Jantungku serasa akan berhenti
ketika melihat wanita paruh baya ini terbaring lemah. Ia mengingatkanku pada
ibuku yang telah lebih dulu menghadapNya. Entah keberanian dari
mana yang membuatku datang ke tempat ini, rumah sakit. Tempat yang tidak pernah
ingin kukunjungi setelah ibuku meninggal. Wanita yang ada di depanku sedang
tertidur lelap tanpa ada seorangpun yang menemani. Tiba-tiba mata wanita ini
terbuka.
Melihatnya keheranan, aku memasang senyum dan mencoba mendekat. Setelah duduk di samping tempat tidurnya, aku memperkenalkan diri kemudian mencium tangannya. Wajahnya berseri seketika, mungkin karena tahu aku bukan orang jahat. Sejenak terlintas di benakku kejadian barusan, aku yang menyebabkan wanita ini ada di rumah sakit. Rasa bersalah membuatku secara spontan membawanya ke rumah sakit. Aku meminta maaf berkali-kali, tapi wanita ini hanya tersenyum. Ia membelai rambutku tepat ketika seseorang membuka pintu.
“Meta?” kata seseorang yang
datang itu. Aku mematung, mataku membulat, tanganku dingin, beku.
“Reza? Kamu mengenalnya? Dia yang
membawa ibu kemari, berterima kasihlah sayang.”
Reza mengucapkan terima kasih
lalu mendekati ibunya yang kini sudah baikan. Aku masih di sisi tempat tidur, tidak
percaya dengan yang terjadi. Wanita yang kutabrak tadi adalah ibunya Reza, pria
yang selama ini membuat jantungku berdegup kencang setiap melihatnya. Aku
membulatkan mata sekali lagi. Meta? Dia tahu namaku? Aku menoleh dan
mendapatkan matanya yang melihatku heran. Aku permisi dan berjalan keluar.
Hei!!!! Dia menjajari langkahku.
“Thanks,” katanya lagi.
“Aku yang membuat ibu kamu ada di sini, please jangan
bilang terima kasih terus, aku yang seharusnya minta maaf”.
“Meta,” Ya Tuhan,
dia menyebut namaku lagi, sambil menatapku!!!!
“Tapi ibuku senang, terima kasih
ya...”
Aneh!! Aku yakin ada yang aneh!! Seharusnya Reza dan ibunya marah, atau
paling tidak mengomel dan memberi nasehat panjang agar aku lebih berhati-hati
lagi, tapi ini….terima kasih?? Bodo’ ah, aku pulang dengan perasaan campur
aduk. Kaget karena sudah menabrak orang dan ternyata orang itu adalah ibu dari
orang yang kusuka. Senang karena Reza tahu namaku, dia mengenalku!! (Ingin rasanya aku melompat).
Seminggu lagi aku wisuda, dan
akan melanjutkannya di tempat yang jauh. Aku tidak sebahagia orang-orang yang
wisuda pada umumnya. Aku justru merasa sedih, karena otomatis akan jauh dari
Reza. Setahuku dia tidak mengenalku, kami satu fakultas tapi beda jurusan. Aku
mengenalnya hanya dari cerita temanku yang ternyata adalah teman SMA-nya. Itu
yang membuatku terkejut ketika tahu dia mengenalku, dia kan cueknya minta
ampun.
Malam itu aku bersama
teman-temanku, setelah menonton film dan belanja buku, komik lebih tepatnya :D
kami berencana membeli es krim. Tak jauh dari tempat membeli es krim, kami
melihat kerumunan orang ditengah mall. Aku melihat ke lantai dua, tiga, dan
seterusnya, semua orang berkerumun ingin tahu apa yang terjadi, demikian juga
kami. Tiba-tiba dari speaker terdengar suara.
“Mau tidak jadi yang terakhir
buatku?” Wuiihhh…serentak semua orang berteriak dan bertepuk tangan, termasuk
aku dan teman-temanku.
Kembali ada suara dari speaker
yang membuat semua orang terdiam.
“Tolong jangan pergi. Aku tidak
akan sanggup lebih jauh lagi dari kamu. Selama ini aku hanya diam dan
membiarkan perasaanku begitu saja, tapi akhirnya aku sadar kalau aku tidak mau
kehilangan kamu. Karena itu, hari ini aku ingin kamu tahu dan semua orang yang
ada di sini menjadi saksinya.”
Aku terdiam, teringat seseorang.
Siapa lagi kalau bukan Reza, seandainya dia yang mengatakan itu padaku,
menunjukkan pada semua orang. Ahhh…. Pasti rasanya sangat menyenangkan.
“Aku cinta kamu Meta Putri
Annisa,” kali ini teriakan lebih riuh dan tepuk tangan membahana dari semua
penjuru, terutama dari teman-temanku.
“Meta, itu buat kamu, dia nyebut
nama kamu!!!!” seru teman-temanku. Heh?? Aku mencoba mengingat nama yang
disebutkan tadi.
“Meta Putri Annisa. Iya, kamu
yang sekarang jalan bareng Lika, Dian, dan Lona. Yang selalu memakai jam tangan
kemana-mana, yang selalu senang dengan es krim cokelat, yang membawa ibuku ke
rumah sakit.”
Ya Tuhan, doaku terkabul secepat
ini? Orang yang mengatakan itu benar-benar Reza, dan kata-kata itu benar
untukku! Kini ia berjalan menghampiriku, tepuk tangan belum pernah terhenti dan
semakin riuh saja. Reza semakin dekat, aku merasa hampir pingsan, ini terlalu
mendadak, aku belum siap. Ingin lari, tapi teman-temanku menjadi dinding yang
melarangku kemana-mana. Aku pasrah, Reza kini tepat di depanku, mendekatkan
wajahnya, mengangkat tangannya untuk menghapus es krim dipinggir bibirku. Bikin
malu saja!
“Cieeeeeee” terdengar dari
seluruh pengunjung mall yang menyaksikan. Reza kembali mendekatkan mike ke
mulutnya.
“Meta, aku sayang kamu, aku mencintai kamu, kalau itu butuh alasan
baiklah, karena hati kamu bersih, karena itu juga ibuku menyukaimu, beliau ingin
kita menikah. Aku tahu kamu akan kuliah keluar negeri, aku tidak akan
menghalangi itu, tapi sebelum kamu ke sana aku ingin kamu sudah sah menjadi
istriku. Jadi maukah kamu memenuhi keinginan ibuku, dan mengabulkan cita-citaku
untuk bersama kamu dalam sebuah ikatan suci??”
Demi Tuhan, aku ingin pingsan.
Tapi rasanya terlalu bodoh jika itu sampai terjadi. Kukuatkan mental, kutarik
nafas panjang sebelum aku mengangguk dan membuat semua orang datang mengerumuni
kami untuk memberi selamat, menyalami kami.
Sekarang aku di rumah sakit... LAGI!!
Tapi kali ini keadaannya berbeda, Reza ada di sampingku. Ia menggenggam tanganku dan mengelap
keringat di dahi dan leher ku dengan tangannya, ia tampak cemas. Kemejanya ia
gulung hingga siku, dasinya sudah tak tergantung di lehernya, ia ketakutan
setengah mati melihatku yang kesakitan. Aku sudah berteriak, mencakar dan menarik rambutnya. Hahaha... Ya, kami di ruang bersalin. Anak
pertama kami akan segera lahir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar