Pages

9/02/2014

#6. Her Life



(Foto ini hanya rekaan)


Namaku Windy, 27 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta di jantung ibukota Sulawesi Selatan. Sudah 10 tahun aku berdomisili di kota ini, sejak ayah dan ibu bertengkar. Mereka memikirkan diri mereka sendiri tanpa mempedulikan aku, satu-satunya putri mereka. Aku pergi dari rumah, meninggalkan mereka dengan sejuta pertengkaran yang mungkin tak pernah habis. Entahlah, sekarang jarakku ada ribuan kilometer dari mereka. Dan mereka tak pernah mencariku.

Lima tahun yang lalu aku sempat memutuskan untuk pulang, tapi gagal karena aku diterima bekerja. Jadilah aku menetap di sini hingga sekarang. Hidup sendiri selama bertahun-tahun membuatku mengerti perasaan anak-anak di panti asuhan. Aku memiliki banyak teman, tapi keluarga? Aku sudah lupa bagaimana rasanya punya keluarga. Punya ayah, punya ibu. Kadang aku merindukan mereka, tapi tertepis dengan kebencianku sebelumnya. Hingga suatu hari di sebuah Café di sudut kota, aku bertemu seseorang, Ryan. Dialah yang mengingatkanku kembali tentang arti sebuah keluarga, tentang betapa pentingnya menghormati kedua orang tua. Darinya aku mencoba untuk membuang kebencianku dan mulai mencari tahu kabar ayah dan ibu. Semua yang Ryan katakan benar, tapi andai saja dia mengetahui apa yang terjadi, apakah dia akan berkata seperti itu?

Prangggg!!! Suara pecahan terdengar dari dapur. Aku yang mendengarnya bergegas ke arah suara itu. Tapi belum sampai, aku sudah mendengar yang lain. Nada marah ayah dan teriakan histeris ibu. Aku tidak bermaksud menguping, tapi karena suara mereka sangat keras, tentu saja aku mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mencerna semua kata yang keluar dari mulut mereka. Aku anak angkat, ayah terpaksa menikahi ibu, ayah selingkuh dengan teman ibu, ibu sendiri hamil 3 minggu dan anak itu bukan keturunan ayah. Tahu yang amat keterlaluan dan tidak bisa kuterima? Pertengkaran mereka hanya karena harta. Uang!!!!

Rasanya seperti ada ribuan pisau yang berlomba-lomba menusuk jantungku, sakit sekali. Aku berjalan ke kamar mirip seperti zombie. Ku kunci pintu rapat-rapat, pertengkaran mereka masih terdengar dengan jelas. Aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak sekencang mungkin hingga akhirnya aku membuat keputusan. Ku kemasi semua barangku dan segera pergi meninggalkan rumah berlatar pertengkaran. Mereka tidak tahu itu.

Aku tidak menceritakan pada Ryan tentang alasanku membenci kedua orangtua ku, tapi ia selalu bisa memberi semacam ‘kuliah’ tentang bagaimana seharusnya kita menghormati mereka. Ryan selalu ada saat aku membutuhkannya, ia selalu menolongku tanpa kuminta. Kami sering bertemu karena ternyata kami di perusahaan yang sama. Sejak saat itu, aku mulai bisa melupakan sakit dan benci di dalam dadaku, apalagi saat bersamanya. Awal tahun ini aku mulai merasakan ada yang berbeda. Aku gemetar saat melihatnya, dan grogi setengah hidup saat ia tersenyum padaku. Aku jatuh cinta….

“Windi, makan bareng yuk,” ajak Ryan saat jam makan siang.

Aku yang menunggu momen itu tentu saja kegirangan membalas sms-nya, “Ayo, kita ketemu di kantin ya.”

Dengan ceria kubereskan mejaku dalam sekejap lalu meraih tas dan mengambil barang-barang di dalamnya. Menyisir rambut panjangku dan menatanya, merapikan bedak, memakai lip gloss, dan terakhir memastikan letak kacamataku memperlihatkan mataku yang berbinar.

“Sempurna!” pujiku dalam hati ketika melihat diriku dalam cermin mini itu.

Aku melangkahkan kaki menuju kantin dengan hati deg-deg-an.

“Pakai kemeja warna apa dia hari ini? Dasinya? Ah, dia kan malas menggunakannya apalagi sekarang waktu makan,” batinku tertawa lucu.

Tiba di kantin, aku memutar bola mata untuk mencarinya. Dan….Wowww!!!!! Dia sangat rapi. Ada apa ini? Di sudut kantin, dia melambaikan tangan padaku, disebelahnya ada seorang gadis yang tidak ku kenal, mungkin temannya. Aku menghampirinya dengan senyum dan menjabat tangan gadis di sebelahnya.

“Windi. Siapa Yan?” tanyaku menoleh pada Ryan.

“Eliana. Duduk dulu dong,” Ryan menarikkan kursi untukku. Aku hampir melayang karena bahagia.

“Wah, nama yang bagus. Seperti nama barbie ya.”

Kami tertawa bersama. Aku cepat akrab dengan Eliana, gadis itu mudah bergaul, cerdas, dan cantik. Dia sama denganku, makan dengan lahap tak peduli ada pria yang makan bersama kami. Lapar kenapa harus sok jaim?

“Win, aku mau bilang sesuatu. Tapi janji kamu tidak akan teriak!” Ryan mengganti topik pembicaraan.

Aku mulai curiga. “Ulang tahunku masih lama Yan, jangan kasih surprise sekarang,” candaku yang membuatk semua kembali tertawa.

“Bukan itu. Aku dan Eliana akan menikah, dan kami ingin kamu yang jadi host-nya,” wajahku berubah seketika.

“Loh, kok diam? Maaf ya, baru kasih tahu sekarang. Windi?? Win!!”

“Eh, iya. Aku cuma kaget, kamu kan tidak pernah cerita,” setengah mati aku menahan luapan kekecewaan dalam dadaku. Aku tersenyum pada mereka.

Tiga puluh menit selanjutnya akhirnya makan siang selesai, dan pembicaraan masalah pernikahan itu juga selesai. Setelah Ryan mengantar Eliana keluar kantin, aku berlari ke toilet. Menatap wajahku di cermin, pucat. Ada air mata di sana, namun tak ada suara. Hatiku kembali sakit. Pulang dari kantor aku sengaja tidak segera kembali ke rumah. Aku memilih jalan-jalan, menenangkan hati dan pikiran yang benar-benar berantakan. LAGI? Aku kembali sakit? Saat aku mulai mencintai seseorang, orang itu akan menikah dengan orang lain? Skenario apa ini!!!! Ingin rasanya aku berteriak.

Sepuluh tahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, hatiku tak sesakit ini. Entah apa yang Tuhan rencanakan untukku, kucoba menerima keadaan, meskipun itu berat. Toh, aku pernah melaluinya. Ayah, ibu, aku butuh kalian. Tolong peluk aku…

Langit mulai memerah, senja yang selalu kusuka mengobati sedihku dengan pesonanya yang megah di tepi pantai kota Makassar.

Tidak ada komentar: