Pages

3/11/2014

#2. Eiittss..



Jantungku serasa akan berhenti ketika melihat wanita paruh baya ini terbaring lemah. Ia mengingatkanku pada ibuku yang telah lebih dulu menghadapNya­­­­. Entah keberanian dari mana yang membuatku datang ke tempat ini, rumah sakit. Tempat yang tidak pernah ingin kukunjungi setelah ibuku meninggal. Wanita yang ada di depanku sedang tertidur lelap tanpa ada seorangpun yang menemani. Tiba-tiba mata wanita ini terbuka.

Melihatnya keheranan, aku memasang senyum dan mencoba mendekat. Setelah duduk di samping tempat tidurnya, aku memperkenalkan diri kemudian mencium tangannya. Wajahnya berseri seketika, mungkin karena tahu aku bukan orang jahat. Sejenak terlintas di benakku kejadian barusan, aku yang menyebabkan wanita ini ada di rumah sakit. Rasa bersalah membuatku secara spontan membawanya ke rumah sakit. Aku meminta maaf berkali-kali, tapi wanita ini hanya tersenyum. Ia membelai rambutku tepat ketika seseorang membuka pintu.

“Meta?” kata seseorang yang datang itu. Aku mematung, mataku membulat, tanganku dingin, beku.

“Reza? Kamu mengenalnya? Dia yang membawa ibu kemari, berterima kasihlah sayang.”

Reza mengucapkan terima kasih lalu mendekati ibunya yang kini sudah baikan. Aku masih di sisi tempat tidur, tidak percaya dengan yang terjadi. Wanita yang kutabrak tadi adalah ibunya Reza, pria yang selama ini membuat jantungku berdegup kencang setiap melihatnya. Aku membulatkan mata sekali lagi. Meta? Dia tahu namaku? Aku menoleh dan mendapatkan matanya yang melihatku heran. Aku permisi dan berjalan keluar.

Hei!!!! Dia menjajari langkahku. 

Thanks,” katanya lagi.

“Aku yang membuat ibu kamu ada di sini, please jangan bilang terima kasih terus, aku yang seharusnya minta maaf”.

“Meta,” Ya Tuhan, dia menyebut namaku lagi, sambil menatapku!!!! 

“Tapi ibuku senang, terima kasih ya...” 

Aneh!! Aku yakin ada yang aneh!! Seharusnya Reza dan ibunya marah, atau paling tidak mengomel dan memberi nasehat panjang agar aku lebih berhati-hati lagi, tapi ini….terima kasih?? Bodo’ ah, aku pulang dengan perasaan campur aduk. Kaget karena sudah menabrak orang dan ternyata orang itu adalah ibu dari orang yang kusuka. Senang karena Reza tahu namaku, dia mengenalku!! (Ingin rasanya aku melompat).

Seminggu lagi aku wisuda, dan akan melanjutkannya di tempat yang jauh. Aku tidak sebahagia orang-orang yang wisuda pada umumnya. Aku justru merasa sedih, karena otomatis akan jauh dari Reza. Setahuku dia tidak mengenalku, kami satu fakultas tapi beda jurusan. Aku mengenalnya hanya dari cerita temanku yang ternyata adalah teman SMA-nya. Itu yang membuatku terkejut ketika tahu dia mengenalku, dia kan cueknya minta ampun.

Malam itu aku bersama teman-temanku, setelah menonton film dan belanja buku, komik lebih tepatnya :D kami berencana membeli es krim. Tak jauh dari tempat membeli es krim, kami melihat kerumunan orang ditengah mall. Aku melihat ke lantai dua, tiga, dan seterusnya, semua orang berkerumun ingin tahu apa yang terjadi, demikian juga kami. Tiba-tiba dari speaker terdengar suara.

“Mau tidak jadi yang terakhir buatku?” Wuiihhh…serentak semua orang berteriak dan bertepuk tangan, termasuk aku dan teman-temanku.

Kembali ada suara dari speaker yang membuat semua orang terdiam.

“Tolong jangan pergi. Aku tidak akan sanggup lebih jauh lagi dari kamu. Selama ini aku hanya diam dan membiarkan perasaanku begitu saja, tapi akhirnya aku sadar kalau aku tidak mau kehilangan kamu. Karena itu, hari ini aku ingin kamu tahu dan semua orang yang ada di sini menjadi saksinya.”

Aku terdiam, teringat seseorang. Siapa lagi kalau bukan Reza, seandainya dia yang mengatakan itu padaku, menunjukkan pada semua orang. Ahhh…. Pasti rasanya sangat menyenangkan.

“Aku cinta kamu Meta Putri Annisa,” kali ini teriakan lebih riuh dan tepuk tangan membahana dari semua penjuru, terutama dari teman-temanku.

“Meta, itu buat kamu, dia nyebut nama kamu!!!!” seru teman-temanku. Heh?? Aku mencoba mengingat nama yang disebutkan tadi.

“Meta Putri Annisa. Iya, kamu yang sekarang jalan bareng Lika, Dian, dan Lona. Yang selalu memakai jam tangan kemana-mana, yang selalu senang dengan es krim cokelat, yang membawa ibuku ke rumah sakit.”
Ya Tuhan, doaku terkabul secepat ini? Orang yang mengatakan itu benar-benar Reza, dan kata-kata itu benar untukku! Kini ia berjalan menghampiriku, tepuk tangan belum pernah terhenti dan semakin riuh saja. Reza semakin dekat, aku merasa hampir pingsan, ini terlalu mendadak, aku belum siap. Ingin lari, tapi teman-temanku menjadi dinding yang melarangku kemana-mana. Aku pasrah, Reza kini tepat di depanku, mendekatkan wajahnya, mengangkat tangannya untuk menghapus es krim dipinggir bibirku. Bikin malu saja!

“Cieeeeeee” terdengar dari seluruh pengunjung mall yang menyaksikan. Reza kembali mendekatkan mike ke mulutnya. 

“Meta, aku sayang kamu, aku mencintai kamu, kalau itu butuh alasan baiklah, karena hati kamu bersih, karena itu juga ibuku menyukaimu, beliau ingin kita menikah. Aku tahu kamu akan kuliah keluar negeri, aku tidak akan menghalangi itu, tapi sebelum kamu ke sana aku ingin kamu sudah sah menjadi istriku. Jadi maukah kamu memenuhi keinginan ibuku, dan mengabulkan cita-citaku untuk bersama kamu dalam sebuah ikatan suci??”

Demi Tuhan, aku ingin pingsan. Tapi rasanya terlalu bodoh jika itu sampai terjadi. Kukuatkan mental, kutarik nafas panjang sebelum aku mengangguk dan membuat semua orang datang mengerumuni kami untuk memberi selamat, menyalami kami.

Sekarang aku di rumah sakit... LAGI!! Tapi kali ini keadaannya berbeda, Reza ada di sampingku. Ia menggenggam tanganku dan mengelap keringat di dahi dan leher ku dengan tangannya, ia tampak cemas. Kemejanya ia gulung hingga siku, dasinya sudah tak tergantung di lehernya, ia ketakutan setengah mati melihatku yang kesakitan. Aku sudah berteriak, mencakar dan menarik rambutnya. Hahaha... Ya, kami di ruang bersalin. Anak pertama kami akan segera lahir.

Tidak ada komentar: