Pages

5/17/2024

Mimpi?

Aku membuka mata.
 Apa itu? Apa yang terjadi? Di mana aku?

Aku membuka mata lebar-lebar demi memastikan kalau aku benar berada di kamarku, bukan tempat lain. Setelah memastikannya beberapa kali, akhirnya aku bisa bernapas lega, meski tubuhku terasa panas, gerah.

Aku bermimpi.

Mimpi yang sama sekali tidak masuk akal.
Aku berada di tepi pantai, dengan ombak ganas dan matahari kuning, entah gelap atau terang. Bagiku hanya abu-abu. Dalam sekejap berubah menjadi suasana pantai biasanya. Aku tersadar dan seseorang menyapa dengan menyebut namaku.

"Kak Pelangi?"

Aku menoleh. Membeku. Benarkah apa yang kulihat ini? Dia adalah masa lalu yang setengah mati berusaha untuk kulupakan. Bertahun-tahun aku tidak mengingatnya lagi, melihat, maupun mendengar kabar tentangnya. Kenapa tiba-tiba dia ada di sini? Memanggil namaku seolah kejadian masa lalu itu tidak pernah ada.

Lalu seperti berpindah ke slide selanjutnya, sekarang kami ada dirumahnya. Ingin rasanya aku berteriak, mimpi macam apa ini? Kenapa keluargaku dan keluarganya begitu akrab? Lalu aku duduk disamping seorang gadis yang terlihat akrab denganku. Mungkin adik atau saudaranya, dia menunjukkan ponselnya padaku. Di sana ada foto orang itu dari belakang, sendirian. Tapi aku salah, foto itu di zoom dan bisa digeser. Disampingnya duduk seorang wanita berbaju hijau. Kelingking mereka bersentuhan. Kecil tapi itu memukulku dengan sangat keras.

Sadarlah! Bahkan di alam mimpi pun kami tidak ditakdirkan bersama. Dalam mimpi pun aku tidak boleh menyukainya.

Aku sadar dari mimpi itu sepenuhnya. Itu hanya mimpi. Tapi kenapa harus dia? Kenapa harus masa lalu itu yang datang? Apakah dia merindukanku? Hah! Dulu, berpikir seperti itu saja aku akan menolak karena yakin dia tidak mungkin melakukannya. Ya, bagaimana mungkin orang yang tidak menyukaimu bisa merindukanmu?

Saat itu, mungkin semua orang tahu tentang aku yang sangat menyukainya. Tapi tidak ada yang seyakin aku bahwa dia tidak menyukaiku. Karena dia baik pada semua orang, bukan hanya aku. Mungkin dia terlihat seperti menyukaiku juga, tapi yang kurasakan tidak seperti itu. Dia hanya menghargaiku sebagai rekan kerja. Sekian.

Hingga suatu hari, dengan bodohnya aku mengakui perasaanku padanya. Dan seharusnya aku bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ia menghindar, menjauh, dan kami hilang kontak. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga tahun demi tahun, kugunakan untuk menyibukkan diri melupakannya. Tapi semakin aku mencoba semakin ingin aku tahu apa alasan dia menghindar. Mungkin karena lelah, entah pada tahun keberapa, aku tidak peduli lagi, aku melepaskan perasaanku.

Dan berita tentang pernikahannya tiba. Aku tidak tahu harus merespons seperti apa karena pada saat itu adalah masa paling berat dalam hidupku. Akhirnya aku mengerti, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan meskipun itu pada orang yang paling kita sayangi sekalipun. Aku menerimanya, selamat berbahagia. Dan sejak saat itu, semua tentangnya benar-benar berakhir. Aku bahkan merasa bersalah pada teman-teman lain yang dekat dengannya, selain menghapus kontak, aku juga membatasi diri berinteraksi dengan mereka.

Tahun berlalu dan kenapa ada mimpi ini???

Aku masih mengingat mimpi itu berhari-hari meskipun perlahan mulai memudar. Sebagai anak rantau yang menjadi dosen, terlalu banyak hal yang dipikirkan untuk mengingat semuanya. Tapi sore itu, selagi aku memeriksa lembar ujian mahasiswa, sebuah pesan masuk. Temannya mengirim pesan.

"Pelangi, kamu sudah dengar kabar? Guntur meninggal tiga jam yang lalu. Kamu bisa datang ke pemakaman?"

Pesan itu kubaca sembari merasakan petir menyambar di atas kepala. Apa ini?

"Guntur?" balasku.
"Iya. Si jangkung yang selalu menggodamu."
"Serius?" Aku masih tak percaya.

Pesan masuk selanjutnya adalah foto jejeran teman kami yang sedang melayat, baju hitam dengan wajah muram. Pesan masuk lainnya bergantian mengabarkan berita yang sama. Aku mematikan ponsel agar getarannya berhenti.

Meninggal? Mimpi itu... Tanpa terasa air mataku jatuh.

Sesaat sebelum matahari terbenam, pesawat mengudara. Aku memutuskan untuk memastikan sendiri semua pesan yang mereka kirim. Katanya Guntur akan dimakamkan besok siang. Kalau perjalanan ini lancar, aku bisa tiba tepat waktu.

Rasanya aku hanya terpejam beberapa detik dan saat membuka mata aku sudah di depan rumah Guntur yang sudah ramai oleh pelayat. Satu jam sebelum pemakaman, aku tiba tepat waktu. Beberapa teman menghampiriku dengan wajah sembab mereka dan kembali menyadarkan kalau Guntur benar-benar sudah tidak di sini lagi. Aku menahan air mata yang hendak keluar.

"Kak Pelangi?" 

Seorang wanita yang tidak kukenali mendekat. Ia menggenggam tanganku erat.

"Guntur sering cerita tentang Pelangi. Kakak orangnya?" tanya wanita itu lagi.

"Guntur punya banyak teman, mungkin bukan aku Pelangi yang dia maksud." Kataku dengan suara hampir seperti bisikan.

Wanita itu menggeleng, kali ini dia tersenyum.

"Kakak adalah satu-satunya Pelangi yang ia kenal."

Lalu terdengar isakan yang semakin lama semakin besar dan menjadi raungan yang menyayat hati siapapun. Waktunya jenazah dimandikan, keluarga, kerabat, teman melihat wajah dan menyentuh Guntur untuk terakhir kali. Tubuhku membeku, aku tidak bisa melakukan itu. Disela-sela kerumunan, aku hanya melihat wajah Guntur sekejap, terakhir kali untuk selamanya. Air mata yang setengah mati kutahan akhirnya tumpah dengan deras.

Setelah pemakaman, aku dan teman-teman kembali ke rumah duka, duduk tanpa suara. Kami bahkan tidak membicarakan alasan Guntur meninggal, sakit apa yang ia derita, seberapa parah, atau berapa lama ia di rumah sakit.

"Pelangi." Suara seorang wanita membuat kami menoleh.
Aku yang namanya disebut otomatis berdiri.

"Beliau ibunya Guntur," kata wanita yang tadi menyalamiku. Ia memapah ibu Guntur yang terlihat lemah.

"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah datang dan mengantarnya pulang." Ibu Guntur memelukku dan menangis lagi.

"Maafkan ibu, Nak." Tangisannya makin kencang, keluarga yang mendengar segera mendekat dan memapah ibu Guntur masuk ke rumah agar lebih tenang.

Wanita yang tadi kembali. Ia menarik tanganku mendekat.

"Ini ditulis sendiri oleh mas Guntur."

Aku menerima amplop yang kusut dan bertuliskan namaku diatasnya.

"Setelah menulisnya sambil menangis, mas meremas dan membuangnya ke tempat sampah. Aku memungutnya karena menurutku pemilik surat ini harus tahu isinya."

Aku masih tidak bisa berkata-kata. Kutatap amplop kusut itu, kubalikkan depan belakang. Benarkah ia menulis surat ini untukku?

"Maaf karena aku membacanya. Dan maaf karena hadir diantara kalian."

"Diantara kalian. Wanita ini istrinya". Batinku.

Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu. Ia memelukku dan terisak pelan. Aku tidak tahu isi surat itu dan aku tidak tahu alasan istrinya menangis. Jika ini karena aku, maka ini harus dihentikan. Kukatupkan rahang dan menutup mata sejenak lalu melepas pelan pelukannya.

Kubuka amplop itu di depannya, meski beberapa temanku mencoba menahan dan menyarankan agar membacanya nanti, tapi tidak. Aku harus tahu apa isinya sampai istri Guntur meminta maaf padaku. Dia tidak punya salah, kami bahkan tidak saling mengenal.
Untuk satu-satunya Pelangi di hidupku. Apa kabar, Kak? Lucu bukan, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi karena mungkin tidak sempat, aku harus menulisnya. Mmm... Mulai dari mana ya? Ah, pertama-tama maafkan aku yang sangat jahat ini. Tiba-tiba menjauh dan tidak peduli. Maaf karena saat itu aku sangat egois. Maaf karena membuat Kakak mengungkapkan perasaan lebih dulu.
Benar, kakak tidak salah baca. Harusnya aku yang lebih dulu. Jangan berpikir Kakak menyukaiku, aku yang lebih menyukai kakak. Maaf karena mengatakan ini sangat terlambat. Mungkin aku dihukum sehingga perasaanku pada kakak tidak pernah berubah meskipun aku menikah. Perjodohan itu tidak dapat kuhindari lagi setelah bertahun-tahun berperang dengan ibu. Istriku, aku merasa bersalah padanya. Bagaimanapun caraku untuk mencintainya, aku tetap merasa bersalah karena aku tidak pernah melupakan kakak sepenuhnya. Sudah kubilang aku dihukum, karena perasaan yang ku simpan rapat itu telah melukai kakak dan istriku. Penyakit ini mendorongku untuk menulis ini agar pertanyaan kakak terjawab. Dulu, perasaan kakak yang tulus itu aku tahu dengan sangat jelas karena aku juga merasakan hal yang sama. Maaf atas luka yang kuberi, pasti ada pria lain yang jauh lebih hebat dariku dan lebih pantas bersama kakak. Tolong jangan benci istriku, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya korban keserakahan orang tua kami.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. Kutatap istrinya yang masih menangis. Tubuhku bergerak memeluknya, kali ini pelukannya lebih erat.

"Ini bukan salah siapapun, kamu tidak perlu minta maaf. Kisahku dan Guntur adalah masa lalu dan perasaan itu sudah berakhir sejak aku mendengar kabar pernikahannya. Ia menulis ini hanya karena rasa bersalah, tidak lebih. Usahanya untuk membahagiakanmu adalah buktinya. Kuharap kita tidak akan bertemu lagi, bukan karena aku membencimu tapi sebaiknya memang seperti itu," bisikku ditelinganya.

Hujan membasahi kaca jendela. Perjalanan ke bandara terasa sangat panjang. Beberapa teman mengantar kepulanganku.

"Pelangi, maaf sebelumnya. Tapi aku memang mengira kamu dan Guntur pernah pacaran."

"Tidak ada yang pacaran." Tegasku.

"Tapi surat itu?"

"Dulu aku sangat menyukainya, tapi seiring waktu perasaan itu lenyap tak bersisa. Tapi mendengar kabar dia meninggal membuatku sedih. Siapa sangka kalau dia punya perasaan yang sama, tapi keadaan tidak memungkinkan. Pokoknya kami gak jodoh. Surat itu, dia memintaku tidak membenci istrinya. Hah, sampai akhir dia tetap jadi orang baik."

"Guntur tidak mengenal Pelangi yang sekarang. Dia tidak tahu kamu sudah sedewasa ini, mana mungkin kamu membenci orang yang tidak kamu kenal? Kekanakan."

Akhirnya kami tertawa.

Tidak ada pertanyaan lagi. Mobil melaju membelah hujan yang semakin deras. Tidak ada gunanya lagi menjelaskan perasaanku, lagipula aku lega setelah tahu selama itu bukan hanya aku yang tersiksa dengan perasaan yang akhirnya harus terkubur dalam. Istirahat dengan damai Guntur. Aku akan melanjutkan hidup dengan bahagia meski tidak ada kamu lagi di dalamnya. 


2/25/2015

#17. Respect

Dua tahun. Selisih umur kami hanya dua tahun. Aku laki-laki dan adikku perempuan. Sudah seharusnya dia hormat kepadaku. Tapi itu tidak pernah terjadi. Memang aku hanya anak angkat, tidak memiliki kecerdasan yang menurun dikeluarga ini. Tapi bagaimanapun aku adalah anak ibu dan ayah selama 24 tahun. Aku tidak pernah meminta dilahirkan di dunia, dibuang oleh orangtua kandungku, dan dirawat di panti asuhan hingga ada yang ingin mengadopsiku. Aku tidak pernah meminta itu. Apakah karena itu aku pantas menerima semua ini?

Adik perempuanku sudah sarjana dan dapat pekerjaan. Membanggakan. Sementara aku? Tentu saja juga sudah sarjana, tapi belum punya pekerjaan. Yang kulakukan sehari-hari lebih sering di depan komputer, browsing apapun, membaca apapun yang ada di sana. Beruntung aku mahir dalam bahasa Inggris dan Belanda.

"Nak, tidak lelah di depan komputer terus?"

Ibu yang selalu peduli sering bertanya padaku. Aku hanya menjawab dengan senyum. Memeluknya dari belakang dan berbisik 'Suatu hari aku akan membuat ibu bangga.' Dan ibu selalu meng-amin-inya. Ibu selalu mendukungku. Berbeda dengan ayah dan adikku. Mereka bukan membenci tapi seperti meremehkan apapun yang kulakukan. Tidak ada yang benar dimata mereka.

Ayah dan adikku tidak suka dengan hobby ku bermain bola. Mereka selalu protes jika aku banyak bicara, padahal aku hanya memberi penjelasan. Jika bukan karena ibu, sudah lama aku meninggalkan rumah ini. Hanya ibu kekuatanku untuk bertahan. Sebenarnya aku juga sangat menyayangi ayah dan adikku, hanya saja mereka selalu menekanku agar segera mendapat pekerjaan. Bukannya aku tidak mau, tapi ada satu hal yang aku tunggu. Sesuatu yang menjadi cita-citaku sejak dulu.

Februari tiba dan kesempatan itu datang. Dari serangkaian tes dan interview akhirnya aku mendapat pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, aku pulang dan memeluk ibu berkata bahwa aku akan segera membuatnya bangga. Ibu meraba wajah bahagiaku, tersenyum senang.

"Kamu selalu membuat ibu bangga, jangan khawatirkan apapun."

Hari pertama bekerja, ibu yang lebih dulu menelepon. Menangis haru melihat anaknya yang tampan menghiasi siaran televisi. Yap, kini aku seorang presenter berita olahraga. Kebiasaanku bermain bola dan sering  membaca apapun ternyata berfungsi sekali. Aku bangga dengan diriku sendiri. Bangga sudah bisa membuat ibu terharu bahagia. Ayah dan adikku? Mereka memelukku ketika aku tiba di rumah. Mereka tidak bicara banyak, tapi mata mereka seolah mengatakan, "Kamu hebat!"

Tidak ada yang tidak mungkin. Hal kecil yang kita sukai mungkin tidak ada artinya dimata orang lain. Tapi dengan ketekunan dan kerja keras serta kesabaran, hal kecil itu bisa berubah menjadi permata yang menyilaukan mata.

12/31/2014

#16. Kau

Lembab. Langit baru saja selesai menumpahkan airnya. Aku menarik nafas berat, ini benar-benar berat. Hujan selalu berhasil mengingatkanku padamu. Kau yang selalu menyukai hujan dan aku yang sangat membencinya. Tapi berkatmu, aku bisa melalui setengah tahun musim hujan dengan senyum dan tawa setiap hari. Karena kau selalu bersamaku, menemani kemanapun dan apapun kekacauan yang kulakukan. Kepergianmu tahun lalu sungguh sebuah kejutan menakjubkan, tepat di hari ulang tahunku. Kupikir telepon pertama yang kuterima pagi itu adalah darimu, memang disana tertulis namamu "Vitamin Kebahagiaan" yang kau tulis sendiri di ponselku. Tapi yang berbicara bukan kau, tapi orang yang membawamu ke rumah sakit. Aku shock ketika mendengar kabar kecelakaan itu. Lututku gemetar, tubuhku lemas. Orang itu berkata lenganmu luka, kakimu patah, dan darah terus mengalir dari kepalamu. Dan kau pergi sebelum aku melihatmu dalam keadaan bernyawa untuk terakhir kalinya. Tega sekali kau meninggalkanku.

Hujan yang turun tadi mengingatkanku saat pertama kita bertemu. Waktu itu aku sedang berjualan terompet, memanfaatkan momen tahun baru untuk menambah uang saku. Penjual terompet lainnya memaksaku pergi dari tempatku berjualan, karena dianggap mengambil rejeki mereka. Aku bersiap pergi dan kau muncul tiba-tiba menghentikan mereka. Tanpa pikir panjang memborong jualan mereka, semua laku, habis. Saat aku bertanya kenapa kau melakukannya, kau berkata, "Itu rejeki mereka, dan kau membutuhkan bantuan," tersenyum menepuk pundakku.
"Lalu akan kau apakan terompet sebanyak ini?" tanyaku.
Lagi-lagi kau tersenyum, menelepon sebentar lalu mengangkut semua terompetku ke dalam bagasi mobil tanpa persetujuanku.
"Jangan cemas, aku tidak akan melukaimu," katamu ketika melihat wajah tegangku selama perjalanan.

Tak berapa lama kita tiba disebuah tempat yang tidak pernah terlintas dibenakku akan dikunjungi orang sepertimu, panti asuhan. Begitu mobil memasuki pagar, belasan anak-anak keluar dari rumah mungil itu, menghampiri dan mencium tangan kita berdua. Kau mengeluarkan terompet itu dan membuat mereka semua bersorak. Kau memperkenalkan aku sebagai temanmu yang pandai membuat terompet, padahal kau belum tahu namaku.

Aku heran, sekaligus senang dengan hal spontan yang kau lakukan saat itu. Kita mengajari anak-anak panti cara membuat terompet, mereka hormat dan menghargai kita, mereka lucu, dan rasanya seperti kita sudah kenal bertahun-tahun. Setelah semua anak-anak tidur, kau menjelaskan tanpa kutanya. Kau berasal dari panti itu, yatim piatu. Setelah jatuh bangun berkali-kali akhirnya usahamu sukses, kau satu-satunya penyumbang panti yang perhatian dan selalu memastikan anak-anak tak kekurangan apapun.

Saat aku mengamatimu bercerita, aku baru sadar kau memancarkan aura kebijakan, kedewasaan, yang jarang kulihat pada orang-orang seumuran kita. Kau santun, tampan, dan kaya. Mengapa memilih berteman denganku yang kurus, hitam, dan pendiam? Kau selalu tertawa jika aku menanyakan itu dan mengatakan ketampananku hilang jika aku mengatakannya. Kau benar-benar aneh.

Setelah malam itu, kita rutin bertemu dan kita menjadi akrab. Kita menjalani hidup kita masing-masing tanpa ada perselisihan yang membuat pertemanan ini canggung. Kau selalu mengalah. Bahkan ketika kau menyukai seseorang. Demi menemaniku bermain bola, kau mengabaikan janji nonton bersamanya. Kau memang bodoh kawan. Kau tahu, dia memarahiku hari itu, rencananya gagal karena aku. Tapi lagi-lagi kau berkata tidak apa-apa. Bisakah kau marah sekali saja?

Sekarang hingga akhir hayatmu, kau belum pernah memarahiku. Kau tidak pernah mengeluh, membentak, atau menyalahkanku. Apa yang bisa kukenang sekarang? Ketika kita bermain hujan? Ya, waktu itu kita terjebak macet, hujan terus tumpah, dan air semakin meninggi, banjir. Kita bertaruh siapa yang bisa berlari hingga lampu merah dan kembali ke mobil dalam keadaan basah. Kau benar-benar gila karena membuat aku melakukannya!

Setahun sudah kepergianmu, aku tidak dapat berkata apa-apa. Semoga kau bahagia di sana. Jangan khawatirkan anak-anak, mereka sehat dan sudah besar sekarang. Kemarin mereka tidak hanya membuat terompet, tapi juga bunga kertas yang mereka jual dan hasilnya untuk membelikan bunga besar ini. Wangi semerbak yang kau cium berasal dari bunga-bunga ini, dari cinta tulus anak-anak untukmu, dari teman payah sepertiku. Iya, aku minta maaf. Aku telah mengatakan pada anak-anak dan ibu di panti bahwa kau telah pergi ke tempat yang lebih baik. Aku tidak bisa menahannya lagi, mereka terus bertanya dan kupikir ini saat yang tepat agar mereka mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Mereka sudah besar kawan, cepat atau lambat mereka akan tahu. Tapi yang bisa kupastikan mereka akan menjadi orang-orang yang sehebat bahkan lebih hebat darimu.

Akhir tahun ini masih hujan. Tentu saja sering macet, banjir, melelahkan. Tapi kau tahu, kini aku menikmatinya..

12/16/2014

#15. Sebuah Cerita

Ini tentang sebuah pilihan. Bukan, bukan sebuah. Pilihan selalu lebih dari satu, jika tidak kita tidak perlu memilih. Ada yang pernah berkata kalau hidup itu adalah sebuah pilihan. Hidup atau mati, jika kamu pilih untuk hidup maka jalanilah dengan hati mantap.

Terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, sungguh itu benar-benar berat untuk dilakukan. Tapi hukum alam selalu berlaku, pilih satu atau kau akan kehilangan keduanya. Seperti halnya kisahku, 'cukup mudah' tapi ada yang harus dikorbankan.

Aku menyukai seseorang, yang kehidupannya jauh berbeda denganku. Dia dari kelurga terpandang dan aku dari keluarga sederhana. Dia selalu populer di sekolah dan aku makhluk 'tak terlihat' di sekolah. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjadi bagian dari gadis-gadis yang meneriaki namanya. Aku tidak pernah menyebut namanya sekalipun. Bahkan aku tidak pernah mempedulikannya atau apapun tentangnya. Karena bagiku, pria suka pamer seperti itu adalah anak manja dan sombong. Tak ada gunanya ngefans dengan orang seperti itu.

Tapi ketika kuliah semester tiga, tak sengaja kami bertemu di halte bus. Aku sempat terkejut karena dia menyapaku, dan tahu namaku. Pertemuan itu sangat singkat tapi berkesan. Malam itu aku terus memikirkannya hingga tertidur. Beberapa hari kemudian di tempat yang sama, kami bertemu lagi. Dia membantu seorang nenek naik ke bus dan memanggul barang bawaannya yang kurasa cukup berat. Aku tidak percaya dengan yang kulihat, tapi itulah kenyataan, dia sudah berubah.

Aku terkesan, tapi beberapa hari selanjutnya aku tidak pernah melihatnya lagi dan aku melupakannya begitu saja. Sebuah sedan hitam menyilaukan berhenti tepat di depanku, menyenangkan melihat warna gotic favoritku seindah itu. Kaca depannya terbuka, aku melihat pengemudinya. Seorang pria tampan dengan kaca mata hitam tersenyum ke arahku. Itu dia!

"Ayo masuk. Mau ke kampus kan?"
"Iya. Tapi terima kasih, aku naik bus saja. Sebentar lagi juga datang."
"Ayolah. Tidak setiap hari kan kita bisa bertemu seperti ini."
"Mmm....baiklah."

Aku menyerah, menerima ajakannya. Dan itu adalah pilihan pertamaku. Aku memilih ikut dengannya. Selama perjalanan tidak banyak percakapan. Aku sempat bertanya kenapa dia bisa tahu namaku. Memalukan mendengar jawabannya.

"Papan pengumuman sekolah, selalu nama pertama yang remedial ulangan fisika."

Mukaku memerah. Ingin rasanya melompat seketika keluar dari mobil. Tapi niatku urung ketika mendengarnya tertawa. Hei, tawa itu menyenangkan, tawa lepas yang menyenangkan. Aku tersenyum kecut karena malu tapi tak mampu menahan tawa saat dia mengatakan namanya juga selalu ada di lembar yang sama denganku. Ternyata dia pria yang menyenangkan. Aku menarik semua ucapanku dulu. Benar, jangan memandang orang hanya dari luar saja. Mungkin sejak itu aku mulai menyukainya.

Berbeda dengan pertemuan kami pada awalnya yang diatur oleh Tuhan, selanjutnya kami sering bertemu lagi setelah 'janjian'. Entah itu untuk jogging, makan siang, makan malam, nonton, atau sekedar jalan-jalan mengusir suntuk. Ada juga kejadian dompetnya kecopetan, ban mobil meletus, dan mobil mogok hingga aku harus mendorongnya.

Semua kesenangan itu berubah menjadi kaku saat sesuatu terjadi. Siang hari yang terik di halte bus, aku menunggu dengan tidak sabar karena sudah terlambat. Tiba-tiba sedan itu berhenti lagi-lagi tepat di depanku. Kaca mobil tidak terbuka melainkan dia yang keluar dari mobil membawa sebuah map atau semacam buku tebal, menyerahkannya kepadaku.

Aku lupa kalau sudah terlambat, kubuka buku itu. Hei, ini album foto. Semua fotoku, yang diambil tanpa kusadari. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidiki. Matanya menunjuk buku itu, buka lagi. Aku melanjutkan dan menganga setiap lembar selanjutnya dibuka. Sebodoh itukah wajahku, sejelek itu, seimut itu, seberharga itu sampai dia melakukan ini? Pertanyaan itu terjawab di lembar terakhir, ada beberapa kalimat di sana.

Aku tahu kita 'berbeda' tapi kita cocok dalam banyak hal. Aku tahu kamu bodoh, aku lebih bodoh lagi. Foto itu buktinya. Tahukah kamu kalau untuk mengambil foto tanpa sepengetahuanmu itu tidak mudah? Tapi kenapa aku melakukannya? Kurasa karena aku menyukaimu. Would you be mine?

Senyumku hilang. Apakah pria tampan dan kaya ini cocok dengan wanita sepertiku? Jujur aku senang, tapi melihat kenyataan kalau otakku yang tumpul, wajah standar, berkacamata, rambut keriting sebahu, apa yang ia harapkan dariku? Melihat perubahan wajahku, dia menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Ia menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke mobil. Aku menurut dan meminta agar ia mengantarku pulang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Dari sekian banyak gadis cantik diluar sana, dia memilihku. Lalu kenapa aku juga tak memilihnya? Bukankah aku menyukainya? Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah satu minggu, aku memutuskan untuk menerimanya. Ya, kami menjadi pasangan kekasih. Aku memilih bersamanya. Tamat.

Tidak. Hubungan kami setelah itu tetap sama seperti biasanya. Tapi semua berubah ketika pilihan itu kembali datang. Ayahnya sakit parah dan harus dibawa ke Korea Utara, karena dokter yang menangani ayahnya memiliki kenalan di sana. Katanya dokter itu adalah dokter bedah jantung terhebat. Singkatnya, semua keluarganya pindah ke sana, begitu juga dengannya. Dia membuat pilihan yang tepat, karena jika itu aku maka akan kulakukan hal yang sama.

Saat pergi dia tidak menyuruhku untuk menunggunya, atau melupakannya. Aku tahu, itu artinya dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin ini akan merubah seluruh hidupnya. Perusahaan ayahnya terancam bangkrut. Sulit bernafas ketika menatap punggungnya, berjalan menjauh, seakan aku tidak akan melihatnya lagi. Sungguh, ini sangat berat.

Enam tahun setelah kepergiannya, aku tidak mendapat kabar. Tapi seminggu yang lalu, aku menerima emailnya. Ia merindukanku, dan ia akan pulang besok! Waktu terasa berhenti. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya ketika tahu aku sudah bertunangan sebulan yang lalu dan kami akan menikah awal tahun depan. Pilihan ini sulit, tapi keputusan itu sudah diambil. Maaf....

12/13/2014

#13. Dunia Maya

Hari ke-13 sejak kejadian itu. Maya tidak pernah lagi berbicara dengan Min, sahabatnya. Konflik yang terjadi antara dua makhluk hawa ini sulit dimengerti, hanya masalah sepele. Min membahas hal tentang laporan kelompok di facebook, hanya itu. Tapi Maya luar biasa marah gara-gara itu, mungkin dia tersinggung dengan kata-kata Min. Tak ada yang berani bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Karena sikap diam Maya sangat menyeramkan daripada ketika ia berteriak marah-marah. Min? Jangan tanya, dia tidak akan bicara.

"Maya...." Min mencoba menyamai langkah Maya di koridor ruangan.
Langkah Maya terhenti, menoleh, menatap penuh kebencian, dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Sejak saat itu, Min tidak pernah lagi mencoba untuk mendekati Maya. Semua usahanya untuk berbaikan tidak direspon. Kampus terasa sepi dengan sikap diam mereka. Karena biasanya merekalah yang membuat kelas ramai oleh teriakan dan canda tawa. Kini semua hilang, bagai jejak yang terhapus hujan. Lenyap tak berbekas. Situasi kelas seperti sedang berduka.

Antara takut, penasaran, dan jengkel, seorang teman mereka berani mengambil resiko apapun demi informasi 'apa yang sebenarnya membuat Maya marah?'

"Hei gadis..." Bayu mencoba gombalannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Maya dingin.
"Jutek banget sih Neng.... Aku mau tau, kenapa sih kamu sama Min diam-diaman? Kelas jadi punya aura horror tau! Biasanya kan kalian...."
"Stop Bayu. Ini bukan urusan kamu."
"Fine," Bayu mundur tanpa disuruh, angkat tangan meninggalkan Maya yang kembali sibuk menatap buku didepannya.
Bayu mendapat seruan Huuuu..... dari teman-temannya di kejauhan. Gagal total!

Hujan di Desember ini kembali menyapa. Langit gelap membuat sebagian besar mahasiswa betah di kampus, menunggu hujan reda. Tidak terkecuali Maya. Dia menatap kosong hujan yang sangat berisik di luar sana. Di pojok ruangan ada Min yang menatapnya prihatin, sedih, putus asa. Dia mengumpulkan keberanian dan maju duduk di bangku sebelah Maya.

"Melamunkan apa Maya?" Tanya Min lenbut.
Maya tersentak sadar dan hendak berdiri, tapi Min memegang tangannya.
"Dengar aku dulu Maya, please..." Min memohon.
Tapi Maya tetap keras kepala, ia mengibaskan tangannya menyebabkan pegangan Min terlepas, lalu ia beranjak keluar. Tapi Min belum menyerah, ia mengikuti Maya kemanapun ia pergi. Min heran karena langkah Maya menuju lantai paling atas, puncak gedung!

"Jangan-jangan Maya ingin bunuh diri," pikir Min dalam hati. Maka ia menghubungi Bayu yang otomatis langsung menyebar kesemua teman yang ada dikelas. Mereka beramai-ramai ke atap gedung kampus mereka.

Maya tidak sadar kalau Min ikut dibelakangnya. Ia mendorong pintu dengan paksa. Begitu pintu terbuka, tampias air langsung menyerbu tubuhnya, angin bertiup buas ditengah hujan yang tidak kunjung reda. Maya berjalan dibawah hujan, kini seluruh tubuhnya basah. Ia bergerak menuju pinggiran atap, tempat ia bisa melihat semua pemandangan di bawah sana.

"Tuhaaaannn!!!!!" Tiba-tiba Maya berteriak.
Min yang masih di pintu tertegun.
"Kenapa Kau memberiku ini? Belum cukup Kau mengambil kakakku?"
Min semakin heran, sementara Bayu dan yang lainnya sudah berdiri di sebelahnya. Min menahan mereka, "Maya akan bicara lebih banyak."

"Kenapa ayah dan ibu harus bercerai? Kenapa mereka tega? Kenapa aku harus dititipkan pada Paman? Kenapa aku harus pindah kuliah? Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku disini...." Maya berlutut memeluk tubuhnya yang kuyub. Menangis.

Sekarang Min dan teman-temannya mengerti kenapa Maya marah. Ini bukan tentang pembahasan di facebook, ini jelas masalah pribadi Maya. Ia tidak pernah menceritakan masalah keluarganya kepada siapapun, termasuk Min. Karena Min tidak pernah ia biarkan datang ke rumah. Min menerobos hujan mendekati sahabatnya itu.

"Kenapa kamu tidak cerita Maya? Itu sudah tugasku untuk mendengar keluh kesahmu."
Maya menoleh. "Sejak kapan kamu disini?"
"Tidak penting. Yang jelas aku mendengar semua yang baru kamu katakan." Min ikut berlutut di samping Maya.
"Maaf Min. Aku tidak bisa cerita. Aku hanya marah, pada ayah, ibu, Tuhan, dan nasibku! Dunia tidak adil."
"Maya, kau menganggap kami apa?" Bayu menyahut, ikut bermandi hujan.
"Jika kami bukan temanmu, kenapa kamu harus takut kehilangan kami?"
"Kenapa tidak cerita pada kami?"
"Bukankah itu gunanya teman?"
Satu persatu temannya maju. Maya tidak menyangka apa yang dilihatnya. Teman-temannya yang dia hindari, dia jauhi, semua ada di sana, basah oleh hujan, menyunggingkan senyum tulus mereka.
"Kami disini untuk kamu, kamu tidak sendiri Maya," Min memeluk sahabatnya.
Air mata Maya tumpah, tangisnya semakin keras, sesenggukan, yang disela-selanya ada ucapan "Terimakasih teman-teman." Semua temannya menghampiri, pelukan massal ditengah hujan deras.

Langit ibukota masih gelap, tapi hujan telah berhenti. Jejak horror didalam kampus telah terbawa pergi bersama hujan. Maya memberanikan diri menyampaikan pendapat pada orang tuanya, ia tak akan pindah, ia akan mencari kontrakan, ia akan bekerja, ia sudah dewasa!!

10/28/2014

#12. Salah Satu Keluhan Dunia

Jauh di sudut kota, saat yang tepat untuk menyaksikan matahari terbit dari bukit kecil di belakang rumah. Seorang gadis duduk memeluk lutut di atas sana, menatap matahari terbit yang menyilaukan mata, tanpa berkedip sedikitpun. Mengkhayal? Mungkin. Seorang pria berjalan mendekatinya. Dia meletakkan sebongkah kayu yang baru dipungutnya.
"Ternyata benar, keindahan kota bisa terlihat jelas dari sini."
Gadis itu menoleh, tak menyangka ada orang lain disana.
"Iya Paman, ini tempat yang tepat untuk menyendiri," kata gadis itu.
"Keponakan Paman ini punya masalah ya?"
Gadis itu mengerutkan kening, kenapa Pamannya tahu apa yang dipikirkannya.
"Dari sekian banyak kata yang tepat untuk menjelaskan tempat ini, kamu memilih kata menyendiri, bagaimana mungkin Paman tidak menyadarinya?" jelas pria itu.
Gadis itu tersenyum, menepuk tanah disampingnya agar Paman mendekat. Pamannya menurut.
"Paman, aku punya cerita," kata gadis itu setelah menyandarkan kepalanya di bahu Paman tercintanya.
"Anything for you baby, tell me. Whats up?"
Gadis itu menghembuskan nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku bingung Paman. Apakah ada orang yang tulus ingin berteman denganku?"
"Lho, kenapa kamu bertanya begitu?" Bukankah teman kamu banyak?"
Sekali lagi Jen menarik nafas. Dia mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya. Sepertinya ceritanya akan panjang.
"Aku pikir teman-temanku tidak ada yang benar-benar tulus, dan aku rasa aku tidak pernah menjadi bagian dari mereka.
"Aku pikir, aku rasa..." Paman mengulangi kata-kata Jen.
"Dua kalimat itu berasal darimu Jen. Dari sudut pandangmu saja. Bisa saja itu hanya karena ada hal lain yang kamu pikirkan sehingga merasa begitu terhadap mereka."
Jen menggeleng.
"Mereka biasanya mengajakku jalan karena kebetulan aku di sana, jika tidak tak ada yang akan menghubungiku. Dihubungi pun itu jika ada maunya, saat mereka butuh saja. Bukankah itu berarti mereka memanfaatkanku?"
"Jen, jangan mengambil kesimpulan dulu. Sekarang paman tanya, apakah kamu tidak pernah menghubungi temanmu jika butuh? Pernah kan?"
Jen berpikir, benar juga. Ia mengangguk lemah.
"Nah, kalau begitu jangan berpikir kalau temanmu juga begitu. Jangan hanya melihat dari sudut pandangmu, lihat dari sudut pandang mereka dulu baru kembalikan pada dirimu. Sesedih itu karena kau dimanfaatkan?"
Jen tersenyum kecut.
"Kau tahu? Saat seseorang menghubungimu hanya ketika ia butuh, itu artinya kau sangat penting baginya. Kenapa? Karena hanya kamu yang bisa melakukan apa yang ia butuhkan. Dimanfaatkan? Bukankah itu memang gunanya memiliki teman? Tapi dalam pengertian yang baik." Paman terkekeh.
"Teman-teman, mereka mungkin hanya ada saat mereka membutuhkanmu. Tapi kamu tidak pernah menghitung seberapa sering mereka bersamamu saat kamu punya masalah, entah mereka tahu atau tidak. Setidaknya mereka ada untuk membuatmu marah, jengkel, hingga tertawa. Mereka anugerah Tuhan yang paling besar. Ada jutaan manusia di bumi ini, kasihan sekali mereka yang tidak memiliki teman," lanjut Paman.
Jen terkagum lantas tertawa melihat Pamannya menjelaskan dengan tangan bergerak-gerak seolah sedang menyampaikan puisi kepada matahari pagi. Pamannya ikut tertawa, menghentikan tingkah konyolnya. Matahari sudah terbit, sempurna. Mereka memandangnya penuh takjub. Menutup mata merasakan hangatnya mentari dan semilir lembut angin pagi membelai wajah. Namun tak lama, senyum di wajah Jen musnah. Ia kembali tertunduk memeluk lutut. Satu tetes, dua tetes, terisak, Paman menoleh.
"Jen tiba-tiba rindu Ayah dan ibu, Paman...."
Paman menghapus air mata di wajah Jen kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Matanya juga kabur oleh air mata.
"Kenapa Tuhan tega mengambil mereka di saat yang bersamaan. Kenapa aku tidak diambil juga?" Jen masih terisak.
"Husss....kamu tidak boleh berkata begitu."
"Maafkan Jen, Paman," Jen melepaskan diri dari pelukan Pamannya.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu hanya harus tahu, pahami dengan baik. Segala yang Tuhan lakukan itu adalah hak-Nya, kita tidak boleh mengeluh, mempertanyakan setiap kejadian. Karena pasti ada hikmah dibalik itu semua."
Jen terdiam, ia menatap wajah pamannya sungguh-sungguh.
"Kepergian kedua orang tuamu menyebabkan kamu harus dititipkan padaku, dirawat oleh Paman. Kamu adalah sebab untuk kebahagiaan Paman dan Bibi yang sudah putus asa tidak bisa memiliki anak. Sama halnya dengan teman-temanmu. Kamu merasa dimanfaatkan oleh mereka, tapi kamu menjadi sebab mereka merasa lega atas bantuanmu."
"Tapi tidak adil kan? Aku menjadi sebab kebahagiaan orang lain tapi aku harus kehilangan orang tuaku dan mengalami perasaan tidak enak lainnya."
Paman tersenyum, menggeleng. Anak ini belum mengerti.
"Dunia ini adil, Tuhan Maha Adil, dan tidak ada yang bisa menyangkal itu. Hanya saja kau belum menemukan keadilan itu."
"Bagaimana cara menemukannya?"
"Jalani hidupmu sebaik mungkin dan jangan banyak bertanya. Pelajari segala yang terjadi. Kau pasti akan mengerti. Paman beri satu contoh kecil, libur semester kemarin kamu tidak bisa ikut bersama teman-temanmu karena sakit. Dunia adil, Tuhan Maha Adil, kamu disuruh beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan kita bulan depan."
"Kemana? Paman serius?"
"Iyyap. Mahameru," ucap Pamannya bangga.
Mulut Jen membulat. Ia berdiri, berteriak sekencang mungkin. Ia sangat bahagia, sejak kepergian orang tuanya ia tidak pernah mendaki lagi, takut menerima kabar buruk lagi sepulang dari sana. Tapi Paman berusaha menghilangkan trauma itu, ia harus menjalaninya lagi.
"Contoh kecil kedua," Jen berhenti berjingkrakan.
"Kamu pasti lelah sudah menyikat kamar mandi setelah subuh tadi. Sekarang kita turun dari bukit ini, kembali ke rumah, bibi sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng kesukaan kamu."
Jen benar-benar menjerit kali ini.
"Paman pikir, segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada balasannya. Jika buruk akan buruk juga. Jika baik pasti akan lebih baik. Semoga Paman tidak salah."
"Amin."
Mereka berjalan menuruni bukit. Matahari mulai meninggi, menemani Jen dan Pamannya pulang ke rumah.

10/26/2014

#11. Kisah Seorang Anak Laki-Laki

Ada seorang anak laki-laki yang cerdas, energik, dan sangat sopan perangainya. Dia adalah anak pertama dari keluarga Durin yang sangat terpandang. Dia memiliki seorang adik perempuan, umur mereka terpaut jauh tapi anak laki-laki ini sangat menyayangi adiknya. Tak ada yang kurang dari keluarga itu, bila dilihat dari jauh. Tapi dari dekat.....keluarga itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Kedua orang tua mereka sibuk hingga anak-anak mereka tidak diperhatikan.
"Ma, minggu ini ada kegiatan yang harus Dafi..."
"Iya, silakan," mama memotong ucapan Dafi.
Tidak sepenuhnya mendengar, tak ada pertanyaan dengan siapa, dalam rangka apa, kapan pulang, atau semacam itu. Mama Dafi terburu-buru, memasang anting dan beranjak tanpa menoleh pada buah hatinya. Sementara papa, Dafi tidak berani berbicara dengannya karena papanya terlalu ringan tangan, memukul, menampar. Jadi lebih baik ia tidak memberitahu papanya. Setelah mencium pipi chubby adiknya, ia pamit pada baby sitter kepercayaannya, berpesan agar menjaga adiknya selama ia pergi.
Dafi sangat benci keadaan di rumahnya, sejak dulu. Ia tidak pernah suka dengan tindakan kedua orang tuanya. Namun ia selalu menghargai mereka, menghormati mereka, berharap suatu hari nanti orang tuanya sadar kalau selama ini ia diacuhkan. Pernah ia berniat kabur tapi tidak jadi karena adiknya lahir, Ela. Ela menjadi semangat baru bagi Dafi. Nilai-nilainya cantik, prestasinya sebagai pianis tidak diragukan lagi, tapi apa gunanya jika kedua orang tuanya tidak pernah memuji. Makan bersama, bahkan sekedar menanyakan kondisi, kampus, tidak pernah.
Dafi sebenarnya merasa sedih, ia menginginkan pelukan mama, tepukan bangga papa di pundaknya atau sekedar mengacak rambutnya, tapi ia selalu mengerti. Orang tuanya sibuk, ia tidak boleh mengganggu. Hatinya benar-benar lapang untuk seorang anak laki-laki pada umumnya. Ia selalu mencoba untuk menerima segala keadaan dan memahaminya dengan baik. Tapi ada satu hal yang semua orang tidak tahu, ia menyimpannya sendiri. Marah adalah sifat yang selalu bisa ia kendalikan. Saat marah ia akan butuh waktu sendiri, dan saat itulah ia bisa mengamuk mengeluarkan semua amarahnya, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Luka yang ia terima tidak ada apa-apanya bila dibandingkan luka di hatinya. Anak mana yang akan baik-baik saja bila bertahun-tahun diabaikan oleh orang tuanya? Ia juga ingin seperti anak lain yang dimarahi bila nilainya jelek, telat pulang, atau bercerita tentang masalah yang dialaminya. Bahkan orang tuanya tidak tahu, ada seorang gadis yang menarik perhatian Dafi, tapi tentu saja Dafi tidak pernah cerita.
Suatu hari Dafi bangun, masih dengan iler di pipinya hendak mencuci muka. Dalam kamar mandi terdengar suara sepatu mama bergemeletuk di lantai, tak lama terdengar suara papa. Hanya sapaan biasa yang dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai pekerjaan dan tibalah pada pembicaraan yang membuat jantung Dafi berdegup kencang.
"Tidak usah dilanjutkan Ma, Pa, Dafi tidak setuju. Dafi tidak mau," kedua orang tuanya menoleh.
"Oh kamu sudah berani melawan perintah Papa? Lihat Ma, anakmu ini."
"Dia juga anakmu, Papa yang tidak pernah mengajaknya bicara."
"Kenapa menyalahkan Papa? Mama yang terlalu sibuk sampai tidak pernah mengurus anak dengan baik."
"Kok jadi mama yang disalahkan?"
"Papa, Mama, please..... jangan diteruskan," Dafi memohon.
"Tidak, jika kamu menolak perjodohan itu."
Mendengar itu Dafi membeku, otaknya perpikir keras harus mengatakan apa. Ia tidak ingin dijodohkan.
"Pa, ini hidup Dafi. Tidak masalah selama ini kalian mengabaikan Dafi dan Ela, tapi tidak untuk yang satu ini."
"Kamu, benar-benar anak...."
"Tidak tau malu? Durhaka? Maaf Pa, selama ini Dafi selalu bersabar dengan sikap Papa dan Mama, menerima semua yang ada tanpa ini itu. Tapi sekali lagi ini hidup Dafi. Apakah Papa dan Mama tahu, Ela sudah empat tahun, tapi ia masih belum bisa bicara. Apa kalian tahu besok aku akan ke London untuk konser musik pertamaku? Ya, kalian tidak tahu. Tidak pernah."
Kedua orang tuanya terdiam. Mama sudah mengeluarkan air mata seraya menutup mulutnya tak percaya dengan yang barusan Dafi katakan.
Ela belum bisa bicara?
"Dan sekarang kalian ingin menjodohkan Dafi? Itu tidak akan terjadi. Kalian juga tidak tahu kan kalau ada seseorang yang  Dafi suka? Dafi takut mendekatinya karena malu jika ia tahu orang tua Dafi seperti ini," suara Dafi mulai serak.
"Besok, Dafi akan membawa Ela pergi. Entah kapan kami akan pulang. Karena kalian juga tidak tahu kan, London adalah kota impian Dafi sejak kecil. Sejak Papa memberikan miniatur BigBen."
Dafi meninggalkan ruang tengah, Mama dan Papa tidak punya kalimat untuk menangkis kata-kata Dafi. Benar, mereka tahu apa jika yang mereka lakukan selama ini hanya bekerja?

[Sebanyak apapun materi yang dimiliki, anak tetap membutuhkan kasih sayang orang tua, dan itu tidak butuh uang. Bisa saja hanya dengan memeluknya saat ia cemas dan ketakutan, atau mendengarkan jika ia bercerita apa saja. Mudah.]