Pages

10/15/2014

#8. Sekuat Intan

Intan marah. Baru saja dia menamparku. Ini adalah pertama kali sejak 5 tahun perkenalan kami. Aku tidak menyangka mencium pipinya akan membuatnya sekalap itu. Iya, aku salah. Setelah menamparku, dia berlari menjauh hingga hilang ditikungan. Mungkin karena aku terlalu senang proposal kerjaku disetujui atasan. Aku spontan memeluknya yang ada disebelahku dan mencium pipinya. Ini memang pertama kali aku melakukannya. Seminggu kedepan, Intan mendiamiku. Lucu ketika kami berbaikan. Kami berpapasan di kantor, aku ke kiri dia juga ke kiri, aku ke kanan dia juga demikian. Sampai akhirnya dia mengalah.
"Fine....kita baikan."
"Nah, begitu dong. Aku kan sudah minta maaf. Janji tidak mengulanginya lagi," telunjuk dan jari tengahku di depan wajahnya.
Dia tersenyum dan aku mempersilakannya jalan lebih dulu. Dia berlalu disertai tepuk tangan dan teriakan iseng teman kantor kami. Masalah kecil itu selesai.
Keluarga Intan bisa dikatakan berkecukupan. Ayahnya seorang pengacara, ibunya seorang ibu rumah tangga, dan Intan seorang sekretaris di sebuah perusahaan swasta tempatku bekerja. Meski begitu, perjuangannya untuk sampai pada titik ini tidak mudah. 5 tahun yang lalu ketika aku mengenalnya, dia bekerja sebagai pelayan disebuah restoran. Seorang pelanggan memakinya, aku yang menyaksikan tidak tahan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut orang itu. Segera aku menghampiri pria itu dan memukul rahangnya, ia jatuh tersungkur. Intan dengan mata bulatnya saat itu kaget melihatku yang menggapai tangannya dan menyeretnya keluar. Aku membawanya pergi dari tempat itu tak peduli teriakan bos atau pelanggan lain yang memanggilnya. Ini sudah keterlaluan. Dari ceritanya kutahu kalau kejadian semacam itu sering terjadi padanya dan ia hanya diam karena membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kuliahnya, ia anak yatim piatu. Orang tua yang mengasuhnya adalah orang tua angkat yang sangat baik. Mereka senang melihat Intan yang pekerja keras. Intan juga bekerja sebagai pengantar koran di pagi hari. Saat itulah pasangan suami istri yang tidak memiliki anak ini menawarkan untuk mengangkatnya sebagai anak. Intan senang bukan main. Dia berlari memberitahuku kabar baik ini. Saat itu aku masih bekerja sebagai tukang fotokopi di ruko pinggir jalan. Ketika Intan datang, aku mendapat telepon, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta tempatku meniti karir sampai sekarang. Dua kabar gembira dalam satu hari, kami merayakannya dengan makan makanan kesukaannya, bakso. Jadilah ia tinggal di keluarga itu tapi tetap bekerja untuk kuliahnya. Ayahnya bangga dan ibunya sangat bersyukur bisa bertemu gadis seperti Intan. Setahun kemudian, Intan menamatkan kuliahnya, memberi kedua orangtuanya hadiah berupa nilai sempurna. Dan hadiah yang sangat mengejutkan untukku, dia telah diterima bekerja di perusahaan tempatku bekerja sebagai sekretaris. Ini benar-benar kuasa Tuhan.
Beberapa bulan setelah kejadian itu ibunya meninggal karena sakit. Rumah megah itu harus kehilangan Nyonya-nya. Intan diam, menatap dengan mata kosong. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu. Tapi satu hal yang baru kusadari, ia tidak menangis. Matanya tidak sembab, tidak bengkak seperti anak gadis kebanyakan saat ibunya meninggal. Hingga pemakaman selesai dan aku hendak pamit pulang, air matanya tak juga tumpah. Sesakit itukah hingga ia tak sanggup menangis? Mengeluh sekalipun tidak. Bahkan ketika memeluk ayahnya, ia masih bisa mengajak bercanda agar ayahnya tersenyum. Dia benar-benar kuat, sama seperti namanya, Intan, yang kuat, kokoh dan tidak bisa hancur.
Setahun berlalu. Aku melihatnya menangis, kemarin, di pelukan ayahnya. Sesenggukan ia mengucapkan terima kasih, mencium tangan ayahnya. Bagiku menangis saat seperti itu wajar, ketika seorang gadis menikah, ia akan ikut bersama suami dan meninggalkan rumahnya. Ya, kemarin Intan menikah, bersama seorang pria biasa yang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, orang yang pernah ia tampar dengan sangat keras.....aku. Keinginanku untuk selalu melindunginya terwujud dalam sebuah pernikahan. Bukan ia yang menerimaku, tapi ayahnya yang langsung setuju ketika aku membawa rombongan keluarga kecilku ke rumahnya. Tidak masalah, sebelum akad dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku.
Dan tangisannya itu karena ia sangat bahagia dan tidak sanggup lagi menahannya di dada. Baginya memiliki keluarga, ayah dan ibu, adalah hadiah terbesar Tuhan untuknya. Ditambah lagi dengan seorang yang sangat ia sayangi menjadi suaminya. Itu sudah berlebihan baginya. Tapi aku meyakinkannya, ini hadiah Tuhan untuknya karena bersabar selama ini, tulus dan baik pada semua orang. Juga hadiah untukku karena telah memberiku Intan yang sangat bersinar, menyilaukan.
Aku mendekapnya agar ia merasa nyaman, tak lama ia tertidur, cantik sekali melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. Aku menghabiskan malam itu dengan memandangi wajahnya hingga aku tertidur. Pagi hari rumah kembali ramai. Intan pergi untuk selamanya. Kejutan kesekian yang ia berikan. Aku tidak menangis meski baru tahu kalau sudah dua tahun terakhir dia sakit parah. Dokter yang memberitahuku mengaku kalau Intan merahasiakannya dari siapapun. Aku mengamuk, membanting apapun yang dapat kujangkau. Hingga aku menemukan beling yang akan kupakai memotong urat nadi di pergelanganku, wajah Intan muncul dibenakku, sedih. Aku terduduk lemas, "Intan, maafkan aku. Aku tidak sekuat dirimu."
Beling itu terlepas, semua keluarga terutama ayah Intan mendekat ke arahku, memeluk. Maafkan aku Intan, maaf.

[Sesedih apapun, jangan pernah berpikiran bodoh untuk bunuh diri. Nyawa itu milik Tuhan, bukan hak mu untuk  mengakhirinya.]

Tidak ada komentar: