Leukemia yang ku derita sudah
stadium akhir. Aku bukan orang medis, jadi tidak bisa menjelaskan detailnya.
Yang jelas penyakit keren ini sudah menggerogoti tubuhku, tinggal menunggu Israil
untuk menjemputku kapan saja. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin
kulakukan. Mandi hujan.
Sudah tiga belas hari aku
terbaring di rumah sakit. Sudah belasan, mungkin puluhan teman yang sudah
menjenguk. Tapi tak satupun dari mereka tahu tentang penyakitku, hanya orang
tua, adik, dan seorang tukang ojek. Tentu saja aku tidak ingin membuat teman-temanku
khawatir dan memungkinkan adanya tangisan-tangisan yang memicu pengendoran
semangat hidupku seperti yang kulihat di sinetron.
Tukang ojek yang kumaksud adalah
temanku, panggil saja dia Ben. Dia adalah orang yang paling setia padaku,
melebihi kesetiaan Hachi pada tuannya. Ben selalu mengabulkan semuaaaa
permintaanku, dari yang berbahaya sampai yang tidak masuk akal. Dia sering kena
marah karena membelaku, padahal akulah otak dari segala keributan yang terjadi,
sejak kecil sampai sekarang. Pokoknya susah senangku pasti selalu bersamanya.
“Hufftt.. Mau ngapain lagi Nyah?”
keluh Ben ketika ia baru sampai dan melihat wajahku berseri. Begitulah wajahku
ketika meminta sesuatu yang ‘aneh’ padanya.
“Diluar mendung."
"Terus?"
“Kita
ke atap rumah sakit, tapi jangan sampai ada yang tahu."
“Kamu gila ya? Kamu
sakit!”
“Please...”
“Nggak!”
Aku menunduk, menarik selimut menutupi seluruh
tubuhku. Tidak ada suara. Perlahan terdengar suara hujan turun, semakin lama
semakin deras. Aku belum mendengar suara Ben,
dia pasti tahu aku marah. Aku merasa ada pergerakan di sisi tempat tidurku.
“Tapi sebentar saja ya?” kalimat yang membuatku bangun seketika dan memeluk Ben.
Setelah mengendap-endap sekitar sepuluh menit, akhirnya kami tiba di atap.
Belum sempat Ben membuka payung, aku melepas pegangannya dan beranjak ke bawah
hujan. Ribuan tetes air menyerbuku, rasanya segar. Kurentangkan tangan dan
kuangkat wajahku menghadap langit. Sangat menyenangkan ketika kamu berada dibawah hujan tanpa takut basah!
Posisiku masih sama ketika
kurasakan sesuatu menyentuh jariku, lembut. Aku membuka mata dan melihat Ben
yang basah kuyub di depanku.
“Bego, kenapa tidak pakai payung?” aku tertawa.
“Will you marry me?” tawaku terhenti perlahan, wajah Ben tampak serius. Ia menoleh ke
tangan kiriku yang masih terentang. Oh Tuhan, di sana, di jari manisku sudah
melingkar sebuah cincin, itulah sentuhan yang kurasakan tadi. Ben melamarku.
“Kamu tau ini tidak mungkin,
waktuku tidak lama lagi."
“Aku tahu, aku tidak peduli mau sehari, dua hari,
atau beberapa jam, aku tidak peduli. Aku cuma ingin kamu tau kalau aku cinta
sama kamu, sejak dulu!”, Ben menegaskan kata sejak dulu.
“Dan aku ingin kamu
menjadi istriku, jadi aku harap kamu tidak lagi menyuruhku pulang untuk
beristirahat atau apalah. I just…”
Ben menarik nafas berat. “Aku hanya
ingin menjagamu, seperti yang kulakukan sejak dulu.”
Aku menangis, tidak sanggup
menatap matanya lagi.
“So, wanna be my life partner?” pintanya dengan kalimat
lain. Aku mengangkat kepala dan mengangguk. Senyum kami mengembang, tiba-tiba
aku merasa lelah dan tidak sanggup berdiri lagi. Ben menahan tubuhku, wajahnya
tampak cemas. Aku menggenggam tangannya,
“Ben….dingin,” ia mendekapku. Kudengar
suaranya memanggil namaku terus-menerus. Ia mengangkat tubuhku dan membawaku ke
kamar, memanggil dokter yang segera membawaku ke UGD.
Beberapa jam kemudian aku baru
sadar. Kutatap wajah kedua orang tuaku, mereka tampak cemas, terlebih adikku
yang masih SMP. Di sisi kamar yang lain kutemui wajah Ben yang persis zombie.
Aku merasa bersalah telah membuatnya khawatir. Dengan sekuat tenaga aku
tersenyum, mengatakan aku baik-baik saja, meskipun aku tahu mereka tidak akan
percaya. Pasti dokter telah memberi diagnosa
terakhirnya. Kulihat ibu menangis dan berjalan keluar, ayah mengikutinya
setelah mencium keningku. Adikku yang sesenggukan memelukku erat, kurasakan ia
tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku tersenyum, mencium keningnya, “Tolong
jaga ayah dan ibu ya? Dan turuti apapun kata kak Ben” ia mengangguk dan
memelukku lagi, kali ini tangisannya lebih kencang. Ben berinisiatif untuk
menenangkan adikku, setelah berbicara sebentar akhirnya tangis adikku mereda,
ia pun keluar kamar setelah memelukku untuk yang kesekian kalinya.
Waktuku tidak lama lagi, pasti itu yang dikatakan dokter. Mereka
tidak perlu memberitahuku, cukup dengan melihat wajah Ben yang seperti ini.
“Tolong
jangan menangis juga.”
“Tidak akan,” katanya sok tegar.
Ben membelai tanganku
lembut, mengusap-usap cincin yang melingkar di jariku. Adegan itu cukup lama, tidak ada yang ingin mengeluarkan suara lebih dulu, tidak tahu harus berkata apa.
“Aku mengantuk, mau
tidur”, kulihat matanya membulat tapi segera ia berkata “Oke. Aku ada di sini sampai
kamu bangun,” aku mengangguk tepat saat melihat air mata Ben jatuh. “Aku juga
cinta kamu Ben, sejak dulu,” kataku tersenyum bahagia kemudian tertidur dan tidak pernah bangun lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar