Pages

10/26/2014

#11. Kisah Seorang Anak Laki-Laki

Ada seorang anak laki-laki yang cerdas, energik, dan sangat sopan perangainya. Dia adalah anak pertama dari keluarga Durin yang sangat terpandang. Dia memiliki seorang adik perempuan, umur mereka terpaut jauh tapi anak laki-laki ini sangat menyayangi adiknya. Tak ada yang kurang dari keluarga itu, bila dilihat dari jauh. Tapi dari dekat.....keluarga itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Kedua orang tua mereka sibuk hingga anak-anak mereka tidak diperhatikan.
"Ma, minggu ini ada kegiatan yang harus Dafi..."
"Iya, silakan," mama memotong ucapan Dafi.
Tidak sepenuhnya mendengar, tak ada pertanyaan dengan siapa, dalam rangka apa, kapan pulang, atau semacam itu. Mama Dafi terburu-buru, memasang anting dan beranjak tanpa menoleh pada buah hatinya. Sementara papa, Dafi tidak berani berbicara dengannya karena papanya terlalu ringan tangan, memukul, menampar. Jadi lebih baik ia tidak memberitahu papanya. Setelah mencium pipi chubby adiknya, ia pamit pada baby sitter kepercayaannya, berpesan agar menjaga adiknya selama ia pergi.
Dafi sangat benci keadaan di rumahnya, sejak dulu. Ia tidak pernah suka dengan tindakan kedua orang tuanya. Namun ia selalu menghargai mereka, menghormati mereka, berharap suatu hari nanti orang tuanya sadar kalau selama ini ia diacuhkan. Pernah ia berniat kabur tapi tidak jadi karena adiknya lahir, Ela. Ela menjadi semangat baru bagi Dafi. Nilai-nilainya cantik, prestasinya sebagai pianis tidak diragukan lagi, tapi apa gunanya jika kedua orang tuanya tidak pernah memuji. Makan bersama, bahkan sekedar menanyakan kondisi, kampus, tidak pernah.
Dafi sebenarnya merasa sedih, ia menginginkan pelukan mama, tepukan bangga papa di pundaknya atau sekedar mengacak rambutnya, tapi ia selalu mengerti. Orang tuanya sibuk, ia tidak boleh mengganggu. Hatinya benar-benar lapang untuk seorang anak laki-laki pada umumnya. Ia selalu mencoba untuk menerima segala keadaan dan memahaminya dengan baik. Tapi ada satu hal yang semua orang tidak tahu, ia menyimpannya sendiri. Marah adalah sifat yang selalu bisa ia kendalikan. Saat marah ia akan butuh waktu sendiri, dan saat itulah ia bisa mengamuk mengeluarkan semua amarahnya, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Luka yang ia terima tidak ada apa-apanya bila dibandingkan luka di hatinya. Anak mana yang akan baik-baik saja bila bertahun-tahun diabaikan oleh orang tuanya? Ia juga ingin seperti anak lain yang dimarahi bila nilainya jelek, telat pulang, atau bercerita tentang masalah yang dialaminya. Bahkan orang tuanya tidak tahu, ada seorang gadis yang menarik perhatian Dafi, tapi tentu saja Dafi tidak pernah cerita.
Suatu hari Dafi bangun, masih dengan iler di pipinya hendak mencuci muka. Dalam kamar mandi terdengar suara sepatu mama bergemeletuk di lantai, tak lama terdengar suara papa. Hanya sapaan biasa yang dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai pekerjaan dan tibalah pada pembicaraan yang membuat jantung Dafi berdegup kencang.
"Tidak usah dilanjutkan Ma, Pa, Dafi tidak setuju. Dafi tidak mau," kedua orang tuanya menoleh.
"Oh kamu sudah berani melawan perintah Papa? Lihat Ma, anakmu ini."
"Dia juga anakmu, Papa yang tidak pernah mengajaknya bicara."
"Kenapa menyalahkan Papa? Mama yang terlalu sibuk sampai tidak pernah mengurus anak dengan baik."
"Kok jadi mama yang disalahkan?"
"Papa, Mama, please..... jangan diteruskan," Dafi memohon.
"Tidak, jika kamu menolak perjodohan itu."
Mendengar itu Dafi membeku, otaknya perpikir keras harus mengatakan apa. Ia tidak ingin dijodohkan.
"Pa, ini hidup Dafi. Tidak masalah selama ini kalian mengabaikan Dafi dan Ela, tapi tidak untuk yang satu ini."
"Kamu, benar-benar anak...."
"Tidak tau malu? Durhaka? Maaf Pa, selama ini Dafi selalu bersabar dengan sikap Papa dan Mama, menerima semua yang ada tanpa ini itu. Tapi sekali lagi ini hidup Dafi. Apakah Papa dan Mama tahu, Ela sudah empat tahun, tapi ia masih belum bisa bicara. Apa kalian tahu besok aku akan ke London untuk konser musik pertamaku? Ya, kalian tidak tahu. Tidak pernah."
Kedua orang tuanya terdiam. Mama sudah mengeluarkan air mata seraya menutup mulutnya tak percaya dengan yang barusan Dafi katakan.
Ela belum bisa bicara?
"Dan sekarang kalian ingin menjodohkan Dafi? Itu tidak akan terjadi. Kalian juga tidak tahu kan kalau ada seseorang yang  Dafi suka? Dafi takut mendekatinya karena malu jika ia tahu orang tua Dafi seperti ini," suara Dafi mulai serak.
"Besok, Dafi akan membawa Ela pergi. Entah kapan kami akan pulang. Karena kalian juga tidak tahu kan, London adalah kota impian Dafi sejak kecil. Sejak Papa memberikan miniatur BigBen."
Dafi meninggalkan ruang tengah, Mama dan Papa tidak punya kalimat untuk menangkis kata-kata Dafi. Benar, mereka tahu apa jika yang mereka lakukan selama ini hanya bekerja?

[Sebanyak apapun materi yang dimiliki, anak tetap membutuhkan kasih sayang orang tua, dan itu tidak butuh uang. Bisa saja hanya dengan memeluknya saat ia cemas dan ketakutan, atau mendengarkan jika ia bercerita apa saja. Mudah.]

Tidak ada komentar: