Jauh di sudut kota, saat yang tepat untuk menyaksikan matahari terbit dari bukit kecil di belakang rumah. Seorang gadis duduk memeluk lutut di atas sana, menatap matahari terbit yang menyilaukan mata, tanpa berkedip sedikitpun. Mengkhayal? Mungkin. Seorang pria berjalan mendekatinya. Dia meletakkan sebongkah kayu yang baru dipungutnya.
"Ternyata benar, keindahan kota bisa terlihat jelas dari sini."
Gadis itu menoleh, tak menyangka ada orang lain disana.
"Iya Paman, ini tempat yang tepat untuk menyendiri," kata gadis itu.
"Keponakan Paman ini punya masalah ya?"
Gadis itu mengerutkan kening, kenapa Pamannya tahu apa yang dipikirkannya.
"Dari sekian banyak kata yang tepat untuk menjelaskan tempat ini, kamu memilih kata menyendiri, bagaimana mungkin Paman tidak menyadarinya?" jelas pria itu.
Gadis itu tersenyum, menepuk tanah disampingnya agar Paman mendekat. Pamannya menurut.
"Paman, aku punya cerita," kata gadis itu setelah menyandarkan kepalanya di bahu Paman tercintanya.
"Anything for you baby, tell me. Whats up?"
Gadis itu menghembuskan nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku bingung Paman. Apakah ada orang yang tulus ingin berteman denganku?"
"Lho, kenapa kamu bertanya begitu?" Bukankah teman kamu banyak?"
Sekali lagi Jen menarik nafas. Dia mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya. Sepertinya ceritanya akan panjang.
"Aku pikir teman-temanku tidak ada yang benar-benar tulus, dan aku rasa aku tidak pernah menjadi bagian dari mereka.
"Aku pikir, aku rasa..." Paman mengulangi kata-kata Jen.
"Dua kalimat itu berasal darimu Jen. Dari sudut pandangmu saja. Bisa saja itu hanya karena ada hal lain yang kamu pikirkan sehingga merasa begitu terhadap mereka."
Jen menggeleng.
"Mereka biasanya mengajakku jalan karena kebetulan aku di sana, jika tidak tak ada yang akan menghubungiku. Dihubungi pun itu jika ada maunya, saat mereka butuh saja. Bukankah itu berarti mereka memanfaatkanku?"
"Jen, jangan mengambil kesimpulan dulu. Sekarang paman tanya, apakah kamu tidak pernah menghubungi temanmu jika butuh? Pernah kan?"
Jen berpikir, benar juga. Ia mengangguk lemah.
"Nah, kalau begitu jangan berpikir kalau temanmu juga begitu. Jangan hanya melihat dari sudut pandangmu, lihat dari sudut pandang mereka dulu baru kembalikan pada dirimu. Sesedih itu karena kau dimanfaatkan?"
Jen tersenyum kecut.
"Kau tahu? Saat seseorang menghubungimu hanya ketika ia butuh, itu artinya kau sangat penting baginya. Kenapa? Karena hanya kamu yang bisa melakukan apa yang ia butuhkan. Dimanfaatkan? Bukankah itu memang gunanya memiliki teman? Tapi dalam pengertian yang baik." Paman terkekeh.
"Teman-teman, mereka mungkin hanya ada saat mereka membutuhkanmu. Tapi kamu tidak pernah menghitung seberapa sering mereka bersamamu saat kamu punya masalah, entah mereka tahu atau tidak. Setidaknya mereka ada untuk membuatmu marah, jengkel, hingga tertawa. Mereka anugerah Tuhan yang paling besar. Ada jutaan manusia di bumi ini, kasihan sekali mereka yang tidak memiliki teman," lanjut Paman.
Jen terkagum lantas tertawa melihat Pamannya menjelaskan dengan tangan bergerak-gerak seolah sedang menyampaikan puisi kepada matahari pagi. Pamannya ikut tertawa, menghentikan tingkah konyolnya. Matahari sudah terbit, sempurna. Mereka memandangnya penuh takjub. Menutup mata merasakan hangatnya mentari dan semilir lembut angin pagi membelai wajah. Namun tak lama, senyum di wajah Jen musnah. Ia kembali tertunduk memeluk lutut. Satu tetes, dua tetes, terisak, Paman menoleh.
"Jen tiba-tiba rindu Ayah dan ibu, Paman...."
Paman menghapus air mata di wajah Jen kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Matanya juga kabur oleh air mata.
"Kenapa Tuhan tega mengambil mereka di saat yang bersamaan. Kenapa aku tidak diambil juga?" Jen masih terisak.
"Husss....kamu tidak boleh berkata begitu."
"Maafkan Jen, Paman," Jen melepaskan diri dari pelukan Pamannya.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu hanya harus tahu, pahami dengan baik. Segala yang Tuhan lakukan itu adalah hak-Nya, kita tidak boleh mengeluh, mempertanyakan setiap kejadian. Karena pasti ada hikmah dibalik itu semua."
Jen terdiam, ia menatap wajah pamannya sungguh-sungguh.
"Kepergian kedua orang tuamu menyebabkan kamu harus dititipkan padaku, dirawat oleh Paman. Kamu adalah sebab untuk kebahagiaan Paman dan Bibi yang sudah putus asa tidak bisa memiliki anak. Sama halnya dengan teman-temanmu. Kamu merasa dimanfaatkan oleh mereka, tapi kamu menjadi sebab mereka merasa lega atas bantuanmu."
"Tapi tidak adil kan? Aku menjadi sebab kebahagiaan orang lain tapi aku harus kehilangan orang tuaku dan mengalami perasaan tidak enak lainnya."
Paman tersenyum, menggeleng. Anak ini belum mengerti.
"Dunia ini adil, Tuhan Maha Adil, dan tidak ada yang bisa menyangkal itu. Hanya saja kau belum menemukan keadilan itu."
"Bagaimana cara menemukannya?"
"Jalani hidupmu sebaik mungkin dan jangan banyak bertanya. Pelajari segala yang terjadi. Kau pasti akan mengerti. Paman beri satu contoh kecil, libur semester kemarin kamu tidak bisa ikut bersama teman-temanmu karena sakit. Dunia adil, Tuhan Maha Adil, kamu disuruh beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan kita bulan depan."
"Kemana? Paman serius?"
"Iyyap. Mahameru," ucap Pamannya bangga.
Mulut Jen membulat. Ia berdiri, berteriak sekencang mungkin. Ia sangat bahagia, sejak kepergian orang tuanya ia tidak pernah mendaki lagi, takut menerima kabar buruk lagi sepulang dari sana. Tapi Paman berusaha menghilangkan trauma itu, ia harus menjalaninya lagi.
"Contoh kecil kedua," Jen berhenti berjingkrakan.
"Kamu pasti lelah sudah menyikat kamar mandi setelah subuh tadi. Sekarang kita turun dari bukit ini, kembali ke rumah, bibi sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng kesukaan kamu."
Jen benar-benar menjerit kali ini.
"Paman pikir, segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada balasannya. Jika buruk akan buruk juga. Jika baik pasti akan lebih baik. Semoga Paman tidak salah."
"Amin."
Mereka berjalan menuruni bukit. Matahari mulai meninggi, menemani Jen dan Pamannya pulang ke rumah.
Untuk sesuatu yang disebut "ide", dia bisa datang kapan saja, bahkan saat kamu menguap.. Selamat membaca :D
10/28/2014
#12. Salah Satu Keluhan Dunia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar