Bukan hal baru lagi jika aku di kantor polisi. Menjemput kakakku satu-satunya yang telah melakukan serangkaian aksi nakal. Melanggar lampu merah, balapan liar, membuat kekacauan di tempat umum, beruntung dia tidak pernah membunuh atau mencuri, karena bila ia melakukan itu aku sendiri yang akan memancungnya.
"Kak Rio, kenapa sih selalu membuat ulah? Tidak selamanya kakak akan begini kan?"
"Ahhh... adikku sayang, sekali sebulan tidak masalah kan?" katanya merangkul pundakku.
Aku menepuk jidat dan menyeretnya ke mobil. Selalu saja begini. Seburuk apapun kelakuannya aku tidak bisa marah padanya, membentak pun aku tidak berani. Demikian juga dia, meskipun dia sangat kesal karena aku sering memperingatkan, menceramahi ini itu, dia tidak pernah marah. Justru menanggapinya dengan senyum. Aku selalu mengalah bukan hanya karena aku yang paling muda, tapi karena hanya dia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia dan kakak terbaik yang pernah kumiliki. Orang tua kami sudah meninggal dan mewariskan kekayaan yang tidak bisa kuhitung. Sekitar dua tahun yang lalu, perampok itu berhasil melepaskan peluru yang menembus jantung ayah dan paru-paru ibu. Mereka sempat dirawat di rumah sakit, kritis, namun tak tertolong. Kak Rio yang sedang mempersiapkan sidang skripsinya tak bisa bertahan. Berita itu benar-benar menghancurkan mentalnya. Baru setelah beberapa bulan sidang skripsinya itu bisa terlaksana dan wisuda sebulan kemudian, yang dihadiri ogah-ogahan. Perampok itu masih buron, sangat mengecewakan kinerja polisi sekarang.
2014, tahun ketiga aku di kampus. Aku ingin menjadi polisi tapi selalu gagal. Kak Rio selalu mengejekku.
"Mana ada polisi cengeng. Lagi pula, kamu kurang tampan. Hahaha"
Tapi aku tidak marah atau kesal, selalu menyenangkan mendengarnya tertawa. Apalagi setelah kejadian dua tahun lalu, mendengar suaranya saja sudah cukup, apalagi tertawa.
Kejadian hari ini, lagi-lagi kantor polisi. Tapi kasus kali ini berbeda. Kak Rio menemukan jejak perampok itu dan ia menyusulnya. Bagai petir yang menyambar kepalaku. Rasa cemas, takut, khawatir langsung memenuhi pikiranku. Perampok itu terdiri dari beberapa orang, begitu yang kudengar dari polisi. Dan satu diantaranya adalah sniper, itu yang membuatku gemetar. Kak Rio selalu terburu-buru, pikirku mungkin karena itu dia selalu membuat ulah agar kelakuannya terdengar oleh komplotan perampok itu. Ini sebuah pancingan. Tapi bagaimanapun aku tidak tenang mengetahui dia dalam masalah serius. Bagaimana jika ini hanya trik perampok itu untuk menculiknya, dan meminta tebusan. Ahhh pemikiranku sudah seperti adegan di film-film. Gawat.
Tiga puluh menit aku bergelut dengan segala kemungkinan buruk, telepon itu datang. Polisi mendapat informasi dimana mereka. Segera mobil melaju dengan sirine yang memekakkan telinga. Aku diperbolehkan ikut bersama seorang detektif yang bertugas menyelesaikan kasus perampokan dan kematian kedua orang tuaku. Tak begitu lama, kami tiba di lokasi yang dimaksud. Ini adalah daerah kumuh dipinggiran kota. Sudah pukul 12 malam, tempat itu sepi. Bagai orang kesetanan, aku berlari mencari disetiap sudut hingga akhirnya aku menemukan motor kakakku, tergeletak, lecet, dan sebelah sepatunya tertinggal di sana. Beberapa polisi dan detektif yang mengikuti hendak menghentikanku, tapi perhatian mereka teralih setelah motor itu ditemukan. Mengendap-endap, mereka mendekati sebuah bangunan mirip gudang dengan pintu besar. Di depannya terparkir beberapa mobil, yah mobil curian yang platnya telah diganti. Polisi berpencar mencari jalan masuk, aku mencoba mengintip setelah mereka semua pergi. Hey, ada celah di sini. Aku masuk dengan susah payah, berhasil!
"Apa kabar anak manis?" suara berat itu membuatku mematung.
"Sekarang apa mau kamu, pembunuh!!!" suara Kak Rio.
Aku bergerak perlahan, mengintip dari kardus-kardus yang tersusun rapi. Dari jauh aku dapat melihat mereka, 9 orang. Kak Rio digantung di dinding dengan posisi terbalik, kedua tangannya diikat, peluhnya terlihat dari rambutnya yang basah, beberapa luka berdarah di bagian perut dan dadanya membuatku hendak berteriak. Apa yang bajingan itu lakukan pada kakakku?
"Hahaha....tenang jagoan. Aku hanya ingin menyapamu sebelum aku membunuhmu," tanganku terkepal.
"Kau tahu, kedua orang tuamu telah membuatku kehilangan pekerjaan. Karena itu, istriku meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki lain," pemilik suara berat itu menghisap rokok dan membuang asapnya ke wajah kakakku.
"Hei, hentikan!!!" Teriakku tanpa sadar. Aku tidak tahan melihat asap rokok itu mengepul di wajah kak Rio, ia alergi, asap itu bisa membunuhnya.
Semua menoleh padaku.
"Bastian! Cepat pergi!!!! Jangan kesini anak bodoh!!!" Teriak kak Rio sekuat tenaga.
Aku mundur selangkah mendengar bentakan itu. Kak Rio membentakku. Ini pertama kalinya.
"Hai....si bungsu. Mau bergabung bersama kakakmu? Ini akan jadi malam yang indah di saat dua kakak adik meninggal bersamaan, sangat mengharukan."
"Dia bukan adikku. Biarkan dia pegi." Kalimat kak Rio yang membuat aku memandangnya tidak percaya. Apakah dia tahu itu? Aku tidak pernah berencana memberitahunya. Dia bukan anak kandung ayah dan ibu. Aku juga mengetahuinya beberapa bulan yang lalu. Tapi itu tidak akan merubah apa-apa. Dia tetap kakakku.
"Bukan? Itu tidak mungkin Rio, kalian sudah tumbuh bersama sejak aku bekerja di perusahaan orang tua kalian."
"Aku diadopsi sebelum Bastian lahir. Hah...apa gunanya aku menjelaskan."
"Benar sekali, karena saudara kandung atau bukan, itu bukan masalahku. Karena dia sudah di sini cepat ikat dia dan gantung seperti kakaknya!"
Aku tersudut, tidak bisa lari. Lima orang bertubuh besar itu mengepungku. Kini aku sudah tergantung persis di sebelah kak Rio, menyakitkan melihat luka di tubuhnya, pelipisnya yang berdarah. Entah seberapa kuat ia melawan para penjahat ini.
Tepat di saat pemilik suara berat itu mengacungkan pistolnya...
"Jangan bergerak!" Polisi memperingatkan, mereka akhirnya menemukan kami.
Beku sejenak, tak ada yang bergerak. Kemudian dengan sigap, pemilik suara berat itu memotong tali yang mengikat kami berdua dan meraihku sebagai sandera.
"Satu gerakan, otak anak ini berserakan," ancamnya menodongkan pistol ke kepalaku.
Polisi menjatuhkan pistolnya.
Hey, ini benar-benar seperti dalam film. Aku berharap menemukan kamera.
Kak Rio meringkuk lemah di lantai, mungkin seluruh tubuhnya sakit setelah mendapat puluhan pukulan.
Pemilik suara berat itu tersenyum lebar, menyeringai bagai orang kesetanan. Tiba-tiba kak Rio bangun dan terjadilah perkelahian yang.....hebat. Sembilan lawan dua puluh, tidak termasuk aku. Aku tidak pandai berkelahi, karena itu kak Rio mengatakan aku cengeng, anak laki-laki yang lemah. Baiklah, mungkin sudah saatnya aku membuktikan kalau aku tidak lemah. Aku menggambil balok kayu tak jauh dari tempatku berdiri, menunggu saat yang tepat memukul pria bertubuh besar yang menyerang kak Rio. Sebelum itu terjadi, suara letupan terdengar. Kak Rio tertembak. Pemilik suara berat itu memegang pistol di sudut ruangan. Suara letupan itu ternyata mengagetkan semuanya, butuh beberapa saat untuk pria bertubuh besar menyadari kalau semua polisi sudah mengarahkan pistol pada mereka.
Entah bagaimana caranya, polisi meringkus mereka semua, aku tidak peduli lagi. Aku mendekati tubuh kakakku yang terbaring tidak sadarkan diri. Gemetar tanganku merengkuh tubuhnya yang berlumuran darah. Aku memeluknya, menahan tangis. Aku teringat pesannya padaku.
"Anak laki-laki tidak boleh menangis."
"Aku bukan kakak kandungmu bodoh, jadi jangan membahayakan dirimu lagi hanya untuk menyelamatkanku," katanya sebelum tak sadarkan diri. Aku panik, aku tidak tahu mana lukanya, apanya yang tertembak, aku hanya melihat darah, darah, ahh.... aku baru ingat kalau aku phobia darah, sekarang tidak lagi.
Aku melihat tim medis mendekat, bergegas membawa tubuh kakakku ke ambulance. Salah seorang dari mereka memberi kabar baik, kak Rio hanya pingsan. Luka tembaknya tidak mengenai organ vitalnya, jadi tidak akan seserius yang kubayangkan.
Rio Teraga, memang bukan kakak kandungku. Tapi dia melindungiku sejak kecil. Menerima setiap kemarahan ibu dari masalah yang kusebabkan. Tertidur di kursi saat menugguiku di rumah sakit. Pokoknya dia adalah kakakku, titik.
Untuk sesuatu yang disebut "ide", dia bisa datang kapan saja, bahkan saat kamu menguap.. Selamat membaca :D
10/25/2014
#10. Kakak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar