Pages

3/14/2014

#3. I just....



Leukemia yang ku derita sudah stadium akhir. Aku bukan orang medis, jadi tidak bisa menjelaskan detailnya. Yang jelas penyakit keren ini sudah menggerogoti tubuhku, tinggal menunggu Israil untuk menjemputku kapan saja. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin kulakukan. Mandi hujan.

Sudah tiga belas hari aku terbaring di rumah sakit. Sudah belasan, mungkin puluhan teman yang sudah menjenguk. Tapi tak satupun dari mereka tahu tentang penyakitku, hanya orang tua, adik, dan seorang tukang ojek. Tentu saja aku tidak ingin membuat teman-temanku khawatir dan memungkinkan adanya tangisan-tangisan yang memicu pengendoran semangat hidupku seperti yang kulihat di sinetron.
 
Tukang ojek yang kumaksud adalah temanku, panggil saja dia Ben. Dia adalah orang yang paling setia padaku, melebihi kesetiaan Hachi pada tuannya. Ben selalu mengabulkan semuaaaa permintaanku, dari yang berbahaya sampai yang tidak masuk akal. Dia sering kena marah karena membelaku, padahal akulah otak dari segala keributan yang terjadi, sejak kecil sampai sekarang. Pokoknya susah senangku pasti selalu bersamanya.

“Hufftt.. Mau ngapain lagi Nyah?” keluh Ben ketika ia baru sampai dan melihat wajahku berseri. Begitulah wajahku ketika meminta sesuatu yang ‘aneh’ padanya. 
“Diluar mendung."
"Terus?"
“Kita ke atap rumah sakit, tapi jangan sampai ada yang tahu."
“Kamu gila ya? Kamu sakit!”
“Please...”  
“Nggak!”

Aku menunduk, menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Tidak ada suara. Perlahan terdengar suara hujan turun, semakin lama semakin deras. Aku belum mendengar suara Ben, dia pasti tahu aku marah. Aku merasa ada pergerakan di sisi tempat tidurku. 

“Tapi sebentar saja ya?” kalimat yang membuatku bangun seketika dan memeluk Ben. Setelah mengendap-endap sekitar sepuluh menit, akhirnya kami tiba di atap. Belum sempat Ben membuka payung, aku melepas pegangannya dan beranjak ke bawah hujan. Ribuan tetes air menyerbuku, rasanya segar. Kurentangkan tangan dan kuangkat wajahku menghadap langit. Sangat menyenangkan ketika kamu berada dibawah hujan tanpa takut basah!

Posisiku masih sama ketika kurasakan sesuatu menyentuh jariku, lembut. Aku membuka mata dan melihat Ben yang basah kuyub di depanku.

“Bego, kenapa tidak pakai payung?” aku tertawa. 
Will you marry me?” tawaku terhenti perlahan, wajah Ben tampak serius. Ia menoleh ke tangan kiriku yang masih terentang. Oh Tuhan, di sana, di jari manisku sudah melingkar sebuah cincin, itulah sentuhan yang kurasakan tadi. Ben melamarku.

“Kamu tau ini tidak mungkin, waktuku tidak lama lagi."

 “Aku tahu, aku tidak peduli mau sehari, dua hari, atau beberapa jam, aku tidak peduli. Aku cuma ingin kamu tau kalau aku cinta sama kamu, sejak dulu!”, Ben menegaskan kata sejak dulu. 

“Dan aku ingin kamu menjadi istriku, jadi aku harap kamu tidak lagi menyuruhku pulang untuk beristirahat atau apalah. I just…” Ben menarik nafas berat. “Aku hanya ingin menjagamu, seperti yang kulakukan sejak dulu.”

Aku menangis, tidak sanggup menatap matanya lagi. 

So, wanna be my life partner?” pintanya dengan kalimat lain. Aku mengangkat kepala dan mengangguk. Senyum kami mengembang, tiba-tiba aku merasa lelah dan tidak sanggup berdiri lagi. Ben menahan tubuhku, wajahnya tampak cemas. Aku menggenggam tangannya, 

“Ben….dingin,” ia mendekapku. Kudengar suaranya memanggil namaku terus-menerus. Ia mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar, memanggil dokter yang segera membawaku ke UGD.

Beberapa jam kemudian aku baru sadar. Kutatap wajah kedua orang tuaku, mereka tampak cemas, terlebih adikku yang masih SMP. Di sisi kamar yang lain kutemui wajah Ben yang persis zombie. Aku merasa bersalah telah membuatnya khawatir. Dengan sekuat tenaga aku tersenyum, mengatakan aku baik-baik saja, meskipun aku tahu mereka tidak akan percaya. Pasti dokter telah memberi diagnosa terakhirnya. Kulihat ibu menangis dan berjalan keluar, ayah mengikutinya setelah mencium keningku. Adikku yang sesenggukan memelukku erat, kurasakan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku tersenyum, mencium keningnya, “Tolong jaga ayah dan ibu ya? Dan turuti apapun kata kak Ben” ia mengangguk dan memelukku lagi, kali ini tangisannya lebih kencang. Ben berinisiatif untuk menenangkan adikku, setelah berbicara sebentar akhirnya tangis adikku mereda, ia pun keluar kamar setelah memelukku untuk yang kesekian kalinya.

Waktuku tidak lama lagi, pasti itu yang dikatakan dokter. Mereka tidak perlu memberitahuku, cukup dengan melihat wajah Ben yang seperti ini. 
“Tolong jangan menangis juga.” 
“Tidak akan,” katanya sok tegar. 
Ben membelai tanganku lembut, mengusap-usap cincin yang melingkar di jariku. Adegan itu cukup lama, tidak ada yang ingin mengeluarkan suara lebih dulu, tidak tahu harus berkata apa.

“Aku mengantuk, mau tidur”, kulihat matanya membulat tapi segera ia berkata “Oke. Aku ada di sini sampai kamu bangun,” aku mengangguk tepat saat melihat air mata Ben jatuh. “Aku juga cinta kamu Ben, sejak dulu,” kataku tersenyum bahagia kemudian tertidur dan tidak pernah bangun lagi.

Tidak ada komentar: