Pages

9/01/2014

#5. Sebab Mimpi


“Amwaaaa…!!!” pekik Nio terbangun dari tidurnya. Ini adalah mimpi buruknya yang ke sekian. Sejak beberapa minggu yang lalu mimpi itu selalu datang. Mimpi yang sama dan orang yang sama. Pekikan itu terdengar di telinga ibunya yang langsung menuju kamarnya dengan segelas air. Setelah menghabiskan air dalam satu tegukan, dia mulai tenang, bernafas dengan teratur. Mencoba untuk mengingat kembali mimpinya agar jelas, siapa wanita yang bernama Amwa itu.

“Aku tidak kenal dia, sepertinya aku mengenalnya dari alam mimpi saja,” jawabnya ketika ditanya. Kesunyian rumah yang hanya di huni oleh dia dan ibunya membuat suasana lebih sunyi. Tidak ada penjelasan untuk peristiwa ini, untuk mimpi ini. Bunga tidur yang dikatakan sebagai mimpi buruk oleh Nio. Bagaimana tidak, dalam mimpinya dia bersama orang yang bernama Amwa itu berjalan kaki di sebuah lereng, atau mungkin di pinggir jurang. Bercerita lepas, tertawa, hingga tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang menariknya ke pinggir dan jatuh ke jurang. Disitulah dimana Nio terpekik, bangun dari tidurnya. Ia merasa bersalah melihat seseorang jatuh di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Awalnya Nio menganggap ini biasa saja. Tapi beberapa bulan kemudian mimpi itu datang hampir setiap dia memejamkan mata. Kini matanya sudah seperti panda, kantung matanya semakin hari semakin jelas, Nio tidak bisa tidur, sudah berhari-hari. Akhirnya dia berpikir bahwa pasti ada sesuatu dibalik mimpi itu, sesuatu hingga mimpi itu terus mendatanginya. Apakah benar dia mengenal Amwa itu? pertanyaan itu terus ia tanyakan pada dirinya sendiri. Nio berkpikir keras, tapi tetap tak menemukan jawabannya. Akhirnya dari saran beberapa teman dia mulai mencari tahu ada apa dengan mimpi ini. “Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu.” Siapa Amwa itu? Sepulang dari kampus, dia mengumpulkan semua album fotonya, kardus-kardus berisi buku, hingga laptop dan hardisk yang menyimpan jutaan memori di dalamnya. Ibunya tak ia izinkan ikut campur karena masalah ini belum jelas. Ia tidak ingin membebani pikiran ibunya. Biarlah mimpinya untuknya seorang diri.

Berjam-jam ia memperhatikan setiap foto dalam laptop dan hardisk, tidak ada. Selanjutnya ia membongkar isi kardus. Buku cetak semasa sekolah, catatan yang berantakan, hingga lembar-lembar ujian harian ia periksa, akankah ada sesuatu yang mengingatkannya pada sosok yang bernama Amwa. Dia belum menemukannya. Berpikir sejenak, dia melanjutkan ke album foto. Album yang menumpuk itu seperti perjalanan hidupnya. Foto sejak ia bayi hingga sebesar sekarang ada di sana. Hingga matanya tertumpu pada sebuah foto, ketika ia masih di sekolah dasar. Di dalam foto itu ada dia dan teman sekelasnya. Namun tidak terlalu jelas. Tapi ia masih bisa mengenal wajah teman-temannya. Kisah kecil yang menyenangkan. Tak ada orang yang bernama Amwa dalam foto itu. Dia membuka halaman selanjutnya, sampai selesai, dia belum menemukan apa-apa. Nihil.

Nio melanjutkan pencariannya pada album yang lain, satu demi satu tapi hingga selesai tak juga ia temukan jawaban di balik mimpinya. Ibunya yang berkali-kali menelepon lewat ponselnya ia abaikan. Dia sangat penasaran dan sangat bersemangat mengerjakan apa yang sedang ia lakukan. Tumpukan album selesai, ia jengkel dan berteriak lagi. Untung ibunya belum pulang. Karena lelah akhirnya dia menuju dapur, minum, kembali ke kamar mengambil ponsel, keluar menuju ruang tengah dimana ada sofa besar yang empuk di sana. Dengan malas ia menyalakan TV dan iseng mengecek ponselnya. 23 missed call dari ibunya yang membuatnya kaget dan langsung menelepon. Ibunya lega setelah ia menelepon dan mengingatkan untuk makan dan tidur.

Meski itu sulit akhirnya Nio mengiyakan permintaan ibunya. Ia membuat nasi goreng dan memakannya di depan televisi. Sehabis mencuci piring yang ia pakai, ia kembali ke depan televisi. Menyaksikan acara yang sejak dulu tidak pernah ia tonton. “Tidak mendidik” jawabnya selalu. Beberapa menit menonton, matanya lelah. Dan tak berapa lama Nio pun tertidur, lelap di karpet depan televisi, dengan ponsel didekat kepalanya. Beberapa saat setelah ia terlelap, ponselnya berbunyi lagi, ada telepon. Sebuah panggilan tertera di layar ponselnya, ada sebuah nama di sana. Amwa.

Tidak ada komentar: