Pages

12/31/2014

#16. Kau

Lembab. Langit baru saja selesai menumpahkan airnya. Aku menarik nafas berat, ini benar-benar berat. Hujan selalu berhasil mengingatkanku padamu. Kau yang selalu menyukai hujan dan aku yang sangat membencinya. Tapi berkatmu, aku bisa melalui setengah tahun musim hujan dengan senyum dan tawa setiap hari. Karena kau selalu bersamaku, menemani kemanapun dan apapun kekacauan yang kulakukan. Kepergianmu tahun lalu sungguh sebuah kejutan menakjubkan, tepat di hari ulang tahunku. Kupikir telepon pertama yang kuterima pagi itu adalah darimu, memang disana tertulis namamu "Vitamin Kebahagiaan" yang kau tulis sendiri di ponselku. Tapi yang berbicara bukan kau, tapi orang yang membawamu ke rumah sakit. Aku shock ketika mendengar kabar kecelakaan itu. Lututku gemetar, tubuhku lemas. Orang itu berkata lenganmu luka, kakimu patah, dan darah terus mengalir dari kepalamu. Dan kau pergi sebelum aku melihatmu dalam keadaan bernyawa untuk terakhir kalinya. Tega sekali kau meninggalkanku.

Hujan yang turun tadi mengingatkanku saat pertama kita bertemu. Waktu itu aku sedang berjualan terompet, memanfaatkan momen tahun baru untuk menambah uang saku. Penjual terompet lainnya memaksaku pergi dari tempatku berjualan, karena dianggap mengambil rejeki mereka. Aku bersiap pergi dan kau muncul tiba-tiba menghentikan mereka. Tanpa pikir panjang memborong jualan mereka, semua laku, habis. Saat aku bertanya kenapa kau melakukannya, kau berkata, "Itu rejeki mereka, dan kau membutuhkan bantuan," tersenyum menepuk pundakku.
"Lalu akan kau apakan terompet sebanyak ini?" tanyaku.
Lagi-lagi kau tersenyum, menelepon sebentar lalu mengangkut semua terompetku ke dalam bagasi mobil tanpa persetujuanku.
"Jangan cemas, aku tidak akan melukaimu," katamu ketika melihat wajah tegangku selama perjalanan.

Tak berapa lama kita tiba disebuah tempat yang tidak pernah terlintas dibenakku akan dikunjungi orang sepertimu, panti asuhan. Begitu mobil memasuki pagar, belasan anak-anak keluar dari rumah mungil itu, menghampiri dan mencium tangan kita berdua. Kau mengeluarkan terompet itu dan membuat mereka semua bersorak. Kau memperkenalkan aku sebagai temanmu yang pandai membuat terompet, padahal kau belum tahu namaku.

Aku heran, sekaligus senang dengan hal spontan yang kau lakukan saat itu. Kita mengajari anak-anak panti cara membuat terompet, mereka hormat dan menghargai kita, mereka lucu, dan rasanya seperti kita sudah kenal bertahun-tahun. Setelah semua anak-anak tidur, kau menjelaskan tanpa kutanya. Kau berasal dari panti itu, yatim piatu. Setelah jatuh bangun berkali-kali akhirnya usahamu sukses, kau satu-satunya penyumbang panti yang perhatian dan selalu memastikan anak-anak tak kekurangan apapun.

Saat aku mengamatimu bercerita, aku baru sadar kau memancarkan aura kebijakan, kedewasaan, yang jarang kulihat pada orang-orang seumuran kita. Kau santun, tampan, dan kaya. Mengapa memilih berteman denganku yang kurus, hitam, dan pendiam? Kau selalu tertawa jika aku menanyakan itu dan mengatakan ketampananku hilang jika aku mengatakannya. Kau benar-benar aneh.

Setelah malam itu, kita rutin bertemu dan kita menjadi akrab. Kita menjalani hidup kita masing-masing tanpa ada perselisihan yang membuat pertemanan ini canggung. Kau selalu mengalah. Bahkan ketika kau menyukai seseorang. Demi menemaniku bermain bola, kau mengabaikan janji nonton bersamanya. Kau memang bodoh kawan. Kau tahu, dia memarahiku hari itu, rencananya gagal karena aku. Tapi lagi-lagi kau berkata tidak apa-apa. Bisakah kau marah sekali saja?

Sekarang hingga akhir hayatmu, kau belum pernah memarahiku. Kau tidak pernah mengeluh, membentak, atau menyalahkanku. Apa yang bisa kukenang sekarang? Ketika kita bermain hujan? Ya, waktu itu kita terjebak macet, hujan terus tumpah, dan air semakin meninggi, banjir. Kita bertaruh siapa yang bisa berlari hingga lampu merah dan kembali ke mobil dalam keadaan basah. Kau benar-benar gila karena membuat aku melakukannya!

Setahun sudah kepergianmu, aku tidak dapat berkata apa-apa. Semoga kau bahagia di sana. Jangan khawatirkan anak-anak, mereka sehat dan sudah besar sekarang. Kemarin mereka tidak hanya membuat terompet, tapi juga bunga kertas yang mereka jual dan hasilnya untuk membelikan bunga besar ini. Wangi semerbak yang kau cium berasal dari bunga-bunga ini, dari cinta tulus anak-anak untukmu, dari teman payah sepertiku. Iya, aku minta maaf. Aku telah mengatakan pada anak-anak dan ibu di panti bahwa kau telah pergi ke tempat yang lebih baik. Aku tidak bisa menahannya lagi, mereka terus bertanya dan kupikir ini saat yang tepat agar mereka mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Mereka sudah besar kawan, cepat atau lambat mereka akan tahu. Tapi yang bisa kupastikan mereka akan menjadi orang-orang yang sehebat bahkan lebih hebat darimu.

Akhir tahun ini masih hujan. Tentu saja sering macet, banjir, melelahkan. Tapi kau tahu, kini aku menikmatinya..

12/16/2014

#15. Sebuah Cerita

Ini tentang sebuah pilihan. Bukan, bukan sebuah. Pilihan selalu lebih dari satu, jika tidak kita tidak perlu memilih. Ada yang pernah berkata kalau hidup itu adalah sebuah pilihan. Hidup atau mati, jika kamu pilih untuk hidup maka jalanilah dengan hati mantap.

Terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, sungguh itu benar-benar berat untuk dilakukan. Tapi hukum alam selalu berlaku, pilih satu atau kau akan kehilangan keduanya. Seperti halnya kisahku, 'cukup mudah' tapi ada yang harus dikorbankan.

Aku menyukai seseorang, yang kehidupannya jauh berbeda denganku. Dia dari kelurga terpandang dan aku dari keluarga sederhana. Dia selalu populer di sekolah dan aku makhluk 'tak terlihat' di sekolah. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjadi bagian dari gadis-gadis yang meneriaki namanya. Aku tidak pernah menyebut namanya sekalipun. Bahkan aku tidak pernah mempedulikannya atau apapun tentangnya. Karena bagiku, pria suka pamer seperti itu adalah anak manja dan sombong. Tak ada gunanya ngefans dengan orang seperti itu.

Tapi ketika kuliah semester tiga, tak sengaja kami bertemu di halte bus. Aku sempat terkejut karena dia menyapaku, dan tahu namaku. Pertemuan itu sangat singkat tapi berkesan. Malam itu aku terus memikirkannya hingga tertidur. Beberapa hari kemudian di tempat yang sama, kami bertemu lagi. Dia membantu seorang nenek naik ke bus dan memanggul barang bawaannya yang kurasa cukup berat. Aku tidak percaya dengan yang kulihat, tapi itulah kenyataan, dia sudah berubah.

Aku terkesan, tapi beberapa hari selanjutnya aku tidak pernah melihatnya lagi dan aku melupakannya begitu saja. Sebuah sedan hitam menyilaukan berhenti tepat di depanku, menyenangkan melihat warna gotic favoritku seindah itu. Kaca depannya terbuka, aku melihat pengemudinya. Seorang pria tampan dengan kaca mata hitam tersenyum ke arahku. Itu dia!

"Ayo masuk. Mau ke kampus kan?"
"Iya. Tapi terima kasih, aku naik bus saja. Sebentar lagi juga datang."
"Ayolah. Tidak setiap hari kan kita bisa bertemu seperti ini."
"Mmm....baiklah."

Aku menyerah, menerima ajakannya. Dan itu adalah pilihan pertamaku. Aku memilih ikut dengannya. Selama perjalanan tidak banyak percakapan. Aku sempat bertanya kenapa dia bisa tahu namaku. Memalukan mendengar jawabannya.

"Papan pengumuman sekolah, selalu nama pertama yang remedial ulangan fisika."

Mukaku memerah. Ingin rasanya melompat seketika keluar dari mobil. Tapi niatku urung ketika mendengarnya tertawa. Hei, tawa itu menyenangkan, tawa lepas yang menyenangkan. Aku tersenyum kecut karena malu tapi tak mampu menahan tawa saat dia mengatakan namanya juga selalu ada di lembar yang sama denganku. Ternyata dia pria yang menyenangkan. Aku menarik semua ucapanku dulu. Benar, jangan memandang orang hanya dari luar saja. Mungkin sejak itu aku mulai menyukainya.

Berbeda dengan pertemuan kami pada awalnya yang diatur oleh Tuhan, selanjutnya kami sering bertemu lagi setelah 'janjian'. Entah itu untuk jogging, makan siang, makan malam, nonton, atau sekedar jalan-jalan mengusir suntuk. Ada juga kejadian dompetnya kecopetan, ban mobil meletus, dan mobil mogok hingga aku harus mendorongnya.

Semua kesenangan itu berubah menjadi kaku saat sesuatu terjadi. Siang hari yang terik di halte bus, aku menunggu dengan tidak sabar karena sudah terlambat. Tiba-tiba sedan itu berhenti lagi-lagi tepat di depanku. Kaca mobil tidak terbuka melainkan dia yang keluar dari mobil membawa sebuah map atau semacam buku tebal, menyerahkannya kepadaku.

Aku lupa kalau sudah terlambat, kubuka buku itu. Hei, ini album foto. Semua fotoku, yang diambil tanpa kusadari. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidiki. Matanya menunjuk buku itu, buka lagi. Aku melanjutkan dan menganga setiap lembar selanjutnya dibuka. Sebodoh itukah wajahku, sejelek itu, seimut itu, seberharga itu sampai dia melakukan ini? Pertanyaan itu terjawab di lembar terakhir, ada beberapa kalimat di sana.

Aku tahu kita 'berbeda' tapi kita cocok dalam banyak hal. Aku tahu kamu bodoh, aku lebih bodoh lagi. Foto itu buktinya. Tahukah kamu kalau untuk mengambil foto tanpa sepengetahuanmu itu tidak mudah? Tapi kenapa aku melakukannya? Kurasa karena aku menyukaimu. Would you be mine?

Senyumku hilang. Apakah pria tampan dan kaya ini cocok dengan wanita sepertiku? Jujur aku senang, tapi melihat kenyataan kalau otakku yang tumpul, wajah standar, berkacamata, rambut keriting sebahu, apa yang ia harapkan dariku? Melihat perubahan wajahku, dia menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Ia menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke mobil. Aku menurut dan meminta agar ia mengantarku pulang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Dari sekian banyak gadis cantik diluar sana, dia memilihku. Lalu kenapa aku juga tak memilihnya? Bukankah aku menyukainya? Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri. Setelah satu minggu, aku memutuskan untuk menerimanya. Ya, kami menjadi pasangan kekasih. Aku memilih bersamanya. Tamat.

Tidak. Hubungan kami setelah itu tetap sama seperti biasanya. Tapi semua berubah ketika pilihan itu kembali datang. Ayahnya sakit parah dan harus dibawa ke Korea Utara, karena dokter yang menangani ayahnya memiliki kenalan di sana. Katanya dokter itu adalah dokter bedah jantung terhebat. Singkatnya, semua keluarganya pindah ke sana, begitu juga dengannya. Dia membuat pilihan yang tepat, karena jika itu aku maka akan kulakukan hal yang sama.

Saat pergi dia tidak menyuruhku untuk menunggunya, atau melupakannya. Aku tahu, itu artinya dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin ini akan merubah seluruh hidupnya. Perusahaan ayahnya terancam bangkrut. Sulit bernafas ketika menatap punggungnya, berjalan menjauh, seakan aku tidak akan melihatnya lagi. Sungguh, ini sangat berat.

Enam tahun setelah kepergiannya, aku tidak mendapat kabar. Tapi seminggu yang lalu, aku menerima emailnya. Ia merindukanku, dan ia akan pulang besok! Waktu terasa berhenti. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya ketika tahu aku sudah bertunangan sebulan yang lalu dan kami akan menikah awal tahun depan. Pilihan ini sulit, tapi keputusan itu sudah diambil. Maaf....

12/13/2014

#13. Dunia Maya

Hari ke-13 sejak kejadian itu. Maya tidak pernah lagi berbicara dengan Min, sahabatnya. Konflik yang terjadi antara dua makhluk hawa ini sulit dimengerti, hanya masalah sepele. Min membahas hal tentang laporan kelompok di facebook, hanya itu. Tapi Maya luar biasa marah gara-gara itu, mungkin dia tersinggung dengan kata-kata Min. Tak ada yang berani bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Karena sikap diam Maya sangat menyeramkan daripada ketika ia berteriak marah-marah. Min? Jangan tanya, dia tidak akan bicara.

"Maya...." Min mencoba menyamai langkah Maya di koridor ruangan.
Langkah Maya terhenti, menoleh, menatap penuh kebencian, dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Sejak saat itu, Min tidak pernah lagi mencoba untuk mendekati Maya. Semua usahanya untuk berbaikan tidak direspon. Kampus terasa sepi dengan sikap diam mereka. Karena biasanya merekalah yang membuat kelas ramai oleh teriakan dan canda tawa. Kini semua hilang, bagai jejak yang terhapus hujan. Lenyap tak berbekas. Situasi kelas seperti sedang berduka.

Antara takut, penasaran, dan jengkel, seorang teman mereka berani mengambil resiko apapun demi informasi 'apa yang sebenarnya membuat Maya marah?'

"Hei gadis..." Bayu mencoba gombalannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Maya dingin.
"Jutek banget sih Neng.... Aku mau tau, kenapa sih kamu sama Min diam-diaman? Kelas jadi punya aura horror tau! Biasanya kan kalian...."
"Stop Bayu. Ini bukan urusan kamu."
"Fine," Bayu mundur tanpa disuruh, angkat tangan meninggalkan Maya yang kembali sibuk menatap buku didepannya.
Bayu mendapat seruan Huuuu..... dari teman-temannya di kejauhan. Gagal total!

Hujan di Desember ini kembali menyapa. Langit gelap membuat sebagian besar mahasiswa betah di kampus, menunggu hujan reda. Tidak terkecuali Maya. Dia menatap kosong hujan yang sangat berisik di luar sana. Di pojok ruangan ada Min yang menatapnya prihatin, sedih, putus asa. Dia mengumpulkan keberanian dan maju duduk di bangku sebelah Maya.

"Melamunkan apa Maya?" Tanya Min lenbut.
Maya tersentak sadar dan hendak berdiri, tapi Min memegang tangannya.
"Dengar aku dulu Maya, please..." Min memohon.
Tapi Maya tetap keras kepala, ia mengibaskan tangannya menyebabkan pegangan Min terlepas, lalu ia beranjak keluar. Tapi Min belum menyerah, ia mengikuti Maya kemanapun ia pergi. Min heran karena langkah Maya menuju lantai paling atas, puncak gedung!

"Jangan-jangan Maya ingin bunuh diri," pikir Min dalam hati. Maka ia menghubungi Bayu yang otomatis langsung menyebar kesemua teman yang ada dikelas. Mereka beramai-ramai ke atap gedung kampus mereka.

Maya tidak sadar kalau Min ikut dibelakangnya. Ia mendorong pintu dengan paksa. Begitu pintu terbuka, tampias air langsung menyerbu tubuhnya, angin bertiup buas ditengah hujan yang tidak kunjung reda. Maya berjalan dibawah hujan, kini seluruh tubuhnya basah. Ia bergerak menuju pinggiran atap, tempat ia bisa melihat semua pemandangan di bawah sana.

"Tuhaaaannn!!!!!" Tiba-tiba Maya berteriak.
Min yang masih di pintu tertegun.
"Kenapa Kau memberiku ini? Belum cukup Kau mengambil kakakku?"
Min semakin heran, sementara Bayu dan yang lainnya sudah berdiri di sebelahnya. Min menahan mereka, "Maya akan bicara lebih banyak."

"Kenapa ayah dan ibu harus bercerai? Kenapa mereka tega? Kenapa aku harus dititipkan pada Paman? Kenapa aku harus pindah kuliah? Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku disini...." Maya berlutut memeluk tubuhnya yang kuyub. Menangis.

Sekarang Min dan teman-temannya mengerti kenapa Maya marah. Ini bukan tentang pembahasan di facebook, ini jelas masalah pribadi Maya. Ia tidak pernah menceritakan masalah keluarganya kepada siapapun, termasuk Min. Karena Min tidak pernah ia biarkan datang ke rumah. Min menerobos hujan mendekati sahabatnya itu.

"Kenapa kamu tidak cerita Maya? Itu sudah tugasku untuk mendengar keluh kesahmu."
Maya menoleh. "Sejak kapan kamu disini?"
"Tidak penting. Yang jelas aku mendengar semua yang baru kamu katakan." Min ikut berlutut di samping Maya.
"Maaf Min. Aku tidak bisa cerita. Aku hanya marah, pada ayah, ibu, Tuhan, dan nasibku! Dunia tidak adil."
"Maya, kau menganggap kami apa?" Bayu menyahut, ikut bermandi hujan.
"Jika kami bukan temanmu, kenapa kamu harus takut kehilangan kami?"
"Kenapa tidak cerita pada kami?"
"Bukankah itu gunanya teman?"
Satu persatu temannya maju. Maya tidak menyangka apa yang dilihatnya. Teman-temannya yang dia hindari, dia jauhi, semua ada di sana, basah oleh hujan, menyunggingkan senyum tulus mereka.
"Kami disini untuk kamu, kamu tidak sendiri Maya," Min memeluk sahabatnya.
Air mata Maya tumpah, tangisnya semakin keras, sesenggukan, yang disela-selanya ada ucapan "Terimakasih teman-teman." Semua temannya menghampiri, pelukan massal ditengah hujan deras.

Langit ibukota masih gelap, tapi hujan telah berhenti. Jejak horror didalam kampus telah terbawa pergi bersama hujan. Maya memberanikan diri menyampaikan pendapat pada orang tuanya, ia tak akan pindah, ia akan mencari kontrakan, ia akan bekerja, ia sudah dewasa!!