Dua tahun. Selisih umur kami hanya dua tahun. Aku laki-laki dan adikku perempuan. Sudah seharusnya dia hormat kepadaku. Tapi itu tidak pernah terjadi. Memang aku hanya anak angkat, tidak memiliki kecerdasan yang menurun dikeluarga ini. Tapi bagaimanapun aku adalah anak ibu dan ayah selama 24 tahun. Aku tidak pernah meminta dilahirkan di dunia, dibuang oleh orangtua kandungku, dan dirawat di panti asuhan hingga ada yang ingin mengadopsiku. Aku tidak pernah meminta itu. Apakah karena itu aku pantas menerima semua ini?
Adik perempuanku sudah sarjana dan dapat pekerjaan. Membanggakan. Sementara aku? Tentu saja juga sudah sarjana, tapi belum punya pekerjaan. Yang kulakukan sehari-hari lebih sering di depan komputer, browsing apapun, membaca apapun yang ada di sana. Beruntung aku mahir dalam bahasa Inggris dan Belanda.
"Nak, tidak lelah di depan komputer terus?"
Ibu yang selalu peduli sering bertanya padaku. Aku hanya menjawab dengan senyum. Memeluknya dari belakang dan berbisik 'Suatu hari aku akan membuat ibu bangga.' Dan ibu selalu meng-amin-inya. Ibu selalu mendukungku. Berbeda dengan ayah dan adikku. Mereka bukan membenci tapi seperti meremehkan apapun yang kulakukan. Tidak ada yang benar dimata mereka.
Ayah dan adikku tidak suka dengan hobby ku bermain bola. Mereka selalu protes jika aku banyak bicara, padahal aku hanya memberi penjelasan. Jika bukan karena ibu, sudah lama aku meninggalkan rumah ini. Hanya ibu kekuatanku untuk bertahan. Sebenarnya aku juga sangat menyayangi ayah dan adikku, hanya saja mereka selalu menekanku agar segera mendapat pekerjaan. Bukannya aku tidak mau, tapi ada satu hal yang aku tunggu. Sesuatu yang menjadi cita-citaku sejak dulu.
Februari tiba dan kesempatan itu datang. Dari serangkaian tes dan interview akhirnya aku mendapat pekerjaan itu. Tidak tanggung-tanggung, aku pulang dan memeluk ibu berkata bahwa aku akan segera membuatnya bangga. Ibu meraba wajah bahagiaku, tersenyum senang.
"Kamu selalu membuat ibu bangga, jangan khawatirkan apapun."
Hari pertama bekerja, ibu yang lebih dulu menelepon. Menangis haru melihat anaknya yang tampan menghiasi siaran televisi. Yap, kini aku seorang presenter berita olahraga. Kebiasaanku bermain bola dan sering membaca apapun ternyata berfungsi sekali. Aku bangga dengan diriku sendiri. Bangga sudah bisa membuat ibu terharu bahagia. Ayah dan adikku? Mereka memelukku ketika aku tiba di rumah. Mereka tidak bicara banyak, tapi mata mereka seolah mengatakan, "Kamu hebat!"
Tidak ada yang tidak mungkin. Hal kecil yang kita sukai mungkin tidak ada artinya dimata orang lain. Tapi dengan ketekunan dan kerja keras serta kesabaran, hal kecil itu bisa berubah menjadi permata yang menyilaukan mata.