"Aku ingin anak laki-laki, kembar.."
Mungkin itu yang diucapkan ibu ketika akan melahirkan kami. Aku dan saudara kembarku. Mungkin juga, karena kalimat itulah dokter memilih menyelamatkan kami daripada ibu, resiko persalinan. Dan pasti itulah sebabnya ayah sangat membenci kami. Dia sangat mencintai ibu, lebih dari siapapun dimuka bumi ini. Mungkin dia menyalahkan kami.
"Dia masih belum bisa menerima kepergian ibu kalian. Melihat kalian akan mengingatkannya kembali pada istrinya yang sama sekali tidak bisa ia lupakan. Tapi jauh dilubuk hatinya, dia sangat menyayangi kalian, Irgo, Argi," kata Om Ardi pada kami.
"Dua puluh tahun Om? Dan dia belum menerima itu?" kata adikku, bangkit dari kursi, emosi. Dia selalu begitu setiap kami membahas tentang ayah. Sementara aku? Hanya duduk diam mendengarkan, sebentar menatap Om Ardi, sebentar menatap Argi, yang saling melemparkan argumen. Sesekali aku harus menahan tangan Argi yang berusaha meraih sesuatu untuk ia hancurkan.
"Lihat Irgo, dia selalu bisa menerimaku dan menyayangiku sebagai kembarannya!" pekik Argi lagi. Kali ini aku tersenyum. Aku tahu dia sayang kepadaku melebihi siapapun di dunia ini.
"Tapi ayah?" tambahnya lagi.
Ayah adalah seorang pria yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Workholic mungkin istilah lebih tepatnya. Dia tidak pernah berada di rumah megah ini. Kalaupun iya, itu hanya beberapa jam dan sisanya dia habiskan di luar, entah di belahan bumi mana untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pertemuan dengannya di meja makan adalah saat yang selalu kami tunggu. Tapi, setiap kali makan bersama, hanya ada suara sendok dan garpu yang bergesekan. Kami bahkan kesulitan bernafas. Entah kenapa ayah sedingin itu, selalu. Dan ini adalah saat-saat dimana Argi menjadi pendiam. Ia segan, takut mungkin. Padahal selama ini ayah tidak pernah memarahi kami, menatap mata, ataupun membicarakan kekacauan-kekacauan yang dilakukan Argi. Selama ini, hanya Om Ardi yang menjaga dan mengasuh kami. Ayah tahu apa?
Tapi pagi ini berbeda, keajaiban itu datang.
"Bagaimana kuliah kalian?" tanya Ayah.
Aku dan Argi mengangkat pandangan dari piring, memberanikan diri menoleh menatap mata ayah. Ini pertama kalinya aku menatap mata itu, teduh sekali. Mungkin bagi Argi juga begitu.
"Baik," jawab kami bersamaan.
"Argi, jangan coba-coba buat masalah lagi di kampus," kalimat itu membuat Argi berhenti tersenyum.
Dan tentu saja kalimat selanjutnya untukku.
"Dan kamu, tegur adik kamu jika dia melakukan kesalahan. Jaga dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri. Buktikan kalau kalian anak ayah."
Hanya itu, dan pria yang mulai beruban itu menyelesaikan sarapannya kemudian beranjak pergi, dari Om Ardi kami tahu hari itu dia akan ke Panama.
Begitu mobil yang dikendarai ayah meninggalkan rumah, aku dan Argi berteriak bagai orang kesurupan. Kami berpelukan, berlarian naik turun tangga, mengitari setiap sudut rumah, berkejaran layaknya anak kucing. Ini keajaiban, ayah peduli pada kami! Om Ardi hanya menggeleng melihat tingkah kami.
Setelah lelah berlarian, kami mendaratkan tubuh kami di karpet depan televisi. Menarik nafas yang terengah kupandangi wajah Argi yang berpeluh. Persis sama denganku. Bola matanya bening dengan iris cokelat, alis, hidung, bibir, aku seperti bercermin. Kami benar-benar mirip. Tiba-tiba terselip sebuah rasa yang membuatku sangat merindukan ibu. Perlahan tawa Argi mereda. Dia menatap mataku, dia tahu apa yang kupikrkan. Kontak batin...
Aku bersyukur ribuan kali dan mengagung-agungkan nama-NYA. Aku senang memiliki saudara kembar. Memang Argi nakal dan sangat mudah marah, tapi denganku dia tidak pernah begitu. Usia kami yang hanya berselang dua menit tidak membuat dia harus menjadi kakak maupun adikku. Aku memberinya keleluasaan ingin menganggap aku kakak atau adiknya. Tapi dia selalu mengatakan "Kita kembar, kakak atau adik bukan masalah. Maaf saja karena aku sedikit lebih gagah."
Sebulan setelah kejadian ajaib pagi itu, Argi pergi untuk selamanya. Kecelakaan. Sepeda motornya menabrak pembatas jalan karena harus menghindari mobil dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang.
Aku berlarian dengan panik di koridor rumah sakit, menghampiri Ayah yang sudah ada di sana bersama Om Ardi yang menangis tanpa suara. Lututku lemas, tak sanggup berdiri, kembaranku ada di dalam sana, kritis. Kulihat lebam biru di rahangnya. Dahinya berdarah. Ayah mendekat, menatapku, ia tidak menangis, tapi aku tahu ada kekalutan dimatanya. Dia mengusap wajahku yang basah, sebelum memelukku. Tangisku pecah, meraung dalam pelukan ayah. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang operasi dan menyatakan mereka tidak berhasil menyelamatkan adikku.
Aku menghambur masuk diikuti ayah dan Om Ardi. Kulihat kain putih menutupi seluruh tubuh Argi. Dengan gemetar, ayah menyingkap kain itu. Barulah saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat ayah menangis, sesenggukan, hatiku sakit melihatnya seperti itu. Hati sedingin itu juga bisa menangis. Tidak, ayahku tidak dingin, pelukannya hangat. Kuhapus air mata dengan lengan kemejaku, kemudian menatap wajah kaku Argi di depanku.
Ia terlihat sedang tertidur tenang, wajahnya bercahaya meskipun dengan lebam dan sedikit darah di wajahnya. Aku menjadi tenang seketika, isakanku berangsur berhenti. Kutarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan dada bergetar.
Kuraih tangan Argi, ada tulisan di telapak tangannya. Tulisan itu sudah kabur namun masih bisa terbaca.
Ujian psikologi dengan nilai 100 untuk ayah
10 permintaan gratis untuk Irgo
=Argi & Irgo's birthday
Itu sebabnya beberapa minggu ini Argi belajar hingga tengah malam, kencan bersama buku, dan melupakan game online-nya yang sebelumnya belum pernah ia tinggalkan. Aku juga lupa kalau keesokan harinya adalah ulang tahun kami. Aku hanya sibuk mengerjakan tugas kuliah dan lupa menanyakan keberadaan Argi yang belum pulang, hingga akhirnya seseorang menelepon dengan menggunakan ponselnya dan memberitahukan kabar buruk itu.
Bertahun-tahun berlalu, ini hari ulang tahun kami. Di sampingku ada ayah dan Om Ardi, menjenguk Argi di peristirahatan terakhirnya. Di sana banyak bunga, mungkin teman-teman Argi. Tepat di depan batu nisannya, kuletakkan hal yang sangat ia inginkan. Panghargaan akan kemampuanku. Hanya dia, Argi, saudara kembar yang sangat kusayangi, yang tahu kalau aku berbakat menggambar, meskipun berkali-kali aku menyangkalnya. Sebuah perusahaan di Jepang menyukai gambarku dan menjadikannya icon untuk perusahaan mereka. Benda berkilau di depan nisan Argi ini adalah ucapan terimakasih mereka.
Sejak kepergian Argi, ayah lebih sering di rumah. Kalaupun ingin keluar negeri, lagi, ia akan mengajakku. Kini kami melewatkan banyak waktu bersama. Sesekali, aku mempelajari pekerjaan ayah yang katanya akan diteruskan padaku. Ayah tidak memaksa, tapi jika ia menginginkannya, aku akan melakukannya.
Di ruang tamu kami di rumah, tergantung dua foto yang sangat besar, ibu dan Argi yang tersenyum. Tapi beberapa hari lagi, foto itu akan dipindahkan, karena yang akan dipasang disana adalah gambarku, dimana ada wajah ayah, ibu dan kedua anak kembarnya sebagai hadiah ulang tahun ayah.
Dalam hati aku berharap Argi ada di sini. Menggangguku dengan suara cemprengnya. Tapi untuk yang kesekian kalinya aku bersyukur memilikinya, saudara kembarku yang gagah. Ya sedikit lebih gagah daripada aku.