Pages

12/14/2013

#1. Bodoh


Kurang dari satu menit, tapi aku merasa ini sudah terlalu lama untuk kami saling menatap seperti ini. Dalam hati aku mengutuk diri sendiri, kenapa aku harus menghadiri acara yang diadakan oleh kantor tempatku bekerja. Kenapa pula dia harus ada di sini? Dan kenapa harus dia? Ahhh…. Aku mendesah dalam hati.

Perlahan orang itu mendekat, selangkah, dua langkah, dan kini jaraknya kurang dari satu meter dariku. Tubuh tingginya membuatku harus mendongak. Aku melempar tatapan sedingin mungkin, padahal di dalam, jantungku sebentar lagi akan melompat keluar. Huahh…. Pria ini membuatku nervous! Segitunya kah?

Mungkin karena tatapanku tidak sedingin yang kubayangkan, pria ini tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. Aku seperti ingin pingsan. Perasaanku meluap, kaget, heran, stresssss (>.<), dalam benakku dia pasti tahu apa yang kurasakan saat ini, bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu. Dengan cepat aku menguasai diri. Masih dengan perasaan bercampur aduk, aku melirik tangan yang bergerak menyalami tangan pria dihadapanku.

Saat telapak tangan kami bersentuhan aku merasa sekujur tubuhku dingin, aku tidak menggerakkannya lagi, aku menundukkan pandangan. Mungkin karena bosan menunggu responku, dia menjabat erat tanganku, DAN TIDAK MELEPASNYA. Tiba-tiba semua hal tentang dia berkelebat dikepalaku, SEMUA!! Aku langsung merasa marah dan spontan memukul lengannya. Dia meringis kesakitan dan wajahku sudah berubah menjadi wajah nenek sihir penuh dendam.

Aku terus memukulnya tanpa henti, ingin rasanya aku berteriak, tapi di sini banyak orang. Akhirnya dia menangkap kedua tanganku. "Sudah puas?" tanyanya dengan wajah...ahhh, raut wajah itu lagi, innocent. Aku meronta ingin melepaskan diri dan menghajarnya sampai babak belur. Emosiku meluap dan terus mencoba melepaskan tanganku darinya, mataku mulai berair. Tiba-tiba teman sekantorku datang dan berkata “Ciee yang pegangan tangan”. Pria ini justru meladeninya dengan kalimat “Kalau tangannya kulepaskan, dia tidak akan berhenti memukuliku”, hei!!! Temanku terbahak, DAN BERANJAK PERGI. 

Melihat mataku yang seperti itu, dia meregangkan pegangannya dan perlahan melepas tanganku. Dia tersenyum, aku memandangnya semakin tajam lalu menghapus air mataku. Bodoh sekali aku menangis di depannya. “Brengsek!” kata ampuhku yang membuatnya terpingkal. Aku semakin marah, mendorongnya, dan beranjak dari tempat itu.

Di luar sini dingin, aku mengutuk untuk yang kesekian kalinya, menyesal menghadiri acara kantor ini. Sudah membosankan, ditambah lagi dengan kedatangan makhluk satu itu. Baru saja aku ingin menelepon taksi, hp ku sudah direbut seseorang. Oh Tuhan, pria ini lagi! Dia meraih tanganku dan menyuruhku duduk disebuah bangku panjang. Aku pasti sudah dihipnotis, aku menurutinya tanpa tangkisan sama sekali.

Dia berlutut di depanku, “Maaf”, katanya. “Maaf sudah membuat kamu khawatir, maaf karena pergi tanpa bicara sama sekali, maaf tidak membalas pesan maupun mengangkat teleponmu, aku benar-benar dalam posisi yang TIDAK BISA bukan tidak mau,” matanya berkata jujur, aku tahu itu dan aku mulai luluh. 

“Sekarang aku di sini bukan hanya untuk minta maaf, tapi juga menebus semua kesalahanku, dan berterima kasih.” Lho? Aku heran, “Terima kasih? Jangan bodoh,” kataku sambil tertawa sinis. Lalu aku berdiri dan pergi dengan langkah cepat, dia tidak mengejarku. Sudah ku duga.

“Terima kasih karena mengkhawatirkanku! Aku tahu itu yang kamu rasakan sepanjang waktu!!!” ya Tuhan dia berteriak dan tentu saja langkahku terhenti. “Terima kasih karena bersabar dan mau menungguku kembali!!!” kalimat ini membuatku berbalik, dia tahu aku menuggunya? “Dan terima kasih untuk menjadi orang bodoh yang tetap mencintaiku, tulus, meskipun kamu tahu betapa brengseknya aku!” teriaknya dengan nada yang lebih tinggi. Beruntung di luar tidak ada orang karena acara puncak sudah dimulai.

Berbeda dengan tadi, sekarang sikapku lebih tenang. Memang aku masih mencintainya, aku sadar itu saat melihatnya lagi. Tapi apakah hanya karena itu aku akan memaafkannya? Kebodohanku selama empat tahun akan selesai setelah ia minta maaf? Tidak. Yang ia lakukan sekarang justru membuatku kesal. 

"Kamu tidak akan bisa membuat kertas yang sudah diremas, kembali seperti semula."
"Aku tahu, karena itu aku akan menjaganya seumur hidup."

Keriuhan acara di dalam terdengar samar mengiringi perang tatapan yang kami lakukan. Kutatap matanya yang tajam seperti dulu, apakah aku harus memberinya kesempatan lagi?

Tidak ada komentar: