya segar. Kurentangkan tangan dan kuangkat wajahku menghadap langit. Sangat menyenangkan ketika kamu berada dibawah hujan tanpa takut basah!

Posisiku masih sama ketika kurasakan sesuatu menyentuh jariku, lembut. Aku membuka mata dan melihat Ben yang basah kuyub di depanku.

“Bego, kenapa tidak pakai payung?” aku tertawa. 
Will you marry me?” tawaku terhenti perlahan, wajah Ben tampak serius. Ia menoleh ke tangan kiriku yang masih terentang. Oh Tuhan, di sana, di jari manisku sudah melingkar sebuah cincin, itulah sentuhan yang kurasakan tadi. Ben melamarku.

“Kamu tau ini tidak mungkin, waktuku tidak lama lagi."

 “Aku tahu, aku tidak peduli mau sehari, dua hari, atau beberapa jam, aku tidak peduli. Aku cuma ingin kamu tau kalau aku cinta sama kamu, sejak dulu!”, Ben menegaskan kata sejak dulu. 

“Dan aku ingin kamu menjadi istriku, jadi aku harap kamu tidak lagi menyuruhku pulang untuk beristirahat atau apalah. I just…” Ben menarik nafas berat. “Aku hanya ingin menjagamu, seperti yang kulakukan sejak dulu.”

Aku menangis, tidak sanggup menatap matanya lagi. 

So, wanna be my life partner?” pintanya dengan kalimat lain. Aku mengangkat kepala dan mengangguk. Senyum kami mengembang, tiba-tiba aku merasa lelah dan tidak sanggup berdiri lagi. Ben menahan tubuhku, wajahnya tampak cemas. Aku menggenggam tangannya, 

“Ben….dingin,” ia mendekapku. Kudengar suaranya memanggil namaku terus-menerus. Ia mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar, memanggil dokter yang segera membawaku ke UGD.

Beberapa jam kemudian aku baru sadar. Kutatap wajah kedua orang tuaku, mereka tampak cemas, terlebih adikku yang masih SMP. Di sisi kamar yang lain kutemui wajah Ben yang persis zombie. Aku merasa bersalah telah membuatnya khawatir. Dengan sekuat tenaga aku tersenyum, mengatakan aku baik-baik saja, meskipun aku tahu mereka tidak akan percaya. Pasti dokter telah memberi diagnosa terakhirnya. Kulihat ibu menangis dan berjalan keluar, ayah mengikutinya setelah mencium keningku. Adikku yang sesenggukan memelukku erat, kurasakan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku tersenyum, mencium keningnya, “Tolong jaga ayah dan ibu ya? Dan turuti apapun kata kak Ben” ia mengangguk dan memelukku lagi, kali ini tangisannya lebih kencang. Ben berinisiatif untuk menenangkan adikku, setelah berbicara sebentar akhirnya tangis adikku mereda, ia pun keluar kamar setelah memelukku untuk yang kesekian kalinya.

Waktuku tidak lama lagi, pasti itu yang dikatakan dokter. Mereka tidak perlu memberitahuku, cukup dengan melihat wajah Ben yang seperti ini. 
“Tolong jangan menangis juga.” 
“Tidak akan,” katanya sok tegar. 
Ben membelai tanganku lembut, mengusap-usap cincin yang melingkar di jariku. Adegan itu cukup lama, tidak ada yang ingin mengeluarkan suara lebih dulu, tidak tahu harus berkata apa.

“Aku mengantuk, mau tidur”, kulihat matanya membulat tapi segera ia berkata “Oke. Aku ada di sini sampai kamu bangun,” aku mengangguk tepat saat melihat air mata Ben jatuh. “Aku juga cinta kamu Ben, sejak dulu,” kataku tersenyum bahagia kemudian tertidur dan tidak pernah bangun lagi.

3/11/2014

#2. Eiittss..



Jantungku serasa akan berhenti ketika melihat wanita paruh baya ini terbaring lemah. Ia mengingatkanku pada ibuku yang telah lebih dulu menghadapNya­­­­. Entah keberanian dari mana yang membuatku datang ke tempat ini, rumah sakit. Tempat yang tidak pernah ingin kukunjungi setelah ibuku meninggal. Wanita yang ada di depanku sedang tertidur lelap tanpa ada seorangpun yang menemani. Tiba-tiba mata wanita ini terbuka.

Melihatnya keheranan, aku memasang senyum dan mencoba mendekat. Setelah duduk di samping tempat tidurnya, aku memperkenalkan diri kemudian mencium tangannya. Wajahnya berseri seketika, mungkin karena tahu aku bukan orang jahat. Sejenak terlintas di benakku kejadian barusan, aku yang menyebabkan wanita ini ada di rumah sakit. Rasa bersalah membuatku secara spontan membawanya ke rumah sakit. Aku meminta maaf berkali-kali, tapi wanita ini hanya tersenyum. Ia membelai rambutku tepat ketika seseorang membuka pintu.

“Meta?” kata seseorang yang datang itu. Aku mematung, mataku membulat, tanganku dingin, beku.

“Reza? Kamu mengenalnya? Dia yang membawa ibu kemari, berterima kasihlah sayang.”

Reza mengucapkan terima kasih lalu mendekati ibunya yang kini sudah baikan. Aku masih di sisi tempat tidur, tidak percaya dengan yang terjadi. Wanita yang kutabrak tadi adalah ibunya Reza, pria yang selama ini membuat jantungku berdegup kencang setiap melihatnya. Aku membulatkan mata sekali lagi. Meta? Dia tahu namaku? Aku menoleh dan mendapatkan matanya yang melihatku heran. Aku permisi dan berjalan keluar.

Hei!!!! Dia menjajari langkahku. 

Thanks,” katanya lagi.

“Aku yang membuat ibu kamu ada di sini, please jangan bilang terima kasih terus, aku yang seharusnya minta maaf”.

“Meta,” Ya Tuhan, dia menyebut namaku lagi, sambil menatapku!!!! 

“Tapi ibuku senang, terima kasih ya...” 

Aneh!! Aku yakin ada yang aneh!! Seharusnya Reza dan ibunya marah, atau paling tidak mengomel dan memberi nasehat panjang agar aku lebih berhati-hati lagi, tapi ini….terima kasih?? Bodo’ ah, aku pulang dengan perasaan campur aduk. Kaget karena sudah menabrak orang dan ternyata orang itu adalah ibu dari orang yang kusuka. Senang karena Reza tahu namaku, dia mengenalku!! (Ingin rasanya aku melompat).

Seminggu lagi aku wisuda, dan akan melanjutkannya di tempat yang jauh. Aku tidak sebahagia orang-orang yang wisuda pada umumnya. Aku justru merasa sedih, karena otomatis akan jauh dari Reza. Setahuku dia tidak mengenalku, kami satu fakultas tapi beda jurusan. Aku mengenalnya hanya dari cerita temanku yang ternyata adalah teman SMA-nya. Itu yang membuatku terkejut ketika tahu dia mengenalku, dia kan cueknya minta ampun.

Malam itu aku bersama teman-temanku, setelah menonton film dan belanja buku, komik lebih tepatnya :D kami berencana membeli es krim. Tak jauh dari tempat membeli es krim, kami melihat kerumunan orang ditengah mall. Aku melihat ke lantai dua, tiga, dan seterusnya, semua orang berkerumun ingin tahu apa yang terjadi, demikian juga kami. Tiba-tiba dari speaker terdengar suara.

“Mau tidak jadi yang terakhir buatku?” Wuiihhh…serentak semua orang berteriak dan bertepuk tangan, termasuk aku dan teman-temanku.

Kembali ada suara dari speaker yang membuat semua orang terdiam.

“Tolong jangan pergi. Aku tidak akan sanggup lebih jauh lagi dari kamu. Selama ini aku hanya diam dan membiarkan perasaanku begitu saja, tapi akhirnya aku sadar kalau aku tidak mau kehilangan kamu. Karena itu, hari ini aku ingin kamu tahu dan semua orang yang ada di sini menjadi saksinya.”

Aku terdiam, teringat seseorang. Siapa lagi kalau bukan Reza, seandainya dia yang mengatakan itu padaku, menunjukkan pada semua orang. Ahhh…. Pasti rasanya sangat menyenangkan.

“Aku cinta kamu Meta Putri Annisa,” kali ini teriakan lebih riuh dan tepuk tangan membahana dari semua penjuru, terutama dari teman-temanku.

“Meta, itu buat kamu, dia nyebut nama kamu!!!!” seru teman-temanku. Heh?? Aku mencoba mengingat nama yang disebutkan tadi.

“Meta Putri Annisa. Iya, kamu yang sekarang jalan bareng Lika, Dian, dan Lona. Yang selalu memakai jam tangan kemana-mana, yang selalu senang dengan es krim cokelat, yang membawa ibuku ke rumah sakit.”
Ya Tuhan, doaku terkabul secepat ini? Orang yang mengatakan itu benar-benar Reza, dan kata-kata itu benar untukku! Kini ia berjalan menghampiriku, tepuk tangan belum pernah terhenti dan semakin riuh saja. Reza semakin dekat, aku merasa hampir pingsan, ini terlalu mendadak, aku belum siap. Ingin lari, tapi teman-temanku menjadi dinding yang melarangku kemana-mana. Aku pasrah, Reza kini tepat di depanku, mendekatkan wajahnya, mengangkat tangannya untuk menghapus es krim dipinggir bibirku. Bikin malu saja!

“Cieeeeeee” terdengar dari seluruh pengunjung mall yang menyaksikan. Reza kembali mendekatkan mike ke mulutnya. 

“Meta, aku sayang kamu, aku mencintai kamu, kalau itu butuh alasan baiklah, karena hati kamu bersih, karena itu juga ibuku menyukaimu, beliau ingin kita menikah. Aku tahu kamu akan kuliah keluar negeri, aku tidak akan menghalangi itu, tapi sebelum kamu ke sana aku ingin kamu sudah sah menjadi istriku. Jadi maukah kamu memenuhi keinginan ibuku, dan mengabulkan cita-citaku untuk bersama kamu dalam sebuah ikatan suci??”

Demi Tuhan, aku ingin pingsan. Tapi rasanya terlalu bodoh jika itu sampai terjadi. Kukuatkan mental, kutarik nafas panjang sebelum aku mengangguk dan membuat semua orang datang mengerumuni kami untuk memberi selamat, menyalami kami.

Sekarang aku di rumah sakit... LAGI!! Tapi kali ini keadaannya berbeda, Reza ada di sampingku. Ia menggenggam tanganku dan mengelap keringat di dahi dan leher ku dengan tangannya, ia tampak cemas. Kemejanya ia gulung hingga siku, dasinya sudah tak tergantung di lehernya, ia ketakutan setengah mati melihatku yang kesakitan. Aku sudah berteriak, mencakar dan menarik rambutnya. Hahaha... Ya, kami di ruang bersalin. Anak pertama kami akan segera lahir.