Pages

5/17/2024

Mimpi?

Aku membuka mata.
 Apa itu? Apa yang terjadi? Di mana aku?

Aku membuka mata lebar-lebar demi memastikan kalau aku benar berada di kamarku, bukan tempat lain. Setelah memastikannya beberapa kali, akhirnya aku bisa bernapas lega, meski tubuhku terasa panas, gerah.

Aku bermimpi.

Mimpi yang sama sekali tidak masuk akal.
Aku berada di tepi pantai, dengan ombak ganas dan matahari kuning, entah gelap atau terang. Bagiku hanya abu-abu. Dalam sekejap berubah menjadi suasana pantai biasanya. Aku tersadar dan seseorang menyapa dengan menyebut namaku.

"Kak Pelangi?"

Aku menoleh. Membeku. Benarkah apa yang kulihat ini? Dia adalah masa lalu yang setengah mati berusaha untuk kulupakan. Bertahun-tahun aku tidak mengingatnya lagi, melihat, maupun mendengar kabar tentangnya. Kenapa tiba-tiba dia ada di sini? Memanggil namaku seolah kejadian masa lalu itu tidak pernah ada.

Lalu seperti berpindah ke slide selanjutnya, sekarang kami ada dirumahnya. Ingin rasanya aku berteriak, mimpi macam apa ini? Kenapa keluargaku dan keluarganya begitu akrab? Lalu aku duduk disamping seorang gadis yang terlihat akrab denganku. Mungkin adik atau saudaranya, dia menunjukkan ponselnya padaku. Di sana ada foto orang itu dari belakang, sendirian. Tapi aku salah, foto itu di zoom dan bisa digeser. Disampingnya duduk seorang wanita berbaju hijau. Kelingking mereka bersentuhan. Kecil tapi itu memukulku dengan sangat keras.

Sadarlah! Bahkan di alam mimpi pun kami tidak ditakdirkan bersama. Dalam mimpi pun aku tidak boleh menyukainya.

Aku sadar dari mimpi itu sepenuhnya. Itu hanya mimpi. Tapi kenapa harus dia? Kenapa harus masa lalu itu yang datang? Apakah dia merindukanku? Hah! Dulu, berpikir seperti itu saja aku akan menolak karena yakin dia tidak mungkin melakukannya. Ya, bagaimana mungkin orang yang tidak menyukaimu bisa merindukanmu?

Saat itu, mungkin semua orang tahu tentang aku yang sangat menyukainya. Tapi tidak ada yang seyakin aku bahwa dia tidak menyukaiku. Karena dia baik pada semua orang, bukan hanya aku. Mungkin dia terlihat seperti menyukaiku juga, tapi yang kurasakan tidak seperti itu. Dia hanya menghargaiku sebagai rekan kerja. Sekian.

Hingga suatu hari, dengan bodohnya aku mengakui perasaanku padanya. Dan seharusnya aku bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ia menghindar, menjauh, dan kami hilang kontak. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga tahun demi tahun, kugunakan untuk menyibukkan diri melupakannya. Tapi semakin aku mencoba semakin ingin aku tahu apa alasan dia menghindar. Mungkin karena lelah, entah pada tahun keberapa, aku tidak peduli lagi, aku melepaskan perasaanku.

Dan berita tentang pernikahannya tiba. Aku tidak tahu harus merespons seperti apa karena pada saat itu adalah masa paling berat dalam hidupku. Akhirnya aku mengerti, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan meskipun itu pada orang yang paling kita sayangi sekalipun. Aku menerimanya, selamat berbahagia. Dan sejak saat itu, semua tentangnya benar-benar berakhir. Aku bahkan merasa bersalah pada teman-teman lain yang dekat dengannya, selain menghapus kontak, aku juga membatasi diri berinteraksi dengan mereka.

Tahun berlalu dan kenapa ada mimpi ini???

Aku masih mengingat mimpi itu berhari-hari meskipun perlahan mulai memudar. Sebagai anak rantau yang menjadi dosen, terlalu banyak hal yang dipikirkan untuk mengingat semuanya. Tapi sore itu, selagi aku memeriksa lembar ujian mahasiswa, sebuah pesan masuk. Temannya mengirim pesan.

"Pelangi, kamu sudah dengar kabar? Guntur meninggal tiga jam yang lalu. Kamu bisa datang ke pemakaman?"

Pesan itu kubaca sembari merasakan petir menyambar di atas kepala. Apa ini?

"Guntur?" balasku.
"Iya. Si jangkung yang selalu menggodamu."
"Serius?" Aku masih tak percaya.

Pesan masuk selanjutnya adalah foto jejeran teman kami yang sedang melayat, baju hitam dengan wajah muram. Pesan masuk lainnya bergantian mengabarkan berita yang sama. Aku mematikan ponsel agar getarannya berhenti.

Meninggal? Mimpi itu... Tanpa terasa air mataku jatuh.

Sesaat sebelum matahari terbenam, pesawat mengudara. Aku memutuskan untuk memastikan sendiri semua pesan yang mereka kirim. Katanya Guntur akan dimakamkan besok siang. Kalau perjalanan ini lancar, aku bisa tiba tepat waktu.

Rasanya aku hanya terpejam beberapa detik dan saat membuka mata aku sudah di depan rumah Guntur yang sudah ramai oleh pelayat. Satu jam sebelum pemakaman, aku tiba tepat waktu. Beberapa teman menghampiriku dengan wajah sembab mereka dan kembali menyadarkan kalau Guntur benar-benar sudah tidak di sini lagi. Aku menahan air mata yang hendak keluar.

"Kak Pelangi?" 

Seorang wanita yang tidak kukenali mendekat. Ia menggenggam tanganku erat.

"Guntur sering cerita tentang Pelangi. Kakak orangnya?" tanya wanita itu lagi.

"Guntur punya banyak teman, mungkin bukan aku Pelangi yang dia maksud." Kataku dengan suara hampir seperti bisikan.

Wanita itu menggeleng, kali ini dia tersenyum.

"Kakak adalah satu-satunya Pelangi yang ia kenal."

Lalu terdengar isakan yang semakin lama semakin besar dan menjadi raungan yang menyayat hati siapapun. Waktunya jenazah dimandikan, keluarga, kerabat, teman melihat wajah dan menyentuh Guntur untuk terakhir kali. Tubuhku membeku, aku tidak bisa melakukan itu. Disela-sela kerumunan, aku hanya melihat wajah Guntur sekejap, terakhir kali untuk selamanya. Air mata yang setengah mati kutahan akhirnya tumpah dengan deras.

Setelah pemakaman, aku dan teman-teman kembali ke rumah duka, duduk tanpa suara. Kami bahkan tidak membicarakan alasan Guntur meninggal, sakit apa yang ia derita, seberapa parah, atau berapa lama ia di rumah sakit.

"Pelangi." Suara seorang wanita membuat kami menoleh.
Aku yang namanya disebut otomatis berdiri.

"Beliau ibunya Guntur," kata wanita yang tadi menyalamiku. Ia memapah ibu Guntur yang terlihat lemah.

"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah datang dan mengantarnya pulang." Ibu Guntur memelukku dan menangis lagi.

"Maafkan ibu, Nak." Tangisannya makin kencang, keluarga yang mendengar segera mendekat dan memapah ibu Guntur masuk ke rumah agar lebih tenang.

Wanita yang tadi kembali. Ia menarik tanganku mendekat.

"Ini ditulis sendiri oleh mas Guntur."

Aku menerima amplop yang kusut dan bertuliskan namaku diatasnya.

"Setelah menulisnya sambil menangis, mas meremas dan membuangnya ke tempat sampah. Aku memungutnya karena menurutku pemilik surat ini harus tahu isinya."

Aku masih tidak bisa berkata-kata. Kutatap amplop kusut itu, kubalikkan depan belakang. Benarkah ia menulis surat ini untukku?

"Maaf karena aku membacanya. Dan maaf karena hadir diantara kalian."

"Diantara kalian. Wanita ini istrinya". Batinku.

Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu. Ia memelukku dan terisak pelan. Aku tidak tahu isi surat itu dan aku tidak tahu alasan istrinya menangis. Jika ini karena aku, maka ini harus dihentikan. Kukatupkan rahang dan menutup mata sejenak lalu melepas pelan pelukannya.

Kubuka amplop itu di depannya, meski beberapa temanku mencoba menahan dan menyarankan agar membacanya nanti, tapi tidak. Aku harus tahu apa isinya sampai istri Guntur meminta maaf padaku. Dia tidak punya salah, kami bahkan tidak saling mengenal.
Untuk satu-satunya Pelangi di hidupku. Apa kabar, Kak? Lucu bukan, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi karena mungkin tidak sempat, aku harus menulisnya. Mmm... Mulai dari mana ya? Ah, pertama-tama maafkan aku yang sangat jahat ini. Tiba-tiba menjauh dan tidak peduli. Maaf karena saat itu aku sangat egois. Maaf karena membuat Kakak mengungkapkan perasaan lebih dulu.
Benar, kakak tidak salah baca. Harusnya aku yang lebih dulu. Jangan berpikir Kakak menyukaiku, aku yang lebih menyukai kakak. Maaf karena mengatakan ini sangat terlambat. Mungkin aku dihukum sehingga perasaanku pada kakak tidak pernah berubah meskipun aku menikah. Perjodohan itu tidak dapat kuhindari lagi setelah bertahun-tahun berperang dengan ibu. Istriku, aku merasa bersalah padanya. Bagaimanapun caraku untuk mencintainya, aku tetap merasa bersalah karena aku tidak pernah melupakan kakak sepenuhnya. Sudah kubilang aku dihukum, karena perasaan yang ku simpan rapat itu telah melukai kakak dan istriku. Penyakit ini mendorongku untuk menulis ini agar pertanyaan kakak terjawab. Dulu, perasaan kakak yang tulus itu aku tahu dengan sangat jelas karena aku juga merasakan hal yang sama. Maaf atas luka yang kuberi, pasti ada pria lain yang jauh lebih hebat dariku dan lebih pantas bersama kakak. Tolong jangan benci istriku, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya korban keserakahan orang tua kami.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. Kutatap istrinya yang masih menangis. Tubuhku bergerak memeluknya, kali ini pelukannya lebih erat.

"Ini bukan salah siapapun, kamu tidak perlu minta maaf. Kisahku dan Guntur adalah masa lalu dan perasaan itu sudah berakhir sejak aku mendengar kabar pernikahannya. Ia menulis ini hanya karena rasa bersalah, tidak lebih. Usahanya untuk membahagiakanmu adalah buktinya. Kuharap kita tidak akan bertemu lagi, bukan karena aku membencimu tapi sebaiknya memang seperti itu," bisikku ditelinganya.

Hujan membasahi kaca jendela. Perjalanan ke bandara terasa sangat panjang. Beberapa teman mengantar kepulanganku.

"Pelangi, maaf sebelumnya. Tapi aku memang mengira kamu dan Guntur pernah pacaran."

"Tidak ada yang pacaran." Tegasku.

"Tapi surat itu?"

"Dulu aku sangat menyukainya, tapi seiring waktu perasaan itu lenyap tak bersisa. Tapi mendengar kabar dia meninggal membuatku sedih. Siapa sangka kalau dia punya perasaan yang sama, tapi keadaan tidak memungkinkan. Pokoknya kami gak jodoh. Surat itu, dia memintaku tidak membenci istrinya. Hah, sampai akhir dia tetap jadi orang baik."

"Guntur tidak mengenal Pelangi yang sekarang. Dia tidak tahu kamu sudah sedewasa ini, mana mungkin kamu membenci orang yang tidak kamu kenal? Kekanakan."

Akhirnya kami tertawa.

Tidak ada pertanyaan lagi. Mobil melaju membelah hujan yang semakin deras. Tidak ada gunanya lagi menjelaskan perasaanku, lagipula aku lega setelah tahu selama itu bukan hanya aku yang tersiksa dengan perasaan yang akhirnya harus terkubur dalam. Istirahat dengan damai Guntur. Aku akan melanjutkan hidup dengan bahagia meski tidak ada kamu lagi di dalamnya.